Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Dunia Ilusi


__ADS_3

Sementara itu di wilayah utara, Luis dan yang lainnya sedang berusaha menumpas pemberontakan yang dilakukan oleh klan minoritas wilayah itu. Setelah beberapa kali Yoon yang diutus untuk bernegosiasi dengan mereka, menemui kegagalan. Mereka bersikeras untuk minta memisahkan diri dari kekangan pusat. Padahal selama ini klan itu hidup dari dana yang diberikan oleh pusat.


"Dasar makhluk tidak tahu diri!" Maki Lucas. Menebas kepala seorang vampir dengan pedangnya. Dia geram. Maunya apa sih? Sudah enak-enak hidup ditanggung pusat tapi masih saja ngelunjak.


"Mereka pikir bisa menghidupi diri mereka sendiri" Aiden menyahut. Sama, setelah menghabisi beberapa vampir yang menyerang mereka.


"Cih, berburu saja tidak becus. Sok-sokan mau hidup mandiri. Ada juga kalian mati perlahan" Lagi Lucas memaki.


Di atas sana, Luis tampak melayang berhadapan langsung dengan pemimpin pemberontakan itu.


"Sungguh sangat beruntung sekali, aku bisa berhadapan langsung dengan Yang Mulia Raja Luis" Ucap pemimpin pemberontakan itu yang bernama Hago.


"Jangan basa basi denganku" Luis berdecih kesal. Dia tahu perkataan Hago hanyalah sindiran untuknya.


"Kau memang seperti yang mereka bicarakan. Tidak suka basa-basi"


"Kalau kau sudah tahu. Tetapkan apa pilihanmu. Tetap pada pilihanmu atau kembali tunduk padaku!" Tegas Luis.


"Tunduk padamu? Ciihhh, tidak sudi aku tunduk padamu. Raja yang memilih ratu dari kalangan manusia. Kau mempermalukan kami klan Vampir murni. Ahh, aku lupa kalau kau sendiri adalah darah campuran"


"Brengsek!" Luis menyerang dan sebuah ledakan terdengar di pekatnya langit malam.


"Kenapa dengannya akhir-akhir ini?" Yoon bertanya.


"Dia begitu sensitif dan mudah marah" Lucas menyahut. Sedang Hans hanya diam. Dia tahu jelas penyebab kegundahan hati Luis.


"Kalian juga akan bersikap sama jika berada di posisi Luis" Batin Hans menatap gemuruh di langit di atas mereka. Di mana Luis dan Hago saling serang. Menggunakan kekuatan sihir masing-masing.


Sementara Lucas dan yang lainnya, sudah bersantai. Sebab pasukan pemberontak sebagian besar berhasil dilumpuhkan. Tinggal beberapa dan bawahan Lucas yang akan membereskan mereka.


"Aku suka cara Luis" Keempatnya menatap dua cahaya yang berpendar saling menyambar satu sama lain.


"Dia suka berhadapan langsung dengan lawannya. Turun langsung sendiri menghadapi sumber masalahnya" Tambah Aiden.


"Sama denganmu" Hans merangkul Lucas. Yang dirangkul hanya menatap Hans penuh arti.


"Benarkah?" Lucas menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Hans.


"Ya, gaya kepemimpinan kalian hampir sama" Aiden mengakui kalau Lucas memang seperti kopian Luis. Ada banyak hal yang mirip dalam dua orang itu.


"Aku jadi teringat ucapan Olivia" Yoon menambahkan.


Keempatnya sudah duduk di sebuah batu besar di tengah mayat vampir yang bergelimpangan.


"Tapi tidak mungkinkan kami saudara" Kilah Lucas.


"Itu tidak pasti. Kalian ingat Hellas Verona sendiri yang membawamu pulang ke Black Castle. Sama seperti Luis dulu, Hellas sendiri yang membawanya"

__ADS_1


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanyalah anak terlantar yang beruntung diadopsi oleh ayah Luis" Lucas menepis semua anggapan dari temannya itu.


Mereka semua memang bernasib hampir sama. Dibawa pulang ke Black Castle lalu mulai dididik dengan keras. Meski begitu mereka merasa beruntung. Sebab kebanyakan dari mereka dibebaskan dari kurungan manusia yang menangkap mereka. Lucas dan yang lainnya darah murni sejak lahir. Jadi sejak mereka kecil sudah terlihat jika mereka adalah vampir.


Gedebum!"


Suara tubuh Hago yang jatuh dari ketinggian. Menarik perhatian Lucas dan yang lainnya. Bersamaan dengan Luis juga turun. Langsung menekan dadanya.


"Kau terluka?" Hans bertanya.


"Ara...aku merasa dia dalam bahaya. Itu membuatku lengah. Dan dia berhasil melukaiku saat itu" Luis berusaha berdiri.


"Kenapa kau tidak membakarnya jadi abu" Yoon bertanya kesal. Menatap mayat Hago yang mati karena jantungnya dihancurkan oleh Luis.


"Dia akan dipajang di aula selatan. Sebagai peringatan pada mereka yang mencoba memberontak pada kita"


"Ide bagus" Puji Lucas. Tepat saat itu panggilan dari Asha masuk ke pikiran Lucas.


"Ada apa?" Lucas sejenak terdiam. Sejurus kemudian kelimanya sudah menghilang dalam kegelapan malam. Muncul di rumah sakit, di mana Paul di rawat. Dengan Erika dan Asha terlihat panik.


Seketika jantung Luis kembali terasa diremat. Sakit, seolah hal yang sama tengah dirasakan oleh belahan jiwanya, Ara. Ketakutan dan kecemasan semakin menguasai hatinya.


"Ara...apa yang terjadi padanya?" Melihat kondisi Paul yang terluka cukup parah. Bisa dipastikan kalau hal buruk terjadi pada Ara. Paul belum sadarkan diri.


"Seorang vampir masuk ke rumah kami. Dia yang punya aura hampir sama denganmu Luis" Olivia melapor.


"Tunjukkan wajahnya pada kami" Seketika pikiran Olivia langsung bisa dibaca oleh kelimanya.


"Aku menemukan tempat yang sering dikunjungi Krum di dunia fana" Lucas melapor.


"Tunjukkan padaku" Luis langsung menghilang lalu muncul di depan rumah Rin, bersama yang lainnya.


"Kau yakin dia tinggal di sini?" Yoon bertanya tidak percaya pada Lucas. Aura Krum memang terasa kuat di tempat itu. Tapi Krum tidak ada di sana. Namun terlihat jelas kalau rumah itu dihuni oleh manusia.


"Dia hidup dengan manusia? Yang benar saja?" Kali ini Hans yang berkomentar. Jelas itu bukanlah sifat Krum.


"Mungkin dia adalah buruan Krum" Bisik Aiden. Dan semua mengangguk menyetujui pendapat Aiden.


"Aku akan mencoba masuk dan bertanya" Lucas mengajukan diri.


"Biarkan Hans saja. Kau terlalu menakutkan" Luis memberi perintah. Lucas manyun seketika.


"Wajahku imut Luis. Tidak menakutkan" Sangkal Lucas.


"Kau imut kalau sedang bersama Asha. Lain tidak!" Tegas Yoon. Lucas semakin manyun dibuatnya.


Rin yang baru saja selesai menyiapkan makanan. Mengerutkan dahinya. Ketika mendengar ketukan di pintu rumahnya. Sedikit curiga. Sebab Krum tidak pernah mengetuk pintu. Karena ini rumahnya. Ya, Krum langsung masuk saja.

__ADS_1


"Siapa ya?" Gumam Rin.


"Selamat siang boleh aku bertamu? Aku bukan orang jahat" Hans menjawab pertanyaan di kepala Rin.


Yang lain langsung terpingkal mendengar ucapan Hans.


"Lalu kalau kau tidak boleh bertamu kau mau apa?" Lucas bertanya.


"Ya, akan aku dobrak pintunya" Balas Hans.


"Kalau begitu buat apa kau minta izin?" Giliran Aiden yang bertanya.


"Basa basi" Sahut Hans santai.


Luis mengumpat kesal. Dia cemas bukan kepalang. Anak buahnya malah bermain-main.


"Sorry Luis. Sorry" Bersamaan dengan itu pintu rumah Krum terbuka. Menampilkan Rin yang seketika membuat kelimanya hampir berteriak tidak percaya.


"Krum menyembunyikan gadis manusia di bawah umur"


"Wah ini parah! Asli lebih parah. Tidak kusangka dia punya simpanan selezat ini" Hans bergumam dalam pikirannya.


"Siapa ya? Ada yang bisa kubantu?" Tanya Rin ramah. Menatap wajah tampan Hans.


"Eemmm, aku kebetulan lewat. Tidak tahu kalau ada rumah di sini. Apa aku boleh masuk?" Hans beralasan.


"Tidak ada aura Ara di sini. Krum tidak membawanya ke sini" Luis berucap setelah menggunakan pikirannya untuk mencari keberadaan Ara.


"Aku pikir juga begitu. Tapi Hans sudah bilang mau bertamu" Yoon menyahut sambil menatap sekelilingnya.


"Dia datang!"


***


Ara terbangun di sebuah tempat yang terasa asing baginya. Sebuah kebun bunga yang terhampar di hadapannya. Sangat luas, sejauh mata memandang. Dia hanya melihat bunga-bunga yang bermekaran. Hingga Ara tidak tahu di mana ujungnya.


"Apa aku sudah mati?" Gumamnya pelan.


"Kau sudah bangun?" Sebuah suara terdengar bertanya. Ara menoleh. Dilihatnya seorang wanita cantik berada di depannya.


"Malaikat pencabut nyawa ternyata sangat cantik" Bisiknya lagi. Mendengar pikiran Ara, wanita itu tersenyum.


"Aku bukan malaikat pencabut nyawa. Lagi pula kau belum mati begitupun aku"


Ara terdiam seketika. Bertanya-tanya di mana dirinya berada sekarang.


"Kau berada di dunia ilusi sekarang. Dunia yang ada diantara empat dunia"

__ADS_1


"Ha?" Ara melongo. Ada ya dunia seperti itu.


***


__ADS_2