
"Jangan menatapnya terlalu lama" Satu peringatan dari Luis membuat Sherpa berdecih kesal. Beralih menatap mengejek pada Luis dan....Lucas. Lalu melihat ke arah Lupin. Sebuah sinar meluncur dari tangan Sherpa membuat Lupin tersungkur. Jia yang bermaksud membantu pun ikut terjatuh ketika Sherpa mencekik leher wanita itu.
"****** tidak tahu diri" Desis Sherpa. Gara-gara Jialah dulu Bibinya menderita.
"Kau menyebutku ******. Lalu dia apa? Dia bahkan melayani enam pria sekaligus termasuk kau!" Jia berucap pedas menatap benci ke arah Ara. Ucapan Jia jelas membuat semua marah.
"Eehh kalau ngomong yang bener. Bagus kalau kami bisa menidurinya....la ini pegang saja harus nunggu surat perintah turun" Hans berucap santai.
"Evander Hans!" Luis meraung mendengar ucapan frontral dari dokter tengil itu.
"La...memang salah ya ucapanku" Hans membuat muka tidak bersalah.
"Berisik!" Lupin berteriak kesal. Detik berikutnya dia mengubah dirinya menjadi seorang monster mengerikan. Berukuran tinggi lima meter. Dengan wajah mengerikan khas ras Iblis. Mata merah. Gigi tajam. Mulut lebar. Dengan kuku yang tajam dan juga panjang.
"Huweeekk, ini yang sering bercinta denganmu" Kembali Hans melontarkan sebuah ledekan pada Jia. Yang langsung merengut kesal. Namun kemudian meringis lagi karena Sherpa belum melepaskan cekikannya dari lehernya.
"Hans..." Yoon memperingatkan. Sejurus kemudian mereka berlima kembali berkonsentrasi. Sementara Sherpa terus melompat kesana kemari. Menghindari serangan Lupin raksasa.
"Adduuuhhh! Turunkan aku makhluk jelek!" Ara berteriak ketika Lupin berhasil menangkapnya. Sherpa langsung menyerang Lupin. Namun serangannya sama sekali tidak berpengaruh apa-apa. Yang terjadi selanjutnya malah Sherpa yang ikut terkapar di tanah. Setelah Lupin berhasil memukul dada pria ular yang tengah lengah. Sherpa seketika mengumpat marah.
"Aaarrgghhhh" Ara berteriak ketika Lupin mengeratkan cengkeramannya pada Ara. Wanita itu lemas seketika. Satu serangan kembali Lupin berikan pada Sherpa. Membuat pria itu ikut tidak berdaya. Ketika semua tampak sudah tidak bisa apa-apa. Lupin merubah kembali wujudnya. Menahan tubuh Ara yang sudah lemas. Dia perlahan menyibak rambut Ara yang menutupi leher istri Luis.
"Kalian lihatlah. Bagaimana aku akan menghisap darah berharga darinya dan saksikanlah aku yang akan menjadi makhluk terkuat di empat dunia" Sepasang taring siap menikam leher Ara. Ketika satu suara datang dari Luis.
"Bermimpilah untuk itu. Sekarang!" Kelimanya langsung meledakkan energi dalam masing-masing. Dan kekangan itu terlepas seketika. Luis bergerak cepat. Menyambar tubuh Ara. Membawanya menjauh dari Lupin. Sedang yang lain langsung menghadang pria itu. Yang wajahnya langsung mengeras menahan amarah. Satu langkah lagi dan dunia akan jadi miliknya. Sial! Marah pria itu. Dia gagal kali ini. Terlebih melihat Luis dan yang lainnya mampu melepas jerat diagram sihir miliknya.
__ADS_1
Serangan bertubi-tubi segera datang dari keempat petinggi klan vampir itu.
"Kau pikir kami bodoh? Tidak tahu cara melepaskan diri dari diagram sialan ini!" Lucas melepaskan sebuah bola api. Membuat diagram sihir itu hancur. Melihat itu Lupin kembali mengubah dirinya menjadi raksasa.
"Ya ampun, dia suka sekali jadi makhluk jelek seperti ini. Makhluk peniru. Tirulah wajah kami yang tampan ini" Teriakan Hans membuat kuping Lupin sakit. Hingga mengejar menyerang Hans. Pria itu sigap menghindar ke sana ke sini. Sambil sesekali melemparkan serangan pada Lupin.
"Ara....kau tidak apa-apa?" Luis bertanya pada Ara yang berada dalam pelukannya. Menepuk pelan wajah istrinya. Hingga mata itu perlahan terbuka. Seulas senyum terbit di bibir Ara ketika melihat Luis yang memeluknya. Sebuah tarikan nafas penuh kelegaan terdengar dari bibir Luis.
Perlahan Ara berdiri. Menatap berkeliling. Melihat Hans yang seolah tengah bermain dengan Lupin. Kurang kerjaan sekali sih dia. Pikir Ara. Padahal yang Hans lakukan adalah mencoba mengalihkan perhatian Lupin. Saat yang lain menyusun rencana untuk merubuhkan makhluk lima meter itu.
"Dia hanya bisa dilumpuhkan dengan pedangmu. Tapi efek untuk dunia bawah akan kurang baik" Aiden berucap.
Sejenak menatap Luis. Blue Swordnya mengandung sedikit unsur Blue Fire. Jika dia menggunakan pedangnya dengan kekuatan penuh. Cahayanya akan sangat membahayakan kehidupan dunia bawah. Yang terbiasa dinaungi kegelapan.
Tiga orang itu mengangguk paham. Juga Hans yang masih melompat ke sana ke sini. Langsung berteriak paham.
"Kau kali ini menurutlah padanya" Luis berucap penuh kode. Menatap pada Sherpa yang sudah berdiri di belakang Ara. Istri Luis itu lantas berbalik. Menatap canggung pada Sherpa.
"Hanya karena terpaksa, aku menitipkannya kepadamu!" Ucapan Luis penuh ancaman dan intimidasi. Sherpa langsung mendengus kesal mendengar hal ini. Jika saja dia tidak mengkhawatirkan Ara. Sherpa lebih memilih untuk pergi ke selatan. Namun laporan Zhang mengatakan kalau Rakuten terluka dan Ara dalam bahaya. Membuat Sherpa menunda sejenak perjalanannya.
"Come" Sherpa mengulurkan tangannya. Begitu Luis membuka sayap hitamnya dan melesat naik ke angkasa gelap dunia bawah. Namun Ara hanya berlalu tanpa kata.
Di empat sisi lainnya. Semua tengah bersiap membentuk sebuah kubah pelindung. Ketika keempatnya mulai mengerahkan energi dalam mereka. Sebuah kubah cahaya berwarna putih perlahan menyebar. Menyelubungi tempat itu dengan cakupan hampir dua kali lapangan bola. Meski itu diperkirakan belum cukup untuk menampung ledakan Blue Sword milik Luis.
"Kau pikir bisa menghabisiku?" Lupin bertanya. Luis harus memastikan kalau kubah pelindungnya sudah sempurna.
__ADS_1
"Kenapa? Masih berpikir bisa lolos dariku?" Luis sengaja mengulur waktu.
Lupin menggeram marah. "Delapan puluh persen", Lucas memberi laporan.
"Dendammu salah alamat. Jika kau berpikir rakyatmu habis dibantai oleh ras Iblis. Rakyatmu habis dibantai oleh dirimu sendiri, asal kau tahu" Luis mulai membuka telapak tangannya. Dan sebentuk pedang berwarna biru cemerlang langsung berada di tangan Luis. Bilahnya terlihat sangat tajam. Dengan sinar kebiruan yang menyelimutinya.
"Kau..." Lupin mundur ketakutan. Dia tahu jelas kemampuan pedang milik Luis. Tidak ada makhluk manapun yang sanggup menahan serangan Blue Sword kecuali saudaranya sendiri Black Sword.
"Kau sudah cukup banyak membuat kesalahan. Berbuat kejahatan. Kau membuat hubungan dua bangsa ini dalam situasi buruk beberapa waktu ini. Padahal semua bukan kesalahan kami. Tapi kesalahanmu sendiri. Jadi terimalah kematianmu" Luis mengangkat pedangnya tinggi. Begitu Lucas melapor. "Semua siap". Lupin masih berusaha lari. Namun satu tangan Luis yang bebas segera terulur dan sebuah rantai panjang langsung terbentuk. Mengekang tubuh Lupin. Membuat makhluk itu tidak bisa bergerak.
"Crashh"......."Arrgggghhhhhh"
Satu sabetan Blue Sword diikuti teriakan Lupin. Juga cahaya berwarna biru terang langsung berpendar. Menyebar dengan cepat. Diiringi gelombang kekuatan yang begitu besar. Sesaat kubah pelindung itu bergetar. Seolah tidak kuat menahan ledakan dari Blue Sword milik Luis.
Ara menutup matanya rapat-rapat. Dengan tubuh hampir terhempas. Jika saja Sherpa tidak memeluknya. Dan membuat pelindung ekstra bagi keduanya. Hingga beberapa waktu, baru cahaya biru itu perlahan berkurang kekuatannya. Hingga akhirnya benar-benar menghilang. Sherpa masih memeluk Ara. Sebab dia masih merasakan kekuatan yang cukup kuat dari pedang milik itu. Hingga satu tarikan membuat Sherpa melerai pelukannya dari Ara.
"Berani kau menyentuhnya?" Desis Luis dan detik berikutnya pria ular sudah terlempar dan jatuh di tanah.
"Kau ini benar-benar tidak tahu cara menempatkan rasa cemburumu!" Umpat Sherpa. Berusaha berdiri sambil memegangi dadanya. Detik berikutnya dua pria itu sudah saling berhadapan dengan sikap menyerang masing-masing.
"Aku pikir memang duel kita saat itu belum selesai"
"Kalau begitu mari selesaikan semuanya" Balas Luis tanpa gentar sedikitpun.
*****
__ADS_1