Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Di Kastil Putih


__ADS_3

Ara membuka matanya, ketika dia merasa sudah berpindah tempat dari dunia ilusi. Sejauh mata memandang, hanya deretan pohon tinggi yang dia lihat. "Hutan mana ini," gumam Ara lirih.


Wanita itu mulai berjalan. Tidak tahu ke arah mana. Dia hanya berjalan maju saja. Hutan itu begitu gelap. Saking lebatnya dahan pohon di hutan itu. Membuat sinar matahari tidak sampai ke tanah. Ara hanya berharap, dirinya tidak bertemu hewan liar atau sejenisnya.


Setelah berjalan lumayan lama. Ara bisa melihat sebuah bangunan berwarna putih. Mirip sebuah kastil. Namun jaraknya masih lumayan jauh. Bangunan itu berada di puncak sebuah bukit. Ara seketika mempercepat langkahnya. Ketika melihat awan di atas kastil itu mulai menggelap. Pertanda malam akan segera datang.


Wanita itu nyaris berlari. Namun langkahnya sering tersandung batu ataupun akar tanaman. Juga ranting pohon yang banyak berjatuhan. Meski begitu Ara terus mencoba. Sejak tadi dia berusaha memanggil Luis. Tapi tidak ada jawaban. Apa hutan ini sangat lebat. Hingga sinyal panggilannya tidak sampai pada sang suami.


Akhirnya, setelah berjuang cukup berat. Ara bisa melihat bangunan itu berdiri kokoh di hadapannya. Sebuah gerbang besar berada di depan Ara saat ini. Langit sudah sepenuhnya berubah menjadi gelap. Ara mencoba mengetuk gerbang besar itu. Mencoba berteriak. Tapi tidak ada jawaban ataupun tanda-tanda pintu akan dibuka.


Dia lalu mencoba memanggil menggunakan pikirannya. Siapa tahu ada jawaban.


"Halo, apakah ada orang di dalam? Aku ada di depan gerbang kalian. Bisa minta tolong dibukakan gerbangnya. Aku tersesat."


Ara terdiam sejenak. Menunggu jawaban. Hingga lama tidak ada tanda-tanda gerbang dibuka. Ara mulai putus asa. Lantas berbalik. Bermaksud meninggalkan tempat itu. Hingga langkahnya terhenti ketika terdengar suara gerbang besar itu di buka.


"Apa kamu yang meminta pertolongan?" Seorang pria berpakaian pelayan bertanya.


"Iya, itu benar aku. Aku tersesat dan tidak tahu jalan keluar dari hutan ini," jawab Ara. Sedang pria itu tampak terdiam. Menelisik penampilan Ara. "Ada harum surgawi yang menguar dari wanita ini," lapor pria itu pada atasannya.


Tak lama pria itu mempersilahkan Ara masuk. Ara takjub dengan apa yang dilihatnya. Sebuah bangunan megah berdiri kokoh di hadapannya. Sangat besar dan semuanya berwarna putih.


"Selamat datang di Kuil Suci atau banyak yang memanggilanya Kastil Putih." Pria itu berucap seolah menjawab pertanyaan Ara.


"Tunggulah di sini. Tetua sebentar lagi akan datang." Lagi pria itu berkata. Sambil membawa Ara masuk ke sebuah ruangan atau lebih tepat disebut aula. Saking luasnya.


"Tetua?" Gumam Ara pelan. Kembali merasa kagum melihat ruangan itu. Atapnya berbentuk kubah. Dihiasi ornamen dan hiasan yang terlihat kuno. Tanpa Ara tahu, hiasan itu adalah mantra dari sihir yang sangat kuno. Yang bertujuan melindungi tempat itu.


"Kau kembali?" Sebuah suara muncul di belakang Ara. Seketika Ara berbalik. Dilihatnya seorang wanita yang sudah sangat tua. Kulit wajahnya sudah berkeriput seluruhnya. Bahkan tangannya juga sama. Untuk berjalan saja wanita itu harus dipapah oleh seorang pria yang mungkin seumuran dirinya. Eiiitts, tunggu Ara tidak tahu mereka manusia atau bukan. Pria yang menuntun wanita itu tampak terkesima menatap Ara.


"Kau kembali, cucuku." Ulang wanita itu.


"Maksudnya?" Ara tidak paham dengan ucapan wanita itu. Kembali? Memang dirinya berasal dari sini.

__ADS_1


"Kau adalah putri keluarga Reyes yang dulu pernah datang kemari. Keistimewaanmu membuat seluruh dunia menginginkan dirimu. Hingga ayahmu secara khusus datang ke mari. Meminta perlindungan untukmu. Batu Penyegel Aura." Wanita itu menatap penuh arti pada Ara.


"Tapi aku tidak memakainya lagi." Ara teringat kalung yang pernah dia pakai.


"Masih, kau masih memakainya." Wanita itu mengangkat tangan keriputnya. Dan seketika sebuah sinar berwarna biru terlihat memancar di dahi Ara. Seiring rasa hangat yang mengalir di dahi Ara.


"Anda tahu?" Ara jelas penasaran dengan sosok wanita itu.


"Panggil aku Maggie, dan dia Cairo."


"Nenek Maggie..." Gumam Ara lagi.


"Aku tidak menyangka kalau takdirmu berhubungan dengan empat dunia. Tidak kusangka jika kau ditakdirkan menjadi ratu Vampir, ah tidak ....hanya suamimu yang seorang vampir."


"Tapi dia memang raja Vampir." Ara menyela. Wanita itu tersenyum.


"Hari ini mungkin saja tidak akan sama dengan esok. Banyak hal yang bisa berubah dalam hidup kita, Ara." Nenek Maggie berucap penuh arti.


"Temanmu baik-baik saja." Cairo menjawab pertanyaan di kepala Ara. Pria itu masuk membawa baki makanan juga dua buah paperbag.


"Makanlah dulu. Lalu bersihkan dirimu." Cairo berucap lagi.


"Tunggu bagaimana kau bisa tahu keadaan Paul?" Ara penasaran.


"Kami menggunakan mata batin kami untuk melihat keadaan di luar sana," ujar Cairo.


"Lalu untuk suamiku, apa kau tahu keadaannya?"


"Yang itu aku tidak berani memberitahu. Bukan hakku untuk memberitahumu." Jawab Cairo.


"Kalau begitu kenapa aku tidak bisa menghubunginya?"


"Di tempat ini sihir apapun tidak bisa digunakan. Tempat ini adalah tempat yang disucikan di dua dunia." Lagi Cairo menjelaskan.

__ADS_1


Jika dia tidak bisa menghubungi Luis. Berarti dia harus secepatnya pulang. Jika tidak, Luis akan khawatir padanya. Tapi bagaimana aku bisa keluar dari sini. Sebab nenek Maggie terlihat ingin menahannya.


"Dia berpikir kau ingin menahannya di sini." Cairo terkekeh melihat reaksi Maggie.


"Hanya sebentar. Sebab makhluk ular itu juga tengah mencarinya," ujar Maggie.


"Tapi bukannya dia sudah berubah baik. Apalagi setelah dia menikah dengan dewi bunga, Nangmi." Cairo menjawab sambil meminum tehnya. Aneh, saat bersama Cairo, Maggie terlihat baik-baik saja. Padahal keadaan tubuhnya benar-benar renta.


"Aku hanya ingin memberitahu Ara satu hal. Tentang keputusan yang mungkin akan dia ambil nanti."


"Bukankah kalau dia menolak. Yang Terpilih akan naik menggantikannya?"


"Masalahnya, dia tidak tahu kalau dia adalah yang terpilih. Baru kali ini Pure Blood tidak ditakdirkan berpasangan dengan Yang Terpilih."


Hening. Baik Cairo maupun Maggie terlarut dalam pikiran masing-masing.


"Apakah itu akan berakibat buruk?" Cairo bertanya penasaran.


"Tidak juga. Hanya saja selama berabad-abad kebiasaannya begitu. Tapi dalam kendaliku semua berbeda." Maggie menjelaskan.


"Bukannya begitu akan lebih baik. Karena kali ini, keduanya jatuh ke klan Vampir. Klan itu akan punya dua cadangan pemimpin."


"Tapi sebelum itu, perang saudara itu akan benar-benar terjadi."


"Apakah akan ada korban yang jatuh?" Lagi Cairo kepo.


"Dia sudah melihat petunjuknya. Jadi semua keputusan ada di tangan Yang Terpilih." Kali ini Maggie benar-benar menyudahi pembicaraan soal Ara dan dia, Yang terpilih.


Wanita itu melangkah mendekat ke arah jendela. Dia tahu benar. Akhir itu akan segera datang.


"Ini sudah dekat. Sangat dekat," guman Maggie. Menatap pada langit malam di atas kastil suci ini. Seolah semua yang akan terjadi sedang terputar di sana.


***

__ADS_1


__ADS_2