Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Bukan Menggelikan Tapi Tragis


__ADS_3

Luis melipat tangannya. Melihat Lucas dan Asha yang duduk di hadapannya. Dua orang itu hanya bisa menundukkan wajahnya. Tidak berani menatap semua mata yang menatap pada mereka.


Apalagi Luis. Sorot mata pria itu tidak terbaca. Aiden hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Yang resmi menikah saja belum kesampaian MP-nya. Kalian malah sudah mencuri start" Seloroh Hans, yang membuat semua orang mengalihkan tatapan mereka pada dokter tengil itu.


Semua orang menarik nafas dalam hampir bersamaan.


"Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Harus berbuat apa?" Luis pada akhirnya buka suara.


"Maafkan aku, Luis. Aku sungguh tidak bisa...."


"Menahan diri?" Potong Yoon. Yang kali ini bukan mode kulkas lagi tapi mode tempat pembekuan ikan salmon yang suhunya bisa mencapai minus lima puluh derajat Celcius.


Lucas dan Asha mengangguk bersamaan. Tangan keduanya terpaut satu sama lain. Seolah saling menguatkan. Lucas tahu dia bersalah. Dan dia tidak akan lari. Dia akan menghadapi semuanya dan bertanggung jawab.


"Lucas, kau tahu resikonya kan?" Aiden bertanya. Sama frustrasinya dengan Luis. Lagi-lagi Lucas mengangguk.


"Aku bersedia dihukum baik olehmu maupun oleh ayahmu" Tegas Lucas. Menatap pada Asha.


"Kau tahu hukumannya di dunia bawah. Meniduri Putri Kerajaan Iblis tanpa..."


"Aku tidak melakukannya dengan terpaksa. Aku rela memberikannya pada Lucas. Daripada dengan pangeran brengsek itu" Potong Asha cepat.


"Mereka tidak peduli soal kau rela atau tidak. Kita tahu kalian saling mencintai. Tapi duniamu...tidak. Mereka akan menganggap Lucas melecehkanmu. Dan hukumannya mati" Luis berucap lirih.


"Kalau ayahku menghukum mati Lucas...maka akan ada dua pemakaman"


"Sepertinya aku pernah mendengar kalimat itu" Hans berucap sambil menatap pada Luis.


"Itu masih berlaku untukku. Masalahnya apa ya kalian akan mengikuti langkahku. Ara mati aku juga mati"


"Kenapa tidak?" Jawab Asha dan Lucas bersamaan.


"Astaga" Giliran Luis dan yang lainnya berseru kompak.


"Sekarang ini bagaimana?" Aiden bertanya semakin frustrasi.


"Menurut prediksiku. Sebentar lagi akan ada yang menjemput kalian. Lucas kau pasti ditangkap. Dan hukuman mati menantimu" Yoon menjawab sambil menatap Lucas.


"Aku akan menerimanya" Lucas menjawab sendu.


Semua saling menatap.


"Kenapa kau mudah sekali menerima kematianmu? Lalu bagaimana denganku?" Asha berteriak.


"Kau harus tetap hidup" Ucap Lucas menangkup wajah Asha.


"Aku tidak bisa hidup tanpamu" Tangis Asha. Keduanya saling menatap.

__ADS_1


"Aishhh sudah scene romantisnya. Luis saja kalah sama kalian. Kalian nyuri start. Luis belum" Gerutu Hans.


"Kenapa aku terus yang dijadikan bahan ledekan. Memang salah kalau aku belum pernah bercinta dengan istriku" Sungut Luis.


"Ya...kesannya kau kurang buas Luis" Hans yang lagi-lagi menjawab. Melirik ke Ara yang duduk di samping Luis.


"Sialan!" Maki Luis pada Hans yang langsung nyengir sambil membentuk tanda peace. Juga Ara yang langsung melayangkan tatapan tajamnya.


"Sudah...kalau begitu jika jemputanmu datang. Kau harus bersiap. Karena rencana kita akan segera di mulai" Luis berucap.


Awalnya dia begitu bingung bagaimana menyelesaikan masalah Lucas. Tapi kemudian dia teringat pesan Jenderal Zaga. Dari ucapannya, Luis mendapat kode kalau pria itu berada di sisi yang sama dengannya. Hingga kemudian terbersitlah sebuah rencana yang mungkin baru terpikirkan beberapa detik yang lalu.


"Idemu benar-benar brilian Luis. Luar biasa" Aiden memuji. Sedang Lucas langsung tersenyum. Setelah mereka mendengar rencana Luis secara keseluruhan.


"Kau benar Paman. Luis mampu menjadi raja. Kemampuannya luar biasa. Bahkan ini aku, bukan Ara" Batin Lucas menatap Luis berkaca-kaca.


Sebuah rencana yang mungkin mengandung banyak resiko. Tapi mereka harus mencobanya. Sebab nyawa Lucas dipertaruhkan dalam rencana ini. Dan Luis jelas tidak mau kehilangan Lucas. Salah satu sahabat juga jenderal terbaik yang pernah klan vampir punya.


"Minum ini" Hans menyerahkan tiga butir pil yang membuat Lucas menatap Hans heran.


"Kau mau aku jadi rambu-rambu lalu lintas" Tanya Lucas polos. Sebab pil yang Hans berikan berwarna merah, kuning dan hijau. Apa kalau bukan rambu-rambu lalu lintas.


"Mau masuk penjara saja, masih banyak bicara. Minum!" Salak Yoon.


"Galaknya. Iya deh...aku salah"


"Banget" Cengir Lucas. Dan satu keplakan mendarat di lengan Lucas.


"Benar-benar ya...." Ucapan Aiden terputus ketika terdengar suara dari arah depan. Ara langsung ditahan Luis. Yang ingin keluar melihat apa yang terjadi. Ara sejak tadi ada di sana tapi hanya diam. Mendengar semua pembicaraan mereka.


"Di sini saja" Desis Luis tegas. Ara langsung menatap marah pada Luis. Yang melangkah keluar dengan yang lain mengekor di belakang mereka.


Jenderal Zaga yang menjemput Lucas dan Asha kali ini. Tanpa banyak bicara. Dan tanpa banyak perlawanan. Lucas pasrah saat sebuah mantra pengikat langsung menjerat tubuhnya. Sedang Asha langsung dicekal oleh Jenderal Zaga.


"Temani aku" Lucas berucap dalam pikirannya.


"Kalau tidak ngantuk" Jawab yang lain.


Lucas manyun sebelum akhirnya menghilang dari hadapan mereka.


***


Lucas didorong paksa masuk ke sebuah ruangan yang cukup gelap. Tapi Lucas tidak masalah. Vampir kan memang temannya gelap.


Begitu dia masuk, tidak berapa lama masuklah Rakuten yang tanpa basa basi langsung menampar wajah Lucas.


"Plak"


Lucas memejamkan matanya. Menahan panas dan perih sekaligus di wajahnya.

__ADS_1


"Kau benar-benar kurang ajar!" Maki Rakuten. Lucas hanya diam. Tahu memang dia bersalah.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika jenderal perang klan Vampir bisa melakukan hal menjijikkan seperti itu"


"Bukankah bangsa mereka memang dari dulu seperti itu. Menjijikkan. Membunuh untuk hidup" Lupin berucap di belakang Rakuten.


Kali ini Lucas mengepalkan tangannya. Menahan amarah yang mulai terpancing. Namun herannya meski amarahnya sampai ke ubun-ubun. Dia masih bisa menahan diri. Padahal dirinya paling tidak bisa disenggol. Sedikit saja, dan dia akan langsung meledak.


"Kau tahu hukumanmu karena kesalahan yang kau buat? Hukuman mati. Tidak peduli jika Luis datang memohon. Aku tidak akan mencabut ucapanku. Hukumanmu akan dilaksanakan lusa" Rakuten berlalu keluar dari sana. Meninggalkan Lupin yang menyeringai puas. Melihat wajah tidak berdaya Lucas. Wajah akting sebenarnya.


"Dia benar-benar menyebalkan" Gerutu Lucas. Berusaha mendudukkan diri.


"Busyet dah gini amat mau mati aja" Lucas masih melanjutkan gerutuannya.


Pria itu lalu mulai memejamkan matanya. Sesuai permintaan Luis. Mulai menyisir istana milik Rakuten. Mencari sebuah pikiran yang sejak kemarin mengganggu Luis. Meminta tolong untuk dibebaskan.


"Aiiishh tidak ada Luis. Kau yakin dia di sini?"


"Dia bilang ada di penjara dunia bawah"


"Sudahlah nanti lagi aku mencarinya. Masih ada besok kan eksekusiku lusa"


"Kau santai sekali mau dihukum mati"


"Karena aku tahu kalian tidak mungkin membiarkanku mati. Kalian kan sayang padaku"


"Howeeekkkk" Terdengar bunyi muntah dari ujung sana.


"Kalian juga menyebalkan!" Maki Lucas.


Menatap sekeliling. Lalu mulai menertawakan dirinya sendiri. Ini malam pertama dirinya tidur di penjara dengan tuduhan melecehkan putri dari ras Iblis. Dengan eksekusi hukuman mati yang akan diadakan lusa.


Baru beberapa jam yang lalu, dia menikmati manisnya madu cinta bersama Asha. Dan sekarang dia kurung di sini.


"Ini menggelikan"


"Bukan menggelikan tapi tragis" Hans berucap dari dunia fana.


"Sialan kau!"


Dan tawa membahana seketika terdengar di kepala Lucas.


***



Kredit Pinterest.com


***

__ADS_1


__ADS_2