
Beberapa Waktu Sebelumnya.
Mungkin ini sudah menjadi takdir. Begitu isi hati Arkana berbicara. Selepas pulang sedari menghadiri meting penting perusahaan. Ia menemukan tubuh Anastasya yang tergeletak di jalan dengan dikerumuni banyak orang.
Arka terkejut luar biasa. Meski pun penampilan Anastasya berantakan dengan beberapa luka, namun pria itu masih bisa mengenalinya.
"Anastasya, kekasih Rangga," gumam Arka.
Entah angin apa yang membuatnya mendadak turun dari mobil untuk memeriksa korban kecelakaan di jalanan, yang seumur hidup tak pernah ia lakukan.
Ia pun memberi kode pada Sam, sang asisten pribadi untuk membopong tubuh Anastasya dan memasukannya kedalam mobil.
Dalam perjalan menuju kediamannya, Arka membaringkan tubuh Anastasya di kursi belakang, sedangkan kepala gadis itu berbantalkan kedua pahannya.
Arka menghela nafas. Dadanya begitu sesak melihat hidup seorang gadis yang harus hancur karna korban keegoisan. Kondisi Anastasya begitu menyedihkan dengan perut yang terlihat membesar.
Ya tuhan.
Tubuh Arka gemetar. Tak sadar ia menggengam kedua tangan Anastasya erat, seolah memberikan kekuatan.
"Bersabarlah. Kau pasti kuat." Gadis itu pingsan, hanya deru nafasnya yang terlihat beraturan.
"Sam, tolong hubungi Ka Bram untuk datang kerumah secepatnya," titah Arka pada Sam yang masih fokus mengemudi.
"Baik, tuan."
Melihat kondisi Anastasya kini, seakan mengingatkan Arka pada kenangan beberapa tahun silam. Saat Arina, adik kandungnya ditemukan tak bernyawa di sebuah bangunan tua. Meninggal dalam kondisi mengenaskan dalam keadaan mengandung.
Ada yang mengalir dari sudut netra Arkana. Entah mengapa begitu melihat Anastasya ia seperti bisa merasakan penderitaan gadis tersebut.
💜💜💜💜💜
"Dia hanya pingsan. Tetapi tubuhnya benar-benar lemah. Beruntung janin dalam kandungannya masih bisa dipertahankan dan tak menimbulkan dampak apa pun. Bayi perempuan ini cukup kuat." Begitulah pemaparan dokter Bram pada Arkana selepas memeriksa kondisi tubuh Anastasya.
Arka mengangguk.
"Terimakasih, kak."
Bram tersenyum tipis. Ditatapnya perempuan yang masih terbaring lemah itu lekat.
"Arka, siapa dia? Wajahnya terasa asing bagiku, atau..."
__ADS_1
"Dia teman dekatku kak."
Bram mengerutkan dahi. Cukup terkejut dengan jawaban yang diberikan Arka.
Apa, teman dekat? Seorang perempuan, dalam kondisi hamil pula.
"Maksudmu, dekat dalam artian seperti apa?" Bram meringis. Rasa penasaranannya seolah bergejolak untuk minta dituntaskan.
"Maaf kak, aku belum bisa menjawabnya sekarang."
"Haha, baiklah baiklah. Maaf, keingintahuanku meningkat tiga kali lipat jika sudah berhubungan dengan kisah asmaramu."
Sebab kau tak pernah dekat dengan perempuan makanya aku sekepo ini. Hati Bram berbicara. Namun tentu saja ia tak mau terang-terangan mengucapnya.
Arka menatap tajam Dokter Bram, hingga pria yang dipandang itu pun gelagapan.
"Huhu, lebih baik aku pergi sebelum semuanya terlambat." Bram mengemasi peralat medisnya ke dalam tas kemudian berpamitan pada Arka.
"Jangan lupa untuk memberikan obat itu tepat waktu supaya cepat pulih," titah Arka pada salah satu pelayan yang bertugas menunggu Anastasya.
"Baik tuan."
Arkana mengangguk samar dan melepas kepergian Bram.
💜💜💜💜💜
Duduk termenung dikursi meja kerjanya, Arkana berfikir keras untuk merancang kehidupan Anastasya setelah perempuan itu sadar.
Apakah ia akan membiarkan ia pergi? Tentu tidak, bagaimana jika perempuan itu nekat untuk kembali menghabisi nyawanya sendiri. Tentu dirinyalah yang akan paling merasa bersalah di sini. Bukannya melindungi namun membiarkan perempuan itu pergi.
"Lalu apa yang harus kuperbuat?"
Arka berfikir keras, menimang berbagai alternatif untuk masa depan Anastasya kelak. Dalam kebingungan yang melanda, tanpa sengaja pandangannya tertuju pada bingkai foto kecil keluarganya.
Ia, kedua orang tua, jua adik perempuannya. Arka meraih figura foto tersebut, menatapnya lekat kemudian mengusap permukaan kaca itu lembut.
"Arina," gumam Arka.
Ada emosi jika yang terasa membakar begitu ingatannya tertuju pada Arina. Ia seakan gagal menjadi sosok seorang kakak, yang tak mampu menjaga adik perempuannya sendiri.
Anastasya dan Arina, dua perempuan berbeda namun memiliki takdir nyaris sama. Hamil, kemudian ditinggalkan begitu saja. Beruntungmya Anastasya ia masih dipertemukan oleh orang baik yang menyelamatkan hidupnya, berbeda dengan Arina yang memilih pergi dalam keterpurukan, hingga ditemukan meninggal tanpa adanya saksi mata.
__ADS_1
Ujung netra Arkana memanas.
"Apakah seorang wanita terlahir ke dunia hanya untuk disakiti?"
Pria itu mengelengkan kepala. Tak habis fikir dengan ulah pria brengsek yang hanya menganggap seorang wanita hanya untuk pelampiasan hawa nafsu semata. Menjeratnya dengan sejuta pesona untuk bisa mereguk madu manis dari bunga yang bermekaran. Setelah puas, para kumbang pun melenggang pergi. Tak ada belas kasih, hingga membuat sang bunga menangis dan terhanyut dengan jutaan rasa sesal.
Menikah.
Tiba-tiba momen di mana Rangga berlutut di hadapan dan memintanya untuk menikahi Anastasya, terbesit di dalam benak.
"Tidak, aku bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya, jadi mana mungkin."
Gamang. Hati dan fikirannya seolah berperang.
"Tapi jika ia sadar pun tidak mungkin aku bisa menahannya untuk tetap tinggal di sini. Kita bukan mukhrim, tidak mungkin untuk tinggal serumah meskipun tak melakukan apa-apa."
Bagaimana ini.
Sepuluh menit.
Tiga puluh menit.
Hingga satu jam berlalu Arka masih tak menemukan jawaban dari keputusan yang akan ia ambil. Hingga sebuah ketukan di pintu, membuyarkan lamunannya.
"Masuklah."
Pintu terbuka.
"Tuan muda, nona yang pingsan sudah sadar," lapor seorang pelayan perempuan.
"Baiklah, aku akan melihatnya."
Pelayan itu menundukan kepala kemudian berlalu pergi.
Arka bangkit dan disaat itu pula ia mendapatkan jawaban dari keputusan itu.
Menikah.
"Ya, aku akan menikahinya. Untuk memenuhi janjiku pada Rangga."
Entah benar atau pun salah, langkah yang akan Arka ambil. Akan tetapi pria itu yakin jika dengan menikahi gadis itu saat ini, merupakan pilihan yang paling tepat. Bukan hanya untuk menjaganya namun juga menyelamatkan nyawanya jika psikisnya tengah tak stabil.
__ADS_1