
Wusshhh, suara angin terdengar berhembus. Bukan angin biasa karena tubuh Ara sampai terhuyung ke belakang. Jika saja Hans yang berdiri di belakangnya tidak sigap menangkap tubuh wanita itu. Hodie Ara terbuka,seketika menampilkan wajah cantiknya. Yang langsung menarik perhatian semua makhluk yang ada di sana.
"Ini bahaya!" Desis Aiden. Semua menjadi waspada. Menatap sekeliling dengan tatapan tajam masing-masing.
"Kau membawa camilan rupanya" Seru Lupin. Yang bola matanya langsung berbinar lapar. Menatap penuh minat pada Ara.
"Dia Pure Blood. Darah murni yang sangat ditunggu kedatangannya" Lupin membatin.
Menatap penuh arti pada Jia. Sementara di belakang sana. Hans sudah memberi kode siaga pada pasukan tak kasat matanya. Bagaimanapun, posisi Ara saat ini adalah ratu dari klan Vampir.
Ara sendiri tetap tenang. Berdiri kembali di samping Luis. Yang masih menunjukkan aura kemarahannya karena tindakan ceroboh Ara. Aura dan aroma memang sudah ditekan sampai batas minimum. Tapi dengan jarak sedekat ini. Makhluk manapun akan bisa mencium aroma Ara yang seorang manusia.
"Dia ceroboh sekali" Gumam Lucas yang berusaha berdiri dibantu Asha. Menatap lemah pada Rakuten yang tampak marah.
"Kalian berusaha menggagalkan hukuman mati untuk penjahat ini. Kalian tahu apa akibatnya?" Bentak Rakuten dari tempat duduknya. Seketika sekumpulan prajurit dari dunia bawah langsung mengepung Luis dan yang lainnya.
"Bawa dia kemari!" Perintah Lupin menunjuk pada Ara. Dan Luis langsung menghadang.
"Tidak ada yang boleh menyentuhnya" Luis berucap tajam. Aura kejamnya menguar. Membuat para prajurit itu mundur kembali.
"Kita akan mengurus mereka nanti. Sekarang yang penting adalah hukuman untuk dia harus segera dilaksanakan" Jia memperingatkan. Rakuten langsung memberi kode. Dan si eksekutor kembali bersiap. Sebuah anak panah perak siap dilesatkan dari busurnya. Asha langsung memasang badan untuk Lucas. Sementara Luis langsung menggenggam tangan Ara. Mencegah sang istri bertindak gegabah lagi.
"Tapi Luis..."
"Yoon akan segera datang" Desis Luis. Sebab dia sudah merasakan kedatangan Yoon yang semakin dekat. Tepat ketika anak panah dilesatkan. Yoon muncul dihadapan Lucas dan Asha. Menahan laju anak panak itu. Hingga berhenti dan Yoon langsung membuangnya menjauh. Satu gerakan dan si eksekutor langsung tercekik di tempat.
"Kau....beraninya!" Rakuten menggeram marah. Bersamaan dengan itu. Di belakang sana. Para prajurit yang mengepung Luis langsung berhamburan lalu tergeletak di tanah padang. Tak bangun lagi. Setelah Luis menghantam mereka bersamaan dengan kekuatannya. Luis dan yang lainnya berjalan mendekati Yoon dan Lucas di podium.
"Kau menghukum mati pria yang benar-benar mencintaimu putrimu. Tapi membiarkan hidup penjahat busuk seperti mereka di istanamu!" Yoon berucap membuat yang lain melongo.
__ADS_1
"Kurang ajar. Apa maksudmu? Penjahat itu adalah dia!" Rakuten menunjuk Lucas yang tengah dipaksa Ara untuk meminum darahnya.
"Tidak mau!"
"Sedikit saja!" Ara menggigit ujung telunjuknya. Aroma darah Ara langsung tercium oleh Lucas yang memang sejak dua hari lalu tidak makan sama sekali. Pria itu langsung menghisap jari Ara. Membuat Luis mendelik marah.
"Emergency" Seloroh Hans santai.
"Dia akan tetap kuhukum"
"Terserah!" Lucas menjawab melalui pikirannya. Sesuai kebiasaan Lucas. Pria itu hanya sedikit meminum darah Ara. Namun begitu. Ara tetap merasa lemas. Ketika Lucas mulai berdiri. Giliran Ara yang ditopang oleh Asha. Kedua wanita berada dalam lingkaran yang dibuat oleh Luis dan yang lainnya.
"Kau tidak percaya dengan bukti yang kutunjukkan. Maka dengarkan sendiri dari saksi yang melihat semua kejahatan mereka selama ini" Luis menatap tajam pada Rakuten. Dan sejurus kemudian. Runyu muncul di hadapan mereka. Membuat Lupin dan Jia saling pandang. Panik.
"Sial! Bagaimana dia bisa lolos?" Batin Lupin.
Hingga tatapan marahnya bersirobok dengan mata dingin milik Yoon. Lupin seketika tersadar. Yoonlah yang sudah membebaskan Runyu. Namun saat ini dia hanya bisa diam. Lagipula dia yakin kalau Rakuten tidak akan mempercayai perkataan dari pelayan setia Asha itu.
"Memangnya apa yang dia tahu?" Ledek Lupin. Yang langsung membuat Luis menyeringai. Satu tangannya terangkat tepat di atas kepala Runyu. Dan seperti sebuah layar bioskop. Sederetan gambar dan adegan langsung terputar di angkasa malam dunia bawah. Semua makhluk yang melihat hal itu langsung menutup mulutnya.
"Apa kau tidak keterlaluan memutar video oye-oye di sini?" Hans bertanya. Ketiak pikiran Runyu sedang memutar ingatannya ketika Lupin dan Jia tengah bercinta di ruang kerja perdana menteri dunia bawah itu. Dan sebuah jawaban di dapat dari Aiden.."bodo amat".
Rakuten jelas langsung menunjukkan kemarahannya. Berbalik lalu menatap tajam pada Lupin dan Jia. Dia pikir apa yang diperlihatkan Luis padanya hari itu hanyalah rekayasa dari klan Iblis untuk mengadu domba rasnya. Tapi ketika itu berasal dari Runyu. Rakuten mulai percaya. Apalagi ketika dia melihat satu pikiran dari Runyu. Yang memperlihatkan bagaimana dia disiksa oleh Jia dan Lupin.
"Kalian? Apa itu benar?" Teriak Rakuten marah. Jia jelas gelagapan. Tidak tahu harus menjawab apa. Tapi tidak dengan Lupin. Pria itu terlihat tenang.
"Kalau benar kau mau apa?" Tantang Lupin. Satu tebasan dan Rakuten langsung terpelanting ke belakang dengan sebilah pedang menusuk dadanya.
"Ayah.....!" Asha langsung berteriak dan berlari ke arah sang ayah. Yang langsung memuntahkan darahnya. Hans langsung menyusul Asha begitu Luis memberi perintah.
__ADS_1
"Ayah...bertahanlah" Teriak Asha. Berusaha mendudukkan Rakuten. Air mata Asha tidak terasa mengalir di pipi wanita itu.
"Kau menangis putriku? Kau menangisi pria bodoh sepertiku" Rakuten berucap tidak percaya. Dia pikir hubungannya dengan Asha sangatlah buruk. Hingga tidak berpikir jika putrinya itu masih menyayanginya.
"Diamlah dulu. Minum ini" Hans datang lalu meminumkan sebutir pil berwarna hijau.
"Ini tidak akan membantu" Lirih Rakuten. Dia tahu pedang yang baru saja dicabut Hans sudah melukai energi dalam miliknya. Hans mengatakan setidaknya itu bisa menahan jiwa Rakuten sebentar.
Sementara itu tawa menggelegar langsung terdengar dari Lupin. Yang sudah duduk di singgasana milik Rakuten. Puas. Inilah keinginan Lupin sejak lama. Menduduki tahta kerajaan dunia bawah. Rakuten tersenyum kecut. Menyadari kebodohannya selama ini. Kini Luis dan yang lainnya sudah berdiri di di belakang Rakuten.
"Berapa lama aku menunggu hari ini?" Lupin berucap puas. Tangan kirinya terangkat. Dan dari arah belakangnya muncul satu pasukan. Yang langsung membuat tentara dunia bawah kocar kacir dibuatnya.
"Makhluk maut?" Aiden berdesis. Sementara Rakuten langsung menatap tidak percaya. Orang yang dia percaya selama ini. Ternyata benar-benar seorang pengkhianat.
"Tera" Bisik Ara dari arah belakang.
"Tera kalau cuma satu. La kalau satu batalion bukan Tera namanya" Hans berucap santai pada Ara.
"Tera and the genk" Lucas menyahut. Kekuatannya sudah pulih hampir tujuh puluh persen. Hans langsung bersorak. Setidaknya tugas jenderal akan tetap dipegang Lucas.
"Sepertinya kita mau perang beneran" Ucap Luis lirih. Namun detik berikutnya pria itu menegang. Sesuatu mencekik lehernya. Dan ketika dia melihat ke depan. Dilihatnya Lupin yang terkejut. Dia bermaksud menyerang Ara. Tapi Luis yang terkena dampaknya.
Sedetik kemudian. Lupin menyeringai penuh kemenangan.
"Kau akan mati hari ini. Dan aku akan meminum darahnya" Lirih Lupin yang langsung membuat Luis cemas.
"Sudah kukatakan untuk melepaskan perlindunganmu padaku" Desis Ara kesal.
"Tidak masalah. Karena sejatinya hanya dirimu yang bisa melemahkanku. Sebab itu tetaplah hidup. Agar aku tetap kuat" Bisik Luis. Detik berikutnya pria itu berdiri dengan matanya yang berubah merah. Satu desakan energi dalam miliknya dan Luis berhasil mematahkan serangan Lupin.
__ADS_1
"Hidupmu adalah kekuatanku"
****