
Ara berjalan perlahan, menyusuri taman yang ditumbuhi berbagai tanaman. Juga bunga berbagai warna. Dia teringat pada Hellas yang terlihat begitu mencintai istrinya.
"Kenapa aku tidak bisa mengingat perasaanku pada Luis" Gumamnya pelan. Ara tahu benar kalau Luis sangat mencintainya. Tapi dia? Mengatakan kalimat sakral itu terasa sulit baginya.
"Terkadang rasa cinta tidak harus diungkapkan dengan kata-kata. Tapi dengan tindakan"
Satu ucapan dari Hellas cukup menenangkan Ara. Tapi rasanya masih ada yang kurang. Seperti wanita yang suka bila ada pria yang mengucapkan kata "aku mencintaimu". Ara pikir para pria juga akan suka mendengarnya. Hah, Ara menarik nafasnya pelan. Hingga kemudian langkahnya terhenti.
Wanita itu berhenti ketika dia menyadari sedang berdiri di bawah pohon bunga wisteria. Pohon itu tumbuh begitu besar. Dengan bunga yang menjuntai berwarna ungu dan pink. Ara terpana seketika. Seolah terhipnotis. Ara berjalan mendekati pohon itu. Semakin dekat, Ara merasakan sesuatu yang berdesir di hatinya. Seolah dia begitu dekat dengan pohon itu. Tangannya perlahan menyentuh batang pohon itu. Juga beberapa tangkai bunga yang jatuh di atas kepalanya. Sebuah ingatan tiba-tiba menyeruak masuk ke benaknya.
Seolah pohon itu menghisap Ara kembali ke masa lalu. Ara bisa melihat dirinya dan Luis yang tengah duduk dibawah pohon itu.
"Jadi pohon ini...kami pernah berada di sini" Ara bergumam pelan. Matanya berkaca-kaca. Menatap dirinya dan Luis di masa lalu yang saat itu saling tertawa. Terlihat begitu bahagia. Hingga kemudian sebuah ucapan terlontar dari bibirnya.
"Aku mencintaimu, Luis Alexander Verona. Selamanya"
Ara menangis mendengar ucapannya sendiri. Perlahan berbalik. Lalu menatap pohon wisteria itu.
"Kau mengingat kami. Kau mengingatku"
Ara berucap pada pohon besar itu. Hingga tiba-tiba angin berhembus lembut. Seolah menjawab pertanyaan Ara. Bunga wisteria itu bergoyang ketika angin berhembus. Sangat cantik.
"Terima kasih. Terima kasih sudah menyimpan kenangan kami. Terima kasih sudah mengenaliku. Terima kasih sudah menunjukkan jalan padaku" Ara memeluk pohon itu.
Hingga satu suara, membuat Ara menoleh.
"Kau benar-benar membuatku hampir gila!" Maki suara. Tapi bukannya manyun seperti biasanya. Ara malah tersenyum. Melihat wajah panik Luis. Yang berjalan tergesa-gesa menuju ke arahnya.
"Ke mana saja kau? Kau tahu kami begitu cemas saat melihatmu tidak ada di rumah. Lucas sampai mengecek penjara Evelyn. Takut dia kabur lalu mencelakaimu...mmmppphhttt...." Luis melotot ketika Ara mencium bibirnya tiba-tiba.
Sebuah ciuman penuh kerinduan. Ciuman yang sama dengan ciuman Ara di masa lalu.
"Kau ini cerewet sekali" Ara berucap setelah menyudahi ciumannya. Dengan tangannya yang melingkar di leher kokoh Luis.
"Kau kenapa?" Luis heran dengan sikap Ara. Dia merasa Ara yang sekarang sedikit berbeda dengan Ara yang tadi pagi.
"Aku mencintaimu, Luis Alexander Verona. Selamanya"
__ADS_1
Ucapan Ara sama persis dengan kejadian yang tengah terputar di hadapan keduanya. Meski Luis tidak dapat melihatnya. Mata Ara berkaca-kaca. Saat mengucapkan kalimat itu.
Luis sesaat terdiam. Sedikit shock dengan apa yang baru saja di dengarnya. Namun tak lama kemudian. Bibir itu membentuk sebuah lengkungan. Senyum bahagia yang Luis rasakan.
"Aku juga mencintaimu, Arabella Sofia Verona. Selamanya" Balas Luis. Sesaat kemudian dua bibir itu kembali berpaut. Menyalurkan rasa cinta yang begitu besar di hati masing-masing.
Angin berhembus lembut. Menggoyangkan jutaan tangkai bunga wisteria yang seolah bergoyang. Menyanyikan simponi lagu cinta untuk pasangan yang baru saja menemukan cinta mereka kembali.
***
"Kenapa kau malah melamun?" Hans bertanya. Kebetulan sekali dokter tengil itu yang datang. Dia memang sedang ingin bertanya sesuatu pada Hans.
"Bagaimana hubunganmu dengan Ailee?" Luis malah bertanya soal lain.
"Baik. Sejauh ini seperti itulah. Memang dia sedikit shock saat tahu siapa aku juga Erika. Tapi perlahan dia mulai mencoba menerimanya. Yang jelas kami berusaha menjalani dulu hubungan ini" Jelas Hans panjang lebar. Yang langsung tidak didengar oleh Luis.
"Kau ini sebenarnya mau bertanya soal apa?" Todong Hans. Dokter itu tahu, ada kegundahan di hati Luis.
"Ini soal Ara" Luis menjawab singkat.
"Apa yang ingin kau tahu?" Raut wajah Hans berubah serius mendengar pertanyaan Luis.
"Itu benar. Dan menurut analisaku. Itu tidak akan lama. Dia tampak baik-baik saja di luar tapi tidak dengan organ dalamnya. Organ dalamnya mengalami penyusutan secara perlahan. Dan jika sampai waktunya. Penyusutan itu akan menghentikan semua organ dalamnya secara permanen. Dengan kata lain dia akan meninggal"
Penjelasan Hans benar-benar seperti pisau yang menusuk jantungnya. Sakit rasanya membayangkan perpisahan itu.
"Sejak awal kau tahu kan resiko mencintai seorang manusia"
"Memangnya kau tidak" Luis menyerang balik perkataan Hans.
"Dalam hal ini kita punya satu solusi"
"Mengubah mereka menjadi seperti kita" Luis memotong ucapan Hans cepat.
"Membuat mereka mengikuti kita atau kita yang mengikuti mereka. Menunggu sampai reinkarnasi mempertemukan kalian kembali"
"Aku tidak sabar dengan yang namanya reinkarnasi. Banyak kejadian. Mereka baru bertemu setelah berapa kehidupan yang mereka lalui. Terlalu lama"
__ADS_1
"Lalu kau akan membuatnya menjadi dirimu?" Hans bertanya.
"Entahlah"
"Apapun itu bicarakan semuanya dengan istrimu. Benar kalian sudah menikah. Apalagi saat ini kalian sudah menyatu sepenuhnya. Baik hati, jiwa dan raga. Tapi tetap saja dia punya hak untuk memutuskan soal hidupnya"
Tumben Hans bicaranya lempeng. Lagi kena korsleting listrik kali ya otaknya.
Mendengar penuturan Hans, Luis terdiam.
"Pertimbangkan semuanya. Bicarakan baik-baik dengan Ara. Lalu ambillah keputusan yang tepat" Saran Hans berlalu dari hadapan Luis.
Meninggalkan pria itu dengan jutaan pertimbangan di kepalanya.
Hari berganti, namun Luis belum juga bisa mengutarakan apa yang ada di kepalanya. Meski selama itu hubungan keduanya baik-baik saja.
Hingga tiba-tiba disebuah malam. Sesuatu terjadi. Luis yang tanpa sengaja memasuki pikiran Ara. Menemukan sebuah ingatan istrinya. Bagi Ara mungkin itu bukanlah hal penting. Tapi bagi Luis itu sebuah petunjuk yang sangat berarti.
Sampai malam itu juga. Luis langsung kembali ke Black Castle. Berdiri dengan wajah marahnya di depan kamar Krum.
"Krum! Keluar sekarang!" Teriak Luis.
Dadanya naik turun menahan emosi di hatinya. Lama, tidak ada jawaban. Mungkin dia tidak ada di dalam. Pikir Luis yang mulai kehilangan kesabarannya.
"Krum Gabriel Verona!" Lagi Luis berteriak. Dan kali ini, dilihatnya Krum yang keluar dari kamarnya. Begitu pria itu berada di depannya. Luis langsung menghimpit tubuh Krum.
"Apa ini?" Krum bertanya. Tidak terima dia diperlakukan seperti ini.
"Jangan banyak bicara! Sekarang jawab pertanyaanku. Apa kau ada hubungannya dengan penyerangan keluarga Ara dan hilangnya ibuku?" Todong Luis. Yang seketika membuat Krum membulatkan matanya.
"Apa maksudmu? Aku tidak paham?"
"Apa kau yang sudah membunuh keluarga dan ibuku!" Tegas Luis. Yang kali ini membuat Krum terkejut bukan main.
Pria itu tahu, kejadian malam itu pasti membuat siapa saja akan salah paham padanya.
"*Dan akhirnya benar-benar terjadi. Kalian salah paham padaku" Batin Kru*m. Menatap pada Luis sejak tadi siap menyerangnya. Perang saudara itu benar-benar sudah di depan mata.
__ADS_1
****