
Paul memanggil nama Ara dengan panik ketika tubuh wanita itu tiba-tiba saja ambruk dalam pelukannya.
"Ara...Ara...."
Erika dan Asha sontak ikut panik. Berlari ke arah dua orang yang sudah terduduk di lantai. Dengan Ara dalam pelukan Paul.
"Dia kenapa?" Erika bertanya. Dengan Asha yang segera memeriksa Ara. Wanita itu mengerutkan dahinya. Dia merasakan jika jiwa Ara semakin lama semakin lemah.
Tepat saat itu, Luis dan yang lainnya muncul seperti tiupan angin yang berhembus. Tiba-tiba saja sudah berada di hadapan mereka. Luis langsung mengambil alih tubuh Ara dari pelukan Paul.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya menolongnya" Paul berucap ketika Luis melayangkan tatapan membunuhnya.
"Malah bertengkar. Ini dia kenapa?" Erika bertanya dengan wajah paniknya.
"Kau tahu?" Aiden bertanya pada Hans.
"Tidak ada luka dalam. Atau apapun itu. Ini pasti berhubungan dengan sihir atau mantra apalah itu. Jadi ini bukan bidangku" Hans memberi tempat pada Asha yang langsung menarik dokter itu minggir.
"Jiwanya makin lemah" Asha memberitahu Luis. Yang perlahan memejamkan matanya. Dalam pandangan Luis. Jiwa Ara berubah menjadi serpihan kecil-kecil yang secara perlahan terbang ditiup angin.
"Sihir penghancur jiwa" Gumam pria itu.
Seseorang di seberang sana langsung menarik sudut bibirnya. Cukup salut dengan kemampuan raja Vampir itu.
"Tapi kau sudah terlambat. Jiwanya sudah hampir hancur sepenuhnya" Gumam orang itu.
Dalam sekejab semuanya sudah berada di rumah utama. Dengan Paul sekali yang ikut dibawa ke sana. Bagaimanapun Paul punya kedekatan dengan Ara dan yang lainnya. Jadi mereka memutuskan untuk membawa Paul ke rumah utama. Takut jika ada yang ikut mencelakai pria manusia itu.
"Kita harus menghancurkan sihir penghubungnya dulu. Untuk menghentikan sihir itu terus menghancurkan jiwanya" Lucas berucap setelah dia dan Asha mengobrak abrik perpustakaan Luis. Untuk mencari tahu soal sihir penghancur jiwa.
Sementara Luis tengah memberikan energi dalamnya untuk menghambat kerja sihir itu.
"Sihir penghubungnya...baru menghancurkan sihir utamanya" Asha menambahkan.
"Jiwanya tidak akan semudah itu hancur. Sebab dia dan aku sudah menyatu" Luis berucap lalu mencari sesuatu yang selama ini dicurigainya.
"Kalian bertemu Olivia di sana?" Luis bertanya pada Lucas. Dan pria itu menggeleng.
__ADS_1
"Kau tahu buku itu berpindah tempat. Kami terpaksa menghancurkan pelindung di ruanganmu. Karena buku ini disembunyikan di dalamnya" Asha menyahut.
"Yoon bawa dia ke hadapanku" Perintah Luis. Dan Yoon langsung menghilang tanpa banyak bertanya. Perlahan Luis mendekat ke arah Ara. Satu telunjuknya menyentuh kening sang istri. Dan sebuah tanda terukir di sana seiring Luis yang memejamkan matanya. Tubuh Ara seketika diselimuti cahaya berwarna biru.
"Dia ada dalam perlindungan Blue Fire milikku. Jiwanya tidak akan hancur begitu saja" Luis melangkah keluar dari kamarnya. Meninggalkan Erika dan Asha di sana.
Langkah kaki Luis yang tengah menuruni tangga. Membuat semua orang di ruang tengah, langsung menatap wajah raja Vampir itu. Tampan dan seram dengan aura kemarahan yang berusaha dia tahan agar tidak meledak.
Sebuah teriakan membuat semua orang langsung menatap ke tengah ruangan. Di mana Olivia tengah meronta dalam gumpalan cahaya berwarna hijau. Sihir pengikat milik Yoon.
"Katakan padaku...siapa yang mengirimmu?" Luis bertanya dingin pada Olivia. Paul jelas membulatkan matanya. Ini pertama kalinya dia berada dalam situasi yang sangat tidak masuk akal menurutnya.
"Maksudmu apa?" Olivia bertanya tidak paham. Sebab dia memang tidak paham dengan apa yang terjadi.
"Kau tidak mau bicara?" Luis membuat gerakan mencekik. Dan Olivia langsung meronta. Ketika leher kecilnya dicekik oleh Luis.
"Dia kejam sekali. Itu kan peri kecil yang imut" Bisik Paul yang bersembunyi di balik punggung Hans. Tidak tega dengan keadaan Olivia.
"Kenapa? Ukuran bukan jaminan. Masalahnya si peri imut itu sudah dua kali hampir mencelakai Ara. Bagaimana suaminya tidak marah" Terang Hans yang membuat Paul langsung ber-ooo ria. Dan bergumam "pantas saja".
"Dia tidak paham dengan apa yang sudah dia lakukan" Aiden memberitahu Luis.
Sejurus kemudian, Lucas mengulurkan tangannya. Dan gelang Ara langsung muncul di sana.
"Siapa yang memberikannya kepadamu?" Yoon bertanya tajam. Pria itu masih mengikat Olivia dengan sihirnya.
"Aku tidak tahu" Olivia kembali membuat Luis mengeratkan cekikannya.
"Luis kau bisa membunuhnya!" Aiden memperingatkan.
"Aku tidak peduli!"
"Coba masuki pikirannya" Yoon berkata. Dan dalam sekejap. Luis sudah memejamkan matanya. Tidak lama dan pria itu menyeringai penuh kepuasan.
Sebuah ledakan kecil terjadi ketika Luis menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan gelang yang tadi berada di tangan Lucas.
"Ada seseorang yang minta diambil nyawanya malam ini" Luis berkata dan dalam satu kedipan mata. Semuanya menghilang. Meninggalkan Olivia yang jatuh terpental di karpet tebal ruangan itu.
__ADS_1
"Bukankah peri itu seharusnya baik hati. Kenapa kau malah mau mencelakai Ara? Memangnya salah dia apa?" Paul bertanya sambil berjongkok di hadapan Olivia yang berusaha bangun. Memandang kesal pada Paul. Satu lagi, manusia yang menyukai Ara.
"Aku tidak suka padanya. Dia merebut semua perhatian orang yang ada di rumah ini. Bahkan kau pun menyukainya...manusia fana" Sungut Olivia.
"Tentu saja semua menyukai Ara. Dia baik, ramah meski kadang seperti Yoon. Kulkas berjalan. Jika kau seperti Ara...maksudku baik, ramah...pasti banyak yang menyukaimu" Timpal Paul sambil sejenak berpikir.
"Apa karena dia merebut perhatian Luis darimu" Tebak Paul. Olivia terdiam. Karena memang yang dikatakan Paul benar adanya. Melihat diamnya Olivia. Membuat Paul tersenyum kecut. Bahkan sekelas peri imut saja menyukai raja Vampir itu. Ya...ya...Paul akui, Luis punya semua yang wanita inginkan untuk jadi boyfriend atau bahkan suami. Tampan, kaya. Sikap cool...errr kecuali identitas Vampirnya yang mungkin tidak banya diketahui orang. Jadi tidak heran jika Olivia juga menyukai Luis.
Olivia menjatuhkan dirinya di karpet. Duduk sambil meletakkan kepalanya di atas lutut yang ditekuknya.
"Karena Luis sangat baik padaku. Dia menyelamatkanku dari burung pemangsa peri beberapa tahun lalu" Kenang Olivia.
"Kalau dia begitu baik padamu. Harusnya kau bahagia jika dia bahagia. Dengan begitu kau bisa meringankan hutang budimu. Bukannya membuat sumber kebahagiaannya dalam bahaya" Ucap Paul yang langsung membuat Olivia menatap wajah manusia fana itu. Untuk pertama kalinya, ada sebuah perkataan yang membuat Olivia sadar akan kesalahannya.
"Jadi yang kulakukan salah?" Tanya Olivia polos.
"Tentu saja salah, peri kecil. Perasaan tidak bisa dipaksakan. Lagipula Luis dan Ara sudah bersama sejak dulu. Jauh sebelum kau bertemu Luis. Boleh dikatakan kalau hidup Luis hanyalah untuk Ara. Jika Ara mati, jangan harap Luis akan bertahan hidup. Kau mau melihat Luis mati" Paul bertanya. Menatap makhluk kecil dihadapannya. Yang kini sudah duduk di atas meja. Sangat imut dan menggemaskan menurut Paul.
"Tentu saja dia tidak boleh mati" Teriak Olivia.
"Kalau begitu kau tidak boleh menyakiti Ara lagi. Dan satu lagi...siapa yang menyuruhmu melakukan ini" Paul mulai kepo. Olivia terdiam. Dia sebenarnya tidak tahu siapa orangnya. Juga tidak tahu kenapa orang itu menyuruhnya memberikan gelang itu pada Ara.
"Aku tidak tahu. Dia memakai penutup kepala. Juga keadaannya selalu gelap tiap kami bertemu. Hanya saja...yang jelas dia dari golongan Vampir. Dan...dia perempuan. Sebab aku mencium bau parfun perempuan di tubuhnya. Juga sedikit aroma dari...vampir yang mirip dengan Luis dan Lucas"
Luis mengerutkan dahinya. Mendengarkan pembicaraan Paul dan Olivia.
"Apa dia berbohong?" Tanya Yoon.
"Aku pikir tidak. Ingat dia terikat peraturan untuk berkata jujur pada siapa saja yang bertanya padanya" Sahut Luis.
"Perempuan....wanita mana yang kau sakiti hatinya Luis?" Seloroh Hans. Semua terkekeh mendengar pertanyaan nyeleneh Hans. Sudah tahu jika Luis tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun selain Ara.
"Tapi aku salah fokus pada ucapan Olivia soal kau dan Lucas yang mirip"
"Mirip dari mananya?" Lucas menanggapi pertanyaan Aiden serius.
***
__ADS_1