Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
The Duel 2


__ADS_3

Cahaya biru berpendar dari dahi Ara dan Lucas. Sesaat setelah darah Ara tertelan oleh Lucas. Aiden sontak berdiri. Menyadari jika hal besar sudah terjadi.


"Tidak mungkin jika Lucas adalah...."


"Braaakkkkkk!!"


Suara benturan kembali terdengar. Aiden dan yang lainnya langsung menatap ke atas. Di mata kepala patung besar di sisi kiri mereka telah menggelinding di tanah. Menjadi korban dari benturan dua kekuatan yang sama besar.


Luis menyeringai, menatap tajam pada Krum. Blue Sword sudah berada di tangannya. Krum pun tidak kalah. Dia mengeratkan pegangannya pada Black Swordnya. Dan lagi-lagi suara ledakan yang memekakkan telinga terdengar di tengah sunyinya malam.


"Tidak adakah yang bisa kita lakukan untuk menghentikan mereka?" Hans bertanya cemas. Melihat dua saudara itu terus saja mengayunkan pedang masing-masing ke arah lawan. Gemuruh mulai terdengar. Langit berkelap kelip saat dua pedang itu bertemu untuk ke sekian kalinya.


"Maafkan aku, Aira, Nereida. Karena keegoisanku kini dua putraku saling berduel. Dan satu putraku mungkin akan jadi korbannya" Hellas menatap sendu pada langit malam yang terus saja menunjukkan amarahnya.


Padahal Hellas bisa saja menghentikan pertarungan Luis dan Krum. Tapi tidak tahu kenapa, pria itu hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa.


"Bagaimana pun kau mencoba untuk menghentikannya. Hal itu akan tetap terjadi cepat atau lambat. Ramalan itu harus ditepati dan akan tetap terjadi"


Hellas menitikkan air matanya. Ayah mana yang bisa melihat dua putranya bertarung hanya karena salah paham yang mungkin saja bisa diselesaikan secara baik-baik. Jangan bilang dia tidak merasakan sakit di hatinya. Sungguh dia merasakan sakit yang teramat sangat dihatinya.


"Tapi jangan khawatir. Di saat akhir akan ada keajaiban bagi semua. Tidak semua air mata akan berakhir duka"


Di sisi lain. Hampir semua orang menatap ke atas langit malam. Di mana langit bergemuruh seolah hujan deras akan mendera tidak lama lagi.


"Lindungi suamiku." Doa Asha.


"Lindungi Kak Yoon dan yang lainnya." Doa Erika.


"Aku mohon lindungi Kak Hans." Ailee berucap dalam hatinya.

__ADS_1


"Aku mohon jangan biarkan Kak Krum membuat kesalahan lagi." Rin berdoa dengan dua tangan mengatup di depan dadanya.


"Sudah cukup main-mainnya. Mari selesaikan semuanya sekarang!" Luis berucap marah setelah meludahkan darah akibat luka dalam yang dia derita.


Krum tersenyum puas mendengar ucapan Luis. Perlahan angin berhembus. Semakin lama semakin kencang. Seiring Blue Sword dan Black Sword melayang di hadapan tuan masing-masing. Sementara sang tuan tengah merapal mantra sihir kuno. Untuk menghadirkan Blue Fire dan Black Fire


"Tidak! Mereka benar-benar akan mengakhiri semuanya sekarang." Yoon berucap cemas Melihat sebuah bola api berwarna biru dan hitam mulai terbentuk. Lalu menyelimuti pedang masing-masing.


Lucas yang sudah bisa bangun, menatap horor ke arah atas.


"Apa kau tidak mau membalas dendam, atas kematian kedua orang tuamu?" Luis bertanya ke arah Ara. Yang langsung berdiri. Krum menyeringai.


"Kau licik Luis. Kau memanggil bantuan."


"Kali ini aku akan melakukan apapun untuk menang."


"Ara jangan. Itu berbahaya." Yoon dan Aiden mencegah Ara. Namun wanita itu begitu marah begitu tahu kalau Krumlah yang sudah melenyapkan nyawa kedua orang tua juga keluarganya.


"Ini gawat!" Aiden menatap cemas pada ketiga temannya. Di depan mereka, Ara perlahan mengangkat tangan kirinya. Di mana entah dari mana, tiba-tiba sebuah busur panah muncul di sana. Busur panah perak. Ara mengangkat tangan kanannya. Dan sebilah anak panah perak terbentuk di sana. Di atas sana dua buah kekuatan yang besar sudah siap untuk saling menghantam. Menunjukkan siapa yang paling kuat di antara keduanya.


"Luis dan Krum sama kuat. Tapi jika Ara ikut campur. Maka bisa dipastikan jika Krum yang akan habis." Aiden berucap. Membuat mereka semua saling pandang. Lucas merasakan sesuatu yang terus berbisik di telinganya.


"Ara...hentikan! Ara dengarkan aku dulu. Ara...!" Yoon berusaha masuk ke pikiran Ara. Tapi wanita itu sama sekali tidak menghiraukannya. Ara tengah bersiap membidik Krum tepat dijantungnya. Bisa dibayangkan bagaimana mencekamnya suasana malam itu. Petir saling menyambar. Dengan angin berhembus sangat kencang. Seolah badai besar tengah terjadi.


"Kita harus melakukan sesuatu!" Hans berteriak. Di atas sana. Luis dan Krum sudah mulai mengarahkan senjata terakhir mereka ke arah lawan masing-masing. Dan suara menderu terdengar begitu keras. Ketika dua senjata itu bersiap untuk saling menerjang.


"Tindakanmu akan menyatukan dua dunia yang telah lama saling bermusuhan. Keputusanmu akan mengakhiri perang saudara yang selama ini terjadi"


Sebuah mimpi kembali muncul di pikiran Lucas. Mimpi yang ia perlihatkan pada Aiden. Dia baru sadar jika inilah mimpi dia lihat itu.

__ADS_1


"Selamatkan hidup Lucas. Buatlah dia bahagia dalam hidupnya. Juga berguna bagi orang lain"


Lucas melangkahkan kakinya. Mendekat ke arah Ara.


"Lucas apa yang kau lakukan? Menjauh dari sana. Itu berbahaya!" Hans berteriak. Tapi Lucas tidak menghiraukannya.


Lucas menatap ke arah Ara. Dia atas sana dua kekuatan itu hampir berbenturan. Lucas dengan cepat melayang naik. Menempatkan diri di antara Blue Fire dan Black Fire yang akan berbenturan. Sontak Aiden dan yang lainnya berteriak histeris. Sama dengan Luis dan Krum yang terkejut dengan tindakan Lucas.


"Sekarang aku tahu tujuan hidupku. Terima kasih Ara, kau memberiku kehidupan. Dan kini waktunya aku memenuhi doamu. Menjadi berguna bagi orang lain."


Air mata mengalir di pipi Lucas. Bersamaan dengan mata pria itu yang mulai terpejam.


"Lucas.....!" Semua orang berteriak ketika dua sinar itu menghantam tubuh Lucas. Ara yang belum sempat melepaskan anak panahnya ke arah Krum. Mengubah arah busur panahnya ke arah Lucas. Berusaha membentuk sebuah pelindung untuk mengurangi efek dari dua serangan itu. Namun terlambat.


"Tidak....!" Ara berteriak. Ketika melihat tubuh Lucas seolah menyerap Blue Fire dan Black Fire. Detik berikutnya. Keempat orang itu memuntahkan darah bersamaan. Dengan tubuh Ara langsung ambruk di lantai. Sedang Luis dan Krum berusaha menggapai tubuh Lucas. Yang kini sama sekali tidak bergerak. Wajahnya pucat, namun seulas senyum terukir di sana.


"Lucas bertahanlah!"


"Lucas!"


Luis dan Krum berucap bersamaan. Memangku tubuh Lucas di atas pangkuan mereka berdua.


"Aku senang melihat kalian seperti ini. Tapi maaf, aku tidak lagi bisa bersama kalian...kakak"


****


Brangkar Ara didorong cepat masuk ke ICU, diikuti Hans yang langsung masuk ke sana tanpa kata. Semua jelas merasakan kecemasan luar biasa.


"Maafkan aku...maafkan aku" Luis memukul tembok ICU. Meluapkan rasa marah juga khawatir yang memenuhi dadanya.

__ADS_1


"Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah"


***


__ADS_2