Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Panggil Aku Lucas


__ADS_3

Rakasha, nama wanita yang diselamatkan Lucas. Putri tunggal raja Iblis, Rakuten. Dia sejak lama memang dikurung di istana timur. Karena kecantikannya yang sangat menonjol di antara bangsa Iblis lainnya.


Banyak yang iri. Hingga ingin membunuh Rakasha. Tapi tidak jarang yang berambisi dan terobsesi ingin memiliki Rakasha. Begitu mereka melihat kecantikan wanita itu.


Karena itulah, Rakuten memutuskan untuk mengurung putri tunggalnya di tempat itu. Dia begitu takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Rakasha seperti yang terjadi pada ibu Rakasha. Namun sang putri berpikiran lain. Karena sang ayah tidak pernah mengatakan apa alasannya sampai dia dikurung. Membuat Rakasha berpikir kalau Rakuten tidak sayang padanya.


Apalagi ketika Rakuten mengatakan Rakasha harus menikah dengan pangeran dari wilayah timur. Meski benar, pernikahan bertujuan untuk meningkatkan hubungan politik dua kubu dalam bangsa Iblis. Tapi Rakuten pikir, pangeran dari timur tidaklah buruk.


Rakasaha membuka tirai di kamar itu. Matanya langsung terpejam. Begitu mendapati silau matahari menerpa matanya.


"Matahari...." Gumam Rakasha.


Bagi ras Iblis yang selalu hidup di dunia bawah. Sinar matahari adalah hal langka yang bisa mereka lihat. Dunia bawah hanya dipenuhi kegelapan dan cahaya lava pijar yang mengalir di mana-mana.


Sejenak Rakasha memeluk tubuhnya sendiri. Saat hangatnya sinar matahari menerpa kulit mulusnya.


"Hangatnya," lirih wanita itu lagi. Seumur hidup, Rakasha baru kali ini dia melihat matahari dan merasakan hangat sinarnya.


"Ini di mana? Kenapa matahari bersinar begitu terang," Bisik wanita lagi, lalu membuka tirai kamar Lucas lebar-lebar. Hingga pemandangan kota yang begitu indah. Langsung membuat Rakasha hampir menjerit.


"Kau udik sekali. Belum pernah melihat dunia fana apa?"


"Rakasha langsung berbalik dan mendapati Lucas yang tengah bersandar di pintu. Menatap pada dirinya. Dengan dua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Membuat pria itu terlihat begitu.... tampan.


"Siapa kau?" Tanya Rakasha sambil melipat tangannya.


"Aku yang menyelamatkanmu. Kau ingat?"


"Aku tidak ingin diselamatkan. Menyelamatkanku sama saja membuat masalah semakin besar."


"Kenapa kau tidak menolak saja perjodohan itu." Tanya Lucas santai.


"Bagaimana kau bisa tahu, aku sedang kabur dari perjodohanku?" Tanya Rakasha curiga.


Lucas melangkah mendekat ke arah Rakasha, membuat wanita itu memundurkan tubuhnya.


"Apa kau mata-mata?"


"Aku bisa membaca pikiran orang, Nona," Lucas menjawab sambil menyeringai. Hingga sepasang taring Lucas terlihat oleh Rakasha. Lucas pikir, tidak ingin menyembunyikan siapa dirinya di depan putri dari bangsa Iblis.


"Kau makhluk penghisap darah. Kau seorang Vampir...aarrghhh."


Rakasha langsung menjerit ketika Lucas menggigit leher mulus wanita itu. Rakasha langsung memejamkan matanya. Dia pikir bagus juga mati di tangan klan Vampir.


"Aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya penasaran dengan rasa darah dari ras Iblis. Tidak buruk juga...cukup manis," Bisik Lucas sambil menjilat sisa darah yang masih tersisa di leher Rakasha.


"Kau kurang ajar sekali!"

__ADS_1


"Hitung saja sebagai bayaran atas jasaku menyelamatkanmu."


Rakasha langsung mendengus kesal. "Aku tidak mau diselamatkan!" Pekik wanita itu.


"Tapi sudah terlanjur. Jadi nikmati saja harimu di dunia fana. Sebelum mereka menemukanmu. Atau aku menyerahkanmu pada mereka."


"Tidak! Aku tidak mau kembali ke sana! Aku tidak mau menikah!"


"Kalau begitu menurutlah. Ganti bajumu. Pakaianmu membuat mataku sakit. Lalu turun. Bangsamu masih makan makanan bukan?" Perintah Lucas meletakkan paperbag yang entah muncul dari mana di atas ranjang.


***


Ara menggeliat pelan. Sejenak dia teringat ucapan Erika.


"Kami pergi dulu. Jika ada apa-apa hubungi kami. Istirahatlah."


Perlahan gadis itu menggerakkan tubuhnya. Hingga dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh dengan gulingnya.


"Kau sudah bangun?" Tanya sebuah suara. Detik berikutnya Ara langsung menendang si pemilik suara itu, sampai jatuh dari kasur sempitnya.


"Dughh"


"Aduuuhhhh"


"Ha? Apa yang kau lakukan di sini, Luis?"


"Kau sudah gila ya? Aduuuhhh pinggangku." Keluh pria itu berusaha bangun.


"Menurunkan panasmulah. Apalagi...tubuhku kan dingin jadi bisa digunakan untuk kompres menurunkan demammu....aaargghhh ada ya pangeran Vampir kena tendang sama manusia," kata Luis.


"Ha??? Masak sih?" Ara lalu menyentuh keningnya sendiri. Benar sudah tidak panas lagi.


"Jelas demammu sudah turun. Aku juga menyerap hawa panas tubuhmu," pria itu lalu berjalan menuju sofa. Lalu mendudukkan dirinya di sana.


Ara lantas bangun tapi tidak berani mendekat.


"Kenapa?"


"Pakai bajumu." Bisik Ara. Pria itu menunjuk kursi di dekat jendela. Dimana jas dan kemeja pria itu berada di sana.


"Bagaimana jika Erika tahu kau ada disini?"


"Kau tidak ingat siapa aku? Aku vampir. Bisa menghilang," jawab Luis sambil mengancingkan kemejanya.


"Ooo iya ya."


"Apa kamu deman karena terkejut mengetahui siapa kami?" Luis bertanya.

__ADS_1


"Tidak tahu. Tapi aku tidak bisa tidur semalam. Kau bilang bisa menghilang dan muncul di manapun. Jadi aku takut, kalian tiba-tiba muncul di sini."


"Kau pikir kami kurang kerjaan. Mengunjungi kamu malam-malam. Lagipula buat apa kami menemuimu?"


"Aku takut kalian mau...menggigitku," bisik Ara.


Luis terbahak mendengar ucapan Ara.


"Akan kuberi tahu kau satu hal. Dari dulu hingga sekarang. Kau adalah milikku. Jadi selain aku, tidak akan ada yang berani menyentuhmu. Bahkan mereka sekalipun. Jadi kau cukup berhati-hati saat bersamaku," ucap Luis yang tiba-tiba sudah berada di samping Ara. Berbisik di telinga gadis itu dan menghirup aromanya.


"Benar-benar bisa membuatku gila," batin Luis.


Berdekatan dengan Ara, bisa membangkitkan dua hal sekaligus dalam diri Luis. Hasrat untuk menikam leher Ara dengan taringnya sekaligus hasrat sekssualnya.


***


Lucas langsung mengalihkan tatapannya dari jendela. Begitu mencium aroma iblis yang menguar dari tubuh Rakasha. Lucas terpukau dengan penampilan Rakasha dalam balutan pakaian manusia.


Gaun berkerah V, berlengan lonceng tiga perempat. Dengan panjang selutut, gaun berwarna toska itu begitu pas membalut tubuh proporsional Rakasha.


"Dia sangat cantik," Lucas yang terbiasa melihat wanita cantik. Kali ini harus mengangkat tangannya. Mengakui kalau kecantikan putri bangsa iblis ini benar-benar sempurna.


"Makanlah," titah Lucas singkat. Ikut duduk di meja makan, yang diatasnya sudah terhidang beberapa hidangan dari ayam.


"Bagaimana kau tahu aku suka olahan ayam."


"Kau lupa aku bisa membaca pikiran orang. Termasuk pikiranmu," Lucas menekan setiap ucapannya. Agar gadis itu tidak lupa lagi.


"Kau tidak makan?" Rakasha bertanya, mencoba mengakrabkan diri dengan pria dari klan yang menjadi musuh rasnya sejak dulu.


"Kami jarang makan. Hanya sesekali. Kami lebih suka minum darah," Lucas menjawab sambil menyeringai, membuat Rakasha memundurkan tubuhnya.


"Makanlah. Lalu kita bicara," Lagi Lucas berkata. Kali ini sambil meminum darah dari gelasnya.


"Kau kenapa lari?"


"Bukannya kau sudah tahu. Kau bisa membaca seluruh pikiranku. Jadi buat apa aku memberitahumu lagi." Ketus Rakasha.


"Busyet dah. Putri Iblis sekalinya ngomel kayak rel kereta api subway. Panjang amat." Gerutu Lucas dalam hati.


"Oke..kita bicarakan itu nanti. Sekarang namamu Rakasha? Benar?"


"Benar, kau bisa memanggilku Asha," balas Asha. Keduanya sudah duduk di ruang tengah apartement Lucas.


"Dan kau bisa memanggilku Lucas," Lucas memperkenalkan diri.


Sejenak keduanya saling pandang. Seolah berusaha saling memahami dan mengagumi satu sama lain.

__ADS_1


"Luis dan Hyung, benar-benar akan marah padaku. Aku sudah menyembunyikan putri dari ras Iblis di apartemenku," batin Lucas.


***


__ADS_2