
Anastasya mengatur nafasnya yang terengah saat tubuhnya sudah memasuki kedai. Pemilik kedai yang menyadari kedatangan gadis itu, menautkan alis.
"Ana, kau kenapa?"
Gadis itu terdiam. Hanya terdengar hembusan nafasnya yang memburu.
"Ana, kau kenapa?" ulang perempuan paruh baya itu.
"Ibu, aku tak mengantar kopi ketempat itu lagi," ucap Anastasya lirih dengan bibir bergetar.
Perempuan paruh baya itu terdiam sejenak, berusaha memahami perkataan Anastasya. Ia pun menarik lembut tubuh gadis cantik itu dan menuntunya untuk duduk di sebuah kursi.
"Duduklah. Bicara pelan-pelan dan jelaskan semuanya pada ibu."
Ada yang menghangat dari lubuk terdalam Anastasya saat perempuan patuh baya itu memperlakukannya dengan lembut selayaknya anak.
"Penjaga tempat itu, dia.. dia..." Anastasya tak mampu merampungkan ucapannya.
"Dia menggangumu lagi?"
Gadis itu mengangguk, yang mana membuat perempuan paruh baya itu menghela nafas dalam.
"Besok-besok, biar Ibu saja yang akan antar pesanan." Pemilik kedai sudah mampu menebak siapa orang yang dimaksud Anastasya.
Anastasya memang cantik, meskipun wajah polos tanpa riasan. Itulah yang membuat kaum hawa terkagum. Bukan hanya sebatas memandang, terkadang ada pula yang berniat menyentuh meski gadis itu selalu menangkisnya.
Kian lama, gadis itu dibuat tak nyaman. Anastasya tak pernah memiliki teman pria sebelumnya, apalagi berpacaran. Maka wajar jika perlakuan berlebih dari pria pengunjung kedai membuat gadis itu risih dan tak nyaman.
"Maaf jika Ana harus merepotkan Ibu."
"Tidak apa, ibu bisa mengerti dengan posisimu." Setidaknya gadis itu tak akan trauma.
Langkah seseorang terdengar mendekat. Keduanya saling menggeser pandang menuju kearah langkah kaki terdengar.
"Permisi," sapa seseorang dengan lembutnya.
__ADS_1
"Ya," jawab keduanya bersamaan.
Seorang perempuan dengan dres berwarna maroon yang membalut tubuh rampingnya, tampak berdiri dengan senyum manis yang terulas di bibir tipisnya.
Anastasya dan pemilik kedai terpaku, sekaligus bertanya-tanya. Tak biasanya wanita berpenampilan anggun datang ke kedai sederhananya, bahkan kini untuk kedua kalinya.
"Saya pesan jus jeruk satu." Ucapan perempuan itu membuat Anastasya dan pemilik kedai yang terpaku itu tersadar.
"Iya nona. Tunggu sebentar."
Bergerak cepat menuju arah dapur, Anastasya lekas menyajikan minuman segar yang perempuan itu pesan.
Tak berselang lama, gadis cantik itu pun datang membawa nampan berisikan satu gelas jus jeruk.
"Pesanannya nona," ucap Anastasya ramah dengan mengembangkan seulas senyum.
"Terimakasih," balas perempuan itu dibarengi senyuman yang tak kalah manis pula.
Anastasya berbalik, dan berniat hendak meninggalkan perempuan itu menuju arah dapur, akan tetapi perempuan dengan make up tebal melapisi wajah itu mencegahnya.
"Tunggu! Bisa temani aku mengobrol?"
Gadis itu membandingkan penampilannya dengan sosok anggun di depannya. Sungguh tak ada apa-apanya. Lalu untuk apa ia meminta untuk di temani mengobrol.
Tak menjawab. Anastasya hanya mengangguk dan mendaratkan tubuhnya di kursi yang letaknya berseberangan dengan perempuan itu. Hanya sebuah meja kayu sebagai pembatas.
Pemilik kedai hanya memperhatikan dari kejauhan. Entah mengapa, perempuan paruh baya itu tiba-tiba dibuat tak nyaman akan kehadiran sosok perempuan tersebut ke kedainya. Dan semoga, kehadirannya tak memiliki tujuan dan tak ada sangkut pautnya dengan Anastasya.
*****
Pria berbadan tegap itu tak lagi fokus pada pekerjaanya. Sudah beberapa jam diruangan pribadinya, ia hanya bergerak gelisah dengan pikiran melayang kemana-mana.
Bukan perihal pekerjaan yang memenuhi benak, akan tetapi kehadiran gadis itu yang kembali membuatnya menggila.
Bagaimana tidak, sudah dua kali mereka dipertemukan tanpa sengaja, tetapi jangankan alamat rumah, namanya pun tak ia tau.
__ADS_1
Entah gerangan apa yang merasuki diri. Saat bertemu dengan gadis polos berwajah ayu itu, mendadak lidahnya terasa kelu. Bibirnya membungkam, seolah tak mampu berkata-kata.
"Siapa dia, aku bisa mati penasaran jika terus seperti ini," gumam pria tampan bernama Rangga tersebut.
Pria muda itu baru beberapa hari menginjakkan kakinya kembali ke ibukota selepas melanjutkan pendidikan S1nya di singapura.
Rangga yang berusia 23 tahun itu, tak pernah merasakan hal seperti ini pada banyak perempuan uang ia kenal sebelumnya. Sejujurnya tak ada yang istimewa, hanya saja ia dibuat penasaran akan sosok gadis yang membuat jantungnya berdegub kencang.
Pintu ruangan terbuka. Menampilkan sosok pria paruh baya dengan stelan jas lengkap yang muncul dari balik pintu tersebut.
"Ayah." Rangga yang berdiri gelisah itu, lekas melabuhkan tubuhnya dikursi kebesaran miliknya.
"Selamat siang, boy." sapa pria yang tak lain adalah Ayah dari Rangga. "Bagaimana harimu?" sambungnya di iringi serigai menggoda.
"Ck." Rangga berdecak. "Berhenti menggodaku, Ayah. Pekerjaan ini, benar-benar jauh dari keinginannku." Agensi model. Sungguh pekerjaan yang jauh dari ekspektasi bagi seorang Rangga yang terobsesi menjadi seorang pengacara.
Sofyan, ayah dari Rangga tergelak.
"Benarkah? Ayah tidak yakin," ucap pria paruh baya itu setengah meragukan. "Ayah hanya punya dirimu sebagai penerus. Jika bukan kau, lalu siapa lagi. Ayah semakin tua, sementara tempat ini harus tetap berdiri seperti keinginan Ayah." Sofyan menjatuhkan bokongnya di sofa. Duduk dengan kaki bersilang, dengan pandangan lurus kedepan. Meski usia tak lagi muda, namun sofyan masih terlihat tampan dan gagah.
Bak pinang dibelah dua, wajah sofyan dan Rangga sama-sama tampan, meski terpaut usia yang cukup jauh.
Rangga menghela nafas dalam. Menjadi seorang pengacara memang menjadi ambisinya, akan tetapi ia pun tak mampu menolak keinginan orang tua yang sudah susah payah membesarkannya. Terlebih ia putra semata wayang, yang sudah sepatutnya menjadi tameng di usia senja kedua orang tuanya.
"Apa pun akan aku lakukan untuk ayah dan ibu." Tak lagi menolak, Rangga hanya bisa pasrah.
"Baguslah." Terlihat senyum kemenangan tercetak dari wajah rupawan sofyan. "Ayah bahkan sudah bisa menebak isi kepalamu." Terkekek. Sofyan merasa puas saat sang putra tak lagi menolak.
Rangga terdiam.
"Baiklah, ayah harus pergi." Sofyan bangkit dari posisinya. Berjalan kearah sang putra dan menepuk pundaknya lembut. "Bekerjalah. Ayah percayakan perusahaan ini padamu."
"Ya," ucap Rangga seraya mengangguk pelan.
Pria paruh baya itu tersenyum tipis kearah sang putra. Sebelum melangkah dan mulai meninggalkan ruangan.
__ADS_1
Hening, hanya ada helaan nafas berat dari pria tampan dengan fikiran gamang.
Bersambung..