
"Aiden...Aiden...bisa kita bicara sebentar" Maria setengah berteriak pada Aiden.
"Ada apa lagi?" Aiden berusaha menahan emosinya.
Jika Luis sanggup mengambil semua resiko untuk mencintai Ara dalam hidupnya. Tapi Aiden tidak. Dia tahu Maria sudah lama menaruh hati padanya.
Seperti yang pernah Aiden ucapkan pada Luis. Jika dirinya sudah tidak punya hati. Bukan dia mati rasa. Atau tidak punya perasaan pada Maria.Tapi Aiden tidak ingin ambil pusing dengan masalah hati dan cinta.
"Tidak bisakah kau memberi kesempatan padaku. Pada kita?" Maria berkaca-kaca saat mengucapkan hal itu.
Dia tahu benar siapa Aiden. Dia tahu apa yang dilakukannya mungkin akan memiliki resiko besar di kemudian hari. Tapi setidaknya dia pernah mencoba untuk memperjuangkan perasaannya.
"Maria, berapa kali kuberitahu padamu. Keputusanku akan tetap sama. Aku tidak mau menyeretmu pada kehidupanku yang rumit. Kau tahu benar siapa aku. Aku...kami seperti hewan buas. Yang bisa saja kehilangan kendali diri. Lalu menerkammu"
Aiden pikir apa semua orang jatuh cinta akan seperti itu. Tidak Luis, tidak Maria. Semua sepertinya buta karena cinta.
"Aku tidak masalah jika suatu hari itu terjadi padaku" Gumam Maria.
"Kau tidak masalah. Tapi aku? Aku akan jadi seorang pembunuh. Maria, tolong mengertilah. Kau masih bisa mendapatkan orang lain, pria lain yang lebih baik dariku. Pria yang tulus dan baik padamu. Bukan monster seperti diriku"
Aiden berjalan menjauhi Maria. Meninggalkan wanita itu dengan derai air mata di pipinya.
"Kenapa kau tidak pernah mau melihatku. Sekali saja" Bisik Maria dalam hati.
"Karena kau terlalu berharga untukku" Aiden menjawab dalam hati.
***
"Hans, bisa kita bicara sebentar?" Evelyn setengah mengejar Hans ketika pria itu keluar dari ruang kerjanya.
Hans lebih menyukai "cara manusia" dalam mobilitas kehidupannya. Kecuali jika ada panggilan darurat dari teman sejenisnya. Baru dia menggunakan cara "vampir" alias menghilang.
Pria itu bahkan memiliki koleksi barang manusia paling banyak diantara yang lainnya.
"Ada apa? Aku sedang terburu-buru" Hans menjawab.
"Tidak bisakah kita mencobanya. Sekali saja" Mohon Evelyn. Wanita itu berpikir. Bahwa mungkin ini adalah hal terkonyol yang pernah dia lakukan seumur hidupnya. Mengemis cinta pada seorang Evander Hans.
"Berapa kali kukatakan Eve, tidak. Aku tidak mau memberikan harapan palsu padamu. Aku sama sekali tidak mencintaimu"
"Tapi aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku" Bisik Evelyn.
Seketika keduanya sudah berpindah tempat. Berada dalam sebuah kamar mewah. Yang Hans yakini adalah kamar Evelyn. Sejurus kemudian, wanita itu sudah mulai menyerang Hans. Ciuman Evelyn benar-benar menyiratkan, kalau wanita itu sungguh menginginkan Hans.
__ADS_1
Mendapat serangan yang begitu panas. Sebagai vampir normal, Hans jelas terpancing. Apalagi dirinya memang sudah lama tidak melakukannya. Sesaat kemudian keduanya sudah terlibat dalam aksi bertukar saliva yang begitu sensasional.
Hans hampir kehilangan kontrol, apalagi ketika Evelyn mulai menjamah tubuh atletis Hans. Namun ketika Evelyn semakin bergerak liar. Hans tersadar.
"Maaf Eve, aku tidak bisa" Hans berucap setelah mendorong tubuh Evelyn dari atas tubuhnya. Wanita itu nyaris topless. Tinggal menyisakan pakaian dalam berwarna hitam. Yang sungguh kontras dengan warna kulit pucatnya.
"Kenapa Hans? Apa karena gadis kecil manusia itu?" Evelyn berteriak geram.
Dia benar-benar menginginkan Hans malam ini. Wanita itu bahkan sudah memakai sedikit aroma pemikat di tubuhnya. Tapi nyatanya, Hans sama sekali tidak tergoda olehnya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan Erika. Kau tahu itu. Aku sudah menolakmu, jauh sebelum aku bertemu Erika" Hans menjawab tegas.
"Lalu kenapa kau tidak mau memberikan kesempatan padaku. Aku bisa membuatmu tergila-gila padaku" Evelyn bergerak mendekat pada Hans.
Jemari lentik itu bergerak membelai dada bidang Hans. Berharap pria itu kembali tergoda pada sentuhannya. Tapi sayangnya tidak. Hans dengan cepat menahan tangan Evelyn.
"Cukup Eve, jangan sampai aku lepas kendali dan menghajarmu. Tidak peduli meski kau seorang wanita" Desis Hans. Lantas berlalu menuju pintu. Meninggalkan Evelyn yang hanya bisa mengetatkan rahangnya kuat. Menahan amarahnya.
"Ingat satu hal, Eve. Kami tidak suka dipaksa" Hans berucap tajam. Sembari menekankan kata kami. Lalu menghilang dadi hadapan Evelyn.
Evelyn jelas berteriak kesal. Bahkan cara terakhir pun gagal membuat Hans menjadi miliknya. Dia benar-benar marah. Sejak Luis menolak perjodohan mereka. Keluarganya jadi sering mencemoohnya. Mengatakan kalau dirinya tidaklah cukup berharga untuk seorang pria.
Hal yang membuat seorang Evelyn Hobart merasa sangat terhina. Sampai akhirnya, dia memilih meninggalkan kediaman Hobart di wilayah barat. Membaur dengan kehidupan manusia fana. Yang pada akhirnya membawa Evelyn bertemu Hans.
Pria yang benar-benar menggetarkan hatinya. Namun kembali, penolakanlah yang dia terima. Wanita itu langsung melambaikan tangannya. Dan sebuah gelas sigap ditangkapnya. Lalu meminum isinya hingga tandas.
Gelas itu pecah berkeping-keping ketika menghantam dinding kamar Evelyn. Air mata mulai mengalir di pipi wanita itu.
"Kau sakit hati? Perlu aku menghiburmu?" Sebuah suara terdengar menggema di kamar Evelyn.
Wanita itu langsung meraih kemejanya. Memakainya dengan tergesa-gesa. Aura hitam terasa begitu kuat. Membuat Evelyn merinding.
"Siapa kau?" Tanya Evelyn. Dari aromanya itu jelas dari klan yang sama dengan dirinya. Merasakan aura dominasinya yang kuat, setidaknya orang ini memiliki level yang sama dengan Luis.
"Kau pintar sekali menebak" Suara itu terdengar lagi. Seolah dia bisa membaca pikiran Evelyn.
"Tunjukkan dirimu!" Evelyn mulai cemas jika makhluk itu adalah makhluk kegelapan yang bisa menyerap jiwanya.
Sejurus kemudian, tawa nyaring mengejek terdengar di telinga Evelyn. Bersamaan dengan sesosok pria yang muncul di hadapannya.
"Apa makhluk kegelapan setampan ini?"
Evelyn jelas terpana pada rupa sosok yang sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Ketampanannya, auranya, semuanya satu level dengan Luis, si pangeran Vampir. Meski yang ini jelas sekali aura kejamnya.
"Terima kasih atas pujianmu.Tapi aku bukanlah makhluk kegelapan. Meski aku bisa saja memangsa jiwamu" Krum berucap sambil menyeringai.
"Lalu siapa kau?" Evelyn bertanya dengan mata menatap takjub pada Krum.
"Krum Gabriel Verona" Krum menyebutkan nama lengkapnya. Evelyn seketika membulatkan matanya.
"Kau, kakak Luis Alexander Verona"
Krum hanya tersenyum samar mendengar keterkejutan Evelyn.
"Apa yang kau lakukan di sini? Maksudku, apa yang kau inginkan dariku?"
"Aku ingin kita bekerjasama. Kau sakit hati pada mereka yang merendahkanmu? Aku bisa membantumu untuk membalaskannya" Krum mulai bernegosiasi.
"Lalu imbalan apa yang kau inginkan dariku?" Evelyn menatap curiga pada Krum.
"Jadilah milikku" Krum menjawab cepat.
Sejurus kemudian, senyum mengembang di bibir Evelyn. Seolah keduanya telah mendapatkan partner yang mereka cari selama ini.
"Lalu apa tanda untuk memaknai mulainya kerjasama kita kali ini?" Evelyn kali ini berani mendekati Krum. Kemeja yang tadinya dia pegang kuat-kuat agar tidak menunjukkan isinya. Kini dia biarkan begitu saja. Membuat isinya mengintip malu-malu.
"Kau memang vampir wanita yang pandai menggoda" Bisik Krum. Detik berikutnya, bibir keduanya sudah bertaut. Saling menyesap satu sama lain. Menikmati manisnya benda kenyal tersebut.
***
"Minumlah ini, satu tetes saja. Jangan lebih"
"Nona...nona...aku hanya menyuruhmu meminum satu tetes saja. Kenapa kau meminum semuanya"
Suara tangis pilu itu terngiang di benak Ara. Dalam tidurnya yang sangat gelisah malam itu.
"Bangun Nona...apa yang harus aku katakan pada tuan muda Verona jika dia datang menjemputmu"
"Verona....Luis Alexander Verona?"
Ara langsung terbangun dari mimpi anehnya. Peluh bercucuran di dahinya.
"Mimpi apa tadi?" Gumamnya pelan.
"Kau ingin tahu lebih banyak soal masa lalumu? Datanglah padaku"
__ADS_1
"Siapa? Siapa kau?!" Ara menjerit bertanya dalam hatinya.
****