Ara & Pangeran Vampir

Ara & Pangeran Vampir
Cuma Beda Setelannya


__ADS_3

"Kenapa kau?" Tanya Luis yang melihat Ara tampak lesu.


"Aku mengantuk"


"Memangnya kalian mengobrol sampai tidak tidur?"


Sejak Asha tinggal bersama Ara. Keduanya sering mengobrol bersama. Berbagi cerita apa saja. Pada akhirnya, Asha mengaku kalau dia adalah putri dari ras Iblis yang dulu hidup di dunia bawah.


Pengakuan Asha membuat Ara meledek Luis.


"Dia tidak seburuk yang kau bayangkan"


Seperti itu, Ara meledek Luis. Yang hanya bisa diam mendengar ejekan Ara.


"Tidak. Aku hanya ngobrol sampai jam sembilan. Dia bilang akan mengajakku jalan-jalan ke rumahnya"


"Dia saja menolak pulang"


"Itu karena sekarang dia sedang marah dengan ayahnya. Nanti kalau sudah tidak marah lagi. Dia pasti akan minta pulang"


"Kalau kalian tidak begadang. Kenapa mengantuk?" Yoon datang membawakan satu cup kopi untuk Ara.


"Untukku?" Tanya Ara tidak percaya.


"Kau pikir kami doyan minum kopi" Sarkas Yoon. Ara tersenyum. Meski Yoon suka bersikap dingin, sedingin freezer. Dia tahu kalau pria itu diam-diam perhatian padanya.


"Aku cemburu, Yoon" Celetuk Luis.


"Kalau begitu sinikan lagi kopinya. Nanti aku habis dibakarnya" Yoon meminta kopinya kembali.


"Enak saja. Kau ini kenapa sih? Kak Yoon hanya memberiku kopi bukan menciumku"


Yoon hampir tersedak mendengar ucapan Ara yang asal njeplak itu.


"Jadi kau mau Yoon menciummu?" Tanya Luis kesal. Sedang Yoon langsung menghilang. Menghindari menjadi korban keposesifan Luis pada Ara.


"Perhatian salah. Gak perhatian salah" Gerutu Yoon dalam pikirannya.


"Tentu saja tidak. Itu hanya perumpamaan. Kalau yang kak Yoon lakukan itu bukan apa-apa. Hanya sedikit perhatian padaku"


"Memangnya aku kurang perhatian padamu?"


"Tidak. Hanya kau kurang peka" Jawab Ara keras.


"Hei, kalian itu sudah pada tua juga masih bertengkar seperti anak kecil" Suara Hyung menggema di ruangan Luis.


"Diam kau, Hyung!" Dua orang itu kompak menjawab bersamaan. Membuat Aiden mendapat ledekan berupa tawa super keras dari ketiga sahabatnya sendiri.


****


"Kau sudah datang?" Hellas Verona bertanya pada Lucas yang menundukkan kepalanya begitu pemimpin klan Vampir itu berada di depannya.


Tapi Hellas Verona bukannya membalas penghormatan yang Lucas berikan padanya. Pria itu malah memeluk Lucas erat. Seolah menumpahkan rasa rindu yang ada dalam hati ayah Luis itu.


"Kau hidup dengan baik?"


"Baik, sangat baik, Paman" Lucas menjawab gelagapan. Dia memang lama tidak pulang ke Black Castle. Istana tempat tinggal pemimpin klan Vampir. Sebab dia pikir, tidak ada yang perlu dia laporkan pada Hellas Verona.

__ADS_1


"Kalau Paman menginginkan laporan tentang perkembangan pelatihan pasukan kita di bagian Barat....


Hellas Verona mengangkat tangannya. Tidak ingin Lucas melanjutkan ucapannya soal tugasnya sebagai panglima perang klan Vampir. Yang bertugas memimpin pelatihan pasukan dan perekrutan tentara baru.


"Aku sedang tidak ingin bicara soal klan. Aku ingin bicara soal kau"


Lucas langsung mengangkat wajahnya.


"Maksud, Paman?"


"Aku tahu kau membawa pulang putri Rakuten ke dunia fana"


Lucas langsung membulatkan matanya. Namun detik berikutnya, pria itu langsung paham. Sebagai pemimpin klan Vampir. Hellas Verona pasti tahu dengan jelas apa yang terjadi dalam wilayah kekuasaannya.


"Iya..tapi waktu itu saya tidak tahu kalau dia putri Rakuten"


"Dia putri tunggal Rakuten, Raja Iblis yang telah lama disembunyikan dari khalayak ramai"


Lucas semakin tidak percaya. Jika begitu dia telah membawa masalah besar kepada klannya.


"Apa kau menginginkannya?"


"Maksud Paman?"


"Kau menyukainya?"


Lucas terdiam. Dia punya sifat plin plan jelas tidak tahu harus menjawab apa.


"Saya tidak tahu, Paman" Lucas menundukkan kepalanya.


"Bersikaplah tegas seperti Luis, Aiden maupun Hans. Meski aku tidak suka cara Luis. Tapi aku bisa apa. Dan untukmu. Pikirkanlah pertanyaanku. Jika kau menyukai Rakasha. Perjuangkan dia. Meski kita tahu itu sulit. Tapi jika tidak. Pulangkan dia secepatnya. Sebelum dia menimbulkan masalah yang lebih besar untuk kita" Ayah Luis memberikan peringatan keras pada Lucas. Membuat pria itu langsung menelan ludahnya susah payah.


"Karena itu maafkan, Ayah. Ayah terpaksa melakukan ini padamu. Ayah akan menebus semua kesalahan Ayah. Setelah ibu kalian bisa bangun dan membuka matanya"


Hellas Verona menatap lekat pada Lucas. Yang pelan menundukkan wajahnya. Memberi hormat kepadanya. Hingga Hellas bisa melihat satu kilatan warna biru memancar dari kening Lucas.


Satu hal yang bahkan Lucas sendiri tidak kalau benda ada di kepalanya. Batu Penyegel Aura.


Sementara itu, seulas senyum tipis terukir di bibir Krum.


"Jadi benar, dia putri Rakuten yang dinyatakan meninggal. Rupanya Lucas yang membawanya pulang. Setelah Luis dengan cinta gilanya pada manusia. Sekarang Lucas dengan cinta tidak masuk akalnya. Vampir dan putri ras Iblis. Kalian hanya akan membawa peperangan pada dua bangsa ini"


"Lalu kau denganku? Apa kita akan menyebutnya?" Suara sensual Evelyn muncul di belakang Krum. Memeluk tubuh kekar Krum. Menempelkan aset kembarnya di punggung pria itu.


"Kita? Simbiosis mutualisme...hubungan yang saling menguntungkan" Bisik Krum. Sejurus kemudian dia sudah menghimpit tubuh Evelyn ke dinding. Menatap mata wanita itu lalu mulai menyatukan bibir mereka. Tanda dari sesi panas mereka akan segera di mulai.


****


"Ada yang mengganggu pikiran Ara belakangan ini" Asha melapor melalui pikiran Lucas.


Semua saling pandang.


"Apa itu Krum?" Hans menyela.


"Asha bilang bukan dari klan kita" Lucas menyampaikan pikiran Asha.


Semua terdiam.

__ADS_1


"Apa dia merasakan aura khusus atau ada hal yang tidak biasa?"


Lucas memejamkan matanya. Menerobos masuk ke pikiran Asha.


"Sesuatu dengan aura mistis yang sangat kuat. Juga aroma masa lalu, semacam makhluk purba" Lucas membuka matanya setelah membaca pikiran Asha.


"Apa yang kita pikirkan sama?" Luis bertanya. Menatap ke arah semua sahabatnya.


"Ini akan semakin merepotkan jika Sherpa turut memburu Ara. Sejak dulu, kita belum pernah melihat makhluk purba itu. Apalagi melenyapkannya. Mustahil, terlebih kita belum pernah bertemu dengannya" Aiden yang paling bijaksana diantara mereka mulai memberikan opininya.


"Tapi itu dulu. Kita belum pernah mencoba melenyapkannya menggunakan Silver Sword atau Blue Fire milik Luis" Yoon menyarankan.


"Mau dilenyapkan bagaimana? Wong makhluknya saja belum pernah ketemu" Hans masih bisa mengeluarkan pendapat tengilnya. Ketika yang lain sedang dalam mode serius on.


Hal itu sontak membuat keempat pria itu menatap Hans kompak.


"Apa? Yang kukatakan benar kan?" Hans bertanya dengan wajah tidak berdosanya.


"Bagaimana kalau kita umpankan saja dia. Untuk memancing Sherpa keluar" Lucas memberi ide.


"Enak saja. Kau pikir aku makanan apa? Diumpankan" Protes Hans.


"Kalau Sherpa perempuan, dia pasti suka dengan wajah imutmu...


"Tapi akan kabur begitu melihat otak tengilmu" Yoon memotong saran Aiden.


Kembali mereka terbahak melihat wajah kesal Hans.


"Aku pikir untuk apa Sherpa mengincar darah Ara?" Lucas mengerutkan dahinya.


"Meningkatkan keabadiannya mungkin. Atau hal lain yang kita tidak tahu" Aiden menyahut.


"Aku pernah membaca di literatur kuno. Ada yang pernah bertemu Sherpa dalam wujud tidak sempurna. Padahal dia makhluk purba. Seharusnya dia sudah memiliki wujud sempurna. Tapi jika dia belum memilikinya. Berarti ada kemungkinan, dia menginginkan darah Ara untuk menyempurnakan wujudnya"


"Sebenarnya Sherpa ini jenis apa sih? Aku mencoba googling..


Yang lain langsung menatap Hans heran.


"Kau googling Sherpa di situs internet mana?" Yoon kepo.


"Maksudku bukan googling Sherpa di internet. Ya nggak bakalan nongol"


"Terus maksudmu googling Sherpa di mana?" Kali ini Aiden yang bertanya.


"Ya, aku cuma coba ngelacak dia pakai auraku saja"


Jawaban Hans langsung membuat para hyung-nya menepuk jidat bersamaan.


"Kau pikir Sherpa cewek cantik. Bisa dilacak pakai auranya Lucas"


Lucas langsung mendelik ke arah Luis.


"Apa?" Tantang Luis begitu melihat Lucas menatap tajam padanya.


"Aku jadi heran padamu. Kau ini waktu disini sama di rumah sakit, otakmu beda ya. Kau tukar tambah di mana?" Yoon berucap sadis.


"Enak saja kalau ngomong. Bukan tukar tambah. Tapi cuma beda setelannya" Cengir Hans.

__ADS_1


Sumpah, yang lain auto ngakak mendengar jawaban asal dari Hans. Pembahasan serius soal Sherpa gagal total gegara Hans yang mengubah setelan otaknya.


****


__ADS_2