
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat itu. Yang aku tahu, aku merasa sangat haus sekali. Tubuhku rasanya panas. Dan ketika aku melihat dia melintas. Kau tahu selanjutnya"
Yoon mengakhiri ceritanya dengan wajah sendu. Penuh rasa bersalah. Dan satu pukulan dari Ara bersarang di bahu Yoon. Beberapa kali. Namun Yoon sama sekali tidak membalas.
"Bagaimana bisa kau lakukan itu, Kak" Ara berteriak marah. Masih terus memukuli Yoon. Hingga Luis menarik tubuh Ara menjauh dari Yoon.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri waktu itu. Sungguh"
"Jangan minta maaf padaku" Ara menjawab kesal.
"Kau menghancurkan hidupnya, Yoon" Hans berucap santai. Kembali memasang infus pada tubuh Erika. Mereka kini ada di kamar Yoon.
"Aku tahu. Aku terus mencari dia selama ini. Tapi tidak menemukannya"
"Bagaimana kau bisa menemukannya. Jika dia memakai ini" Hans menunjukkan sesuatu dari balik kemeja Erika.
Sebuah kalung salib yang memang dipercaya ditakuti bangsa Vampir.
"Namun ini bukan kalung sembarangan. Ada mantra kuno di dalamnya. Sepertinya Erika cukup tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya" Luis menjelaskan sambil membalut kembali pundak Ara. Yang lukanya kembali mengeluarkan darah. Ketika dia tadi memukuli Yoon.
Yoon langsung paham ucapan Luis.
"Lalu aku apa akan jadi Vampir juga?" Tanya Ara.
"Kau mau?" Tanya Hans.
"Tidak mau. Aku tidak mau minum darah"
"Itu akan terasa manis dan menyegarkan saat kau menjadi bagian dari kita" Jawab Hans santai.
"Seharusnya dengan statusnya yang masih setengah Vampir. Gigitannya tidak akan berbahaya. Kau tidak banyak menghisap darahnya, Yoon?"
"Aku langsung tersadar ketika baru menghisap darahnya beberapa mili"
Ara langsung bergidik ngeri.
"Darah...menggigit. Menghisap...hiii"
"Kalau dia begitu terus. Lama-lama kugigit juga kau" Ancam Hans.
"Hans..."
"Pertanyaanku apa yang akan terjadi pada Erika. Apa dia akan terus menjadi seperti itu"
"Ya dia akan jadi seperti itu. Harus minum darah saat bulan purnama. Seperti aku dulu. Kecuali...
"Yoon kembali menggigitnya. Membuatnya jadi Vampir sempurna..
"Atau...
Luis memberitahukan analisanya pada Yoon dan Hans.
"Apa itu bisa terjadi?" Tanya Aiden ketika kelimanya sudah berkumpul di ruang tengah. Sementara Ara dan Erika tidur di kamar Luis dan Yoon.
"Aku baru menduganya. Dia Pure Blood atau bukan kita bisa membuktikannya lewat percobaan ini"
__ADS_1
"Kau rela dia melakukan ini?" Tanya Lucas.
"Yang gigit Erika bukan kalian" Luis menyahut cepat.
"Bagaimana Yoon?"
"Aku akan mengikuti apa yang dia mau. Aku memang bersalah padanya. Jadi kalau dia mau menghajarku, akan kuterima"
"Dia sudah menggigitmu balik. Dia pasti mengenali dirimu"
"Berapa banyak yang diperlukan untuk membersihkan racun setengah Vampir"
"Jika dia benar-benar Pure Blood. Satu atau dua tetes saja sudah cukup" Luis menjawab.
"Hebat sekali. Dia bisa jadi penawar racun berjalan" Seloroh Lucas.
"Pure Blood adalah darah ajaib. Berapa lama kita menunggu untuknya terlahir kembali" Aiden berucap.
"Apa sejak dulu dia adalah Pure Blood. Maksudku, di masa sebelum dia bangun dari koma?" Tanya Luis.
"Pure Blood memang terlahir dengan anugerah...atau kutukan itu. Jadi sejak awal dia memang Pure Blood. Kalau dugaan kita benar. Apa kau tidak menyadarinya?"
Luis menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana aku bisa tahu soal hal itu, jika dia dari dulu dia dalam perlindungan Batu Penyegel Aura" Batin Luis sendiri.
"Ingat dia dulu terlahir setengah. Dan baru disempurnakan oleh kantor pusat beberapa waktu lalu"
"Dia bangun" Hans berucap. Dan Yoon seketika menghilang dari pandangan mereka semua.
"Kau bangun?" Yoon bertanya dan Erika seketika mencabut jarum infusnya. Menyerang ke arah Yoon.
"Kau..brengsek! Kau Vampir sialan! Kau menjadikanku makhluk mengerikan....
Erika terus memukuli Yoon membabi buta. Hingga Aiden menarik tubuh Erika. Menjauh dari Yoon.
"Hentikan itu" Luis berucap tajam.
"Brengsek! Sialan!" Erika terus memaki. Hingga ekor mata Erika melihat pisau di meja samping tempar tidur. Melepas cekalan tangan Aiden. Gadis itu bergerak cepat. Meraih pisau dan menghunjamkannya ke dada Yoon.
"Aargghhh" Yoon meringis. Menatap sendu pada Erika, yang tampak puas setelah menusuk dirinya.
"Mati kau!" Desis Erika.
"Kau pikir dia akan mati hanya dengan tusukan pisau itu?" Hans tertawa mengejek.
"Dokter Hans...kau?"
Erika langsung membulatkan matanya. Saat Yoon dengan santai mencabut pisau yang menancap di dadanya. Darah seketika berhenti mengalir. Seiring luka tusukan itu sembuh dengan sendirinya.
"Kau perlu meminjam pedang Luis untuk membunuhku" Yoon berucap datar.
Erika memundurkan langkahnya. Hingga membentur dinding di belakangnya. Menutup mulutnya. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bukankah Vampir akan mati jika ditusuk di jantungnya" Gumam Erika lirih.
__ADS_1
"Pastikan pisaunya perak asli!" Bisik Aiden yang berdiri di samping Erika.
Bisikan Aiden membuat Erika sadar kalau dia dikelilingi empat pria tampan. Yang dia tebak pasti Vampir semua. Termasuk Hans....oohh tidak. Dokter Ailee seorang Vampir. Bagaimana aku bisa kabur dari sini. Panik Erika.
"Kau tidak bisa kabur dari sini. Sampai kalian menyelesaikan masalah kalian" Luis berkata dingin.
"Dan juga tebakanmu benar. Kami semua Vampir murni termasuk Hans" Aiden menambahkan. Bersamaan dengan Hans yang tersenyum ceria sambil melambaikan tangannya.
Wajah Erika semakin pucat. Dia sungguh berpikir sudah saatnya dia mati.
"Jangan khawatir, kami tidak akan membunuhmu" Lucas menyahut sambil membuka pintu.
"Lucas? Kau juga?" Erika jatuh terduduk. Lemas seketika.
Dia pikir kenapa hidupnya jadi runyam begini. Setelah digigit oleh Vampir brengsek, yang akhirnya dia tahu itu rekan kerja Ara. Hidupnya benar-benar berantakan.
Tunggu, jika Yoon adalah Vampir. Dia menatap semua pria yang tengah menatapnya balik. Luis, Yoon, Hans, Lucas dan satu lagi dia tidak tahu namanya...mereka semua Vampir. Maka selama ini Ara bekerja bersama sekumpulan Vampir.
"Apa Ara juga sudah berubah menjadi Vampir?" Batin Erika.
"Tidak. Ara masihlah manusia" Luis menjawab pertanyaan di pikiran Erika.
"Kau tahu yang kupikirkan?"
"Kami bisa membaca pikiran" Yoon kali ini yang bersuara. Dan suara Yoon kembali membuat amarah Erika naik.
"Kenapa kau menggigitku hari itu? Apa salahku padamu?" Erika bertanya sambil menarik kerah kemeja Yoon.
"Aku tidak sengaja. Aku tidak bisa mengendalikan diri waktu itu. Maaf" Jawab Yoon sendu.
"Kenapa harus aku?"
"Karena kau yang kebetulan lewat. Jadi anggap saja itu hari sialmu" Hans menjawab dan satu tatapan mematikan dia dapat dari Erika.
"Sudahlah tinggalkan saja mereka. Biar dia mau bunuh Yoon berapa kali juga terserah. Toh, Yoon tidak akan mati"
Seloroh Lucas yang langsung menghilang. Diikuti oleh yang lain. Erika langsung melepaskan cekalannya dari kerah kemeja Yoon. Ketika tubuhnya tiba-tiba melemas. Melihat mereka semua menghilang dari hadapannya.
Tubuh Erika hampir jatuh, jika saja Yoon tidak menahan pinggangnya.
"Mereka semua bisa menghilang"
"Salah satu keahlian kami"
"Kau juga?" Yoon mengangguk. Seketika keduanya sudah berpindah tempat. Sebuah bukit dengan pemandangan yang sangat cantik. Yoon menurunkan tubuh Erika. Gadis itu sejenak terpana dengan view yang ada di depannya.
"Aku minta maaf padamu. Aku benar-benar merasa bersalah padamu" Yoon berucap datar.
Erika sejenak mengerutkan dahinya. Orang minta maaf kok ekspresinya lempeng kayak jalan tol. Tidak ada raut penyesalan sama sekali di wajah Yoon. Hingga kemudian, dia teringat cerita Ara soal Yoon.
"Itulah kenapa dia disebut kulkas berjalan volume satu oleh Paul"
"Jangan mengumpatku"
"Uuppsss..aku lupa. Mereka bisa membaca pikiranku" Cengir Erika sambil menggaruk kepalanya.
__ADS_1
***