
Di tempat lain, Krum yang selama ini hanya diam mengamati. Menggeram marah. Begitu dia mengetahui kalau Luis bisa menyelesaikan permasalahan klan mereka dengan ras Iblis dengan baik. Dia berharap kalau Luis akan tewas terbunuh dalam peperangan dengan makhluk maut di dunia bawah. Tapi dugaannya salah.
"Dia selalu saja beruntung dari dulu!" Kesal Krum. Mengepalkan kedua tangannya.
"Kak..." Suara Rin terdengar dari arah pintu. Sejak kejadian hari itu Krum jadi sering berada di rumahnya. Di dunia manusia. Sering menghabiskan waktu di sana. Melihat Rin yang dengan rajin mengurus rumah dan tanamannya. Membuat suasana rumah Krum terasa nyaman.
Tanpa menjawab, Krum hanya membalikkan badannya. Menatap gadis kecil yang selalu tampak ceria di hadapannya.
"Kakak mau makan?" Rin bertanya. Sebab kadang Krum mau menemaninya makan. Kadang tidak. Pria vampir itu mulai terbiasa dengan makanan manusia yang masuk ke perutnya. Lagi, tanpa menjawab. Krum berjalan mendahului Rin. Membuat gadis itu melompat girang. Sambil mengekor langkah Krum.
"Ini namanya ayam goreng saus mentega" Rin mengambilkan sepotong paha ayam besar ke piring Krum. Rin sudah terbiasa dengan sikap Krum yang boleh dikatakan sama sekali tidak menanggapi ucapan Rin.
Krum menatap tajam pada Rin.
"Tidak ada bawang putihnya" Cengir gadis itu ceria. Perlahan Krum mulai memakan ayamnya. Sejenak berhenti mengunyah. Ini kalau klan vampir tahu. Bisa jadi viral...Krum yang seorang pangeran vampir. Makan ayam goreng mentega..wk... wk... wk.
Rin mengurai senyumnya ketika Krum berlalu. Kembali naik ke kamarnya. Meninggalkan piringnya yang telah tandas isinya. Gadis itu senang bukan kepalang.
Malam menjelang, ketika Rin sayup-sayup mendengar suara pembicaraan Krum dengan seseorang.
"Dia selamat. Bahkan ketika sihir itu sudah sempurna menghapus jiwanya"
"Hebat sekali darah murni ini" Baru kali ini Rin mendengar suara Krum.
"Membuatku semakin ingin memilikinya" Lanjut Krum.
"Tapi Krum, dia adalah milik adikmu" Suara lain memperingatkan Krum.
"Masih ada keraguan dalam pernikahan mereka. Keduanya belum bisa saling menyatukan hati" Krum beralasan.
"Tapi tetap saja. Pernikahan mereka sah dalam hukum klan kita"
"Kau pikir aku peduli. Aku menginginkan darahnya. Tidak peduli bagaimana pun caranya" Tegas Krum.
"Bahkan jika aku harus membunuh Luis. Aku akan melakukannya"
"Krum, dia adikmu"
__ADS_1
Rin menatap tanaman bunga mawar yang tumbuh subur di halaman rumah Krum. Sejak kejadian hari itu. Rin tidak lagi ingin keluar rumah. Sebosan apapun dia akan tetap berada di dalam rumah. Sesekali hanya bermain di sekitar aliran sungai yang ada di belakang rumah Krum. Dia takut kejadian Krum terluka karena dirinya terulang lagi.
Menarik nafasnya pelan. Lalu menatap ke arah jendela kamar Krum. Pembicaraan Krum semalam cukup mengusik hatinya. Dia tidak ingin Krum salah langkah.
"Kak....bisa bicara sebentar" Rin memberanikan diri untuk bicara ketika pria itu tengah berada di ruang baca. Membaca sebuah buku besar.
"Kakak seharusnya tidak merebut hal yang bukan milik Kakak" Ucapan Rin membuat pria itu langsung menatap tajam pada Rin. Jelas dia tidak suka ada yang mencampuri urusannya.
"Apalagi dia milik adikmu" Lanjut Rin. Dia tahu Krum akan marah dengannya. Katakanlah dia lancang. Tapi hatinya akan terasa memiliki beban jika dia tidak memperingatkan Krum.
"Apa urusanmu!" Krum bertanya marah. Mata pria itu berkilat merah.
"Aku tidak ingin Kakak salah jalan. Berkelahi dengan saudara sendiri sangatlah tidak baik" Kali ini Krum merangsek maju. Mencengkeram dagu Rin, yang langsung meringis. Kala kuku tajam Krum serasa perih menusuk kulitnya.
"Kau tidak tahu apapun soal diriku. Jadi tetaplah diam. Jangan banyak bicara!" Ancam Krum.
"Aku hanya tidak ingin Kakak melakukan kesalahan" Rin menjawab tersengal. Bulir bening mulai mengalir di pipi gadis itu. Krum seketika tercekat. Melihat tatapan penuh permohonan dari mata bulat milik Rin.
"Kau tahu jika aku bukan orang baik! Jadi berhenti peduli padaku. Jangan campuri urusanku" Krum menghempaskan tubuh Rin. Membuat gadis itu jatuh terduduk di karpet.
"Aku tidak percaya dengan ucapan Kakak. Karena aku percaya kalau Kakak orang baik" Lirih Rin namun masih bisa di dengar oleh Krum. Ketika pria itu membuka pintu lalu berlalu dari sana.
***
Ara sedang berjalan keluar dari rumah utama. Sekedar ingin mengambil udara di luar rumah. Menikmati akhir pekan. Yang sejenak membuatnya berhenti dari rutinitasnya menjadi sekretaris sang suami. Dia sedang tidak punya teman bicara. Asha dan Erika sedang menghabiskan waktu bersama pasangan masing-masing. Lucas dan Yoon.
Kali ini giliran Lucas yang mengunjungi dunia bawah. Setelah pernikahan mereka beberapa waktu lalu. Keduanya sepakat untuk saling mengunjungi dunia masing-masing. Meski kebanyakan Lucas yang membawa Asha ke apartemennya.
"Tidak bebas di kamarmu. Banyak pelayan. Mau coba gaya baru tidak asyik" Lucas mengomel pada Asha.
Sedang Yoon menemani Erika yang akan menjemput Ailee dan pulang ke rumah baru mereka. Ailee, gadis itu dinyatakan sembuh total dari kanker yang dideritanya. Tak berhenti berucap terima kasih pada Hans. Membuat pria itu salah tingkah dibuatnya.
Menarik nafasnya pelan. Sejenak menikmati keindahan bunga-bunga beraneka warna yang bermekaran. Hingga sebuah suara mengejutkan Ara.
"Arabella Sofia" Panggil suara itu. Ara langsung mencari sumber suara. Dilihatnya seorang pria bertubuh tinggi besar tengah berdiri tidak jauh darinya. Menatap lembut pada Ara.
"Maaf dengan siapa?" Ara mulai menaikkan kewaspadaannya. Mengingat Luis sedang berada di Black Castle.
__ADS_1
"Kau bisa memanggilku Hellas" Jawab pria itu yang tak lain adalah ayah Luis.
"Dan siapa Anda?" Ara bertanya sopan.
"Itu tidak penting. Yang jelas aku tidak akan menyakitimu. Boleh aku minta waktumu sebentar. Aku ingin kau bertemu dengan seseorang" Pinta Hellas.
Ara semakin menajamkan matanya. Ada banyak kejadian akhir-akhir ini yang membuat Ara belajar untuk bisa menjaga dirinya sendiri. Tidak bergantung pada Luis dan yang lainnya.
Melihat sikap Ara. Hellas tersenyum.Dia tahu kekhawatiran Ara yang tak lain adalah menantunya sendiri.
"Suamimu tidak akan marah padamu. Aku jamin. Lagipula ini hanya sebentar. Anggap saja aku sedang meminta tolong padamu" Mohon Hellas. Ara sejenak berpikir. Menatap penuh selidik pada pria yang terlihat tampan di hadapannya itu. Hingga akhirnya dia menganggukkan kepalanya. Senyum Hellas terukir seketika.
Dalam sekejap mata. Ara sudah berpindah tempat. Hebat, bahkan pria ini bisa membawanya berpindah tempat tanpa menyentuhnya. Menatap takjub pada keadaan sekelilingnya. Ara sekaligus dibuat heran. Tempat apa ini.
Berada di sebuah tempat dengan aliran sungai di dalamnya. Berpendar penuh cahaya berwarna-warni. Sungguh tempat yang sangat cantik.
Dia berbalik menatap Hellas. Yang kembali tersenyum. Menggerakkan tangannya. Membentuk sebuah pola sihir yang terlihat rumit untuk Ara. Lalu beberapa mantra yang entahlah apa itu. Hingga "byur", bunyi air yang bergemuruh. Membuyarkan perhatian Ara pada apa yang dilakukan Hellas.
Menatap penuh ketidakpercayaan ketika sebuah peti keluar dari aliran sungai itu. Melayang, mendekat ke arah Hellas.
"Kemarilah" Hellas memberi kode pada Ara untuk mendekat. Ketika Ara sudah berada di samping peti. Benda itu perlahan terbuka. Menampilkan seorang wanita cantik yang tengah tertidur di dalamnya.
"Dia siapa?" Gumam Ara.
"Katakanlah dia adalah wanita yang paling aku cintai di muka bumi" Hellas menjawab sendu. Menatap pada wanita itu.
"Istri Anda? Apa yang terjadi padanya?" Ara mulai kepo. Hilang sudah rasa curiga pada Hellas. Berganti dengan rasa iba ingin menolong. Jika dia bisa.
"Boleh dikatakan begitu. Dia koma setelah sebuah kejadian. Dan belum mau bangun sampai sekarang"
"Apa ada cara untuk membangunkannya?" Ara bertanya. Melihat Hellas yang terlihat begitu mencintai wanita itu. Ara berpikir jika ingin membantu pria itu.
"Kau memang baik. Suamimu sangat beruntung memilikimu. Kau bisa membantunya. Tapi tidak sekarang"
"Kapan?"
"Berjanjilah padaku. Jika waktunya tiba. Maukah kau datang untuk membantuku membangunkannya" Pinta Hellas penuh harap.
__ADS_1
Ara sejenak berpikir. Lalu sebuah senyum terukir di bibir wanita itu.
****