Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Nikahilah Dia, Untukku


__ADS_3

Sungguh tak pernah terfikir jika sosok Pria yang terbiasa kuat itu, kini rapuh dengan bahu bergetar menahan isak yang tertahan. Untuk beberapa saat Arka terdiam, memberikan tubuhnya untuk tempat bersandar sang sahabat.


Setelah dirasa cukup tenang, Arka mengiring langkah kaki pria itu menuju sofa. Mendudukannya perlahan, kemudian memberinya sebotol air mineral yang sudah tersedia di atas meja.


"Ada apa? katakanlah." Arka menatap sang sahabat yang masih menetralkan deru nafasnya di atas tempat duduknya. Wajah pria itu terlihat kusut masai dengan sepasang netranya yang terlihat lelah.


"Anastasya," ucap Rangga lemah dengan wajah tertunduk.


Anastasya


Arka coba mengingat sebuah nama yang diucap Rangga. Namun nihil, pria itu gagal mengingat sosok pemilik nama yang baru saja disebut Rangga.


"Di-dia mengandung anakku." Rangga terisak lagi, sementara kedua telapak tangan menutup wajahnya.


Arka terkesiap, tubuhnya pun tersentak.


Benarkah?


"Apa maksudmu. Tidak mungkin, kau tidak mungkin melakukannya, 'kan?" Setahu Arka, Rangga memang terkenal playboy. Kerap bergonta ganti pasangan, namun rasanya tidak mungkin jika sahabatnya itu akan melakukan tindakan serendah itu, tanpa memikirkan nama baik keluarganya.


Sejenak, Rangga masih terdiam. Selepas menetralkan deru nafasnya yang tak beraturan, mengalirlah semua cerita tentang sosok Anastasya. Sang gadis dari keluarga teramat sederhana yang sudah memporak porandakan perasaannya. Rasa cintanya yang begitu besar namun berbanding terbalik dengan perlakuan orang tuanya pada sang gadis idaman.


Arka terlihat berulang kali menghela nafas kasar saat Rangga begitu detail menceritakan seluruh prahara yang terjadi. Ada rasa iba juga kekecewaan, terlebih kala Rangga menguak kembali kejadian suatu malam dimana kegadisan Anastasya ia renggut, akibat pengaruh alkohol yang mencabut paksa kewarasannya.


"Anastasya," gumam Arka begitu lirih.

__ADS_1


Seketika Arka teringat akan sosok gadis yang mendatangi mejanya bersama Siska pada saat pesta penyambutan Rangga sekembalinya dari negara Xx.


Gadis itu memang terlihat cantik, namun Ketidak sukaan Siska pun begitu ketara sebab perempuan paruh baya itu tak berniat memperkenalkan Anastasya pada tamu undangan meskipun gadis tersebut berdiri di belakangnya. Sungguh miris.


Arka spontan menelan saliva berat. Sejauh ini memang dirinya tak pernah berhubungan dekat dengan gadis mana pun. Akan tetapi jika ia mencintai gadis yang tak sepadan, apakah sang ibu akan bersikap demikian? Entahlah.


"Ayah benar-benar menutup semua akses yang bisa kugunakan untuk bisa menghubungi Tasya. Aku bisa gila, Arka. Aku bisa gila jika terus seperti ini." Rangga terlihat frustrasi. Kedua tangannya seakan hendak mencabut paksa seluruh rambut di kepalanya. Menjambaknya tanpa ampun, disertai raungan yang menggema di sekuruh ruangan. Beruntung ruang kerja Arka kedap suara, hingga dipastikan jika siapa pun diluar sana tak mampu mendengar.


"Rangga, Stop!" Bukan hanya Rangga, Arka pun ikut frustrasi dengan hanya melihat hancurnya hidup sang sahabat.


Orang tua Rangga terkesan ingin memisah paksakan sepasang kekasih yang seharusnya dinikahkan. Dengan mengirim Rangga ke negara xx, tentu bukanlah solusi yang benar, namun justru sebaliknya.


Sedangkan apa yang ditawarkan orang tua Rangga pun terkesan tak masuk akal. Membangkitkan perusahan yang tengah diambang kebangkrutan, Arka tau pasti jika membutuh waktu dan proses cukup lama. Apakah Rangga tidak berfikir sebelumnya, dan menganggapnya enteng seperti bisa menyelesaikannya dalam waktu sehari semalam saja. Dasar bodoh!


"Ayah mengancam akan mengusirku jika aku memilih Tasya." Rangga tertunduk.


Rangga kembali mengacak surainya yang sudah berantakan.


"Tapi aku ini anak tunggal. Bagaimana pun aku tak boleh egois dengan hanya memikirkan kepentinganku saja. Media masa pasti akan menyoroti kehidupan kami yang pastinya berimbas pada bisnis dan nama baik keluarga yang dijaga puluhan tahun lamanya. Aku hanya tidak ingin jika masalah diriku, menciptakan kehancuran bagi keluargaku."


Arka tersenyum miring. Kenapa saat ini Rangga justru terlihat tak lebih baik dari seorang pecundang.


"Dari sekian banyak kata yang terucap dari bibirmu, kenapa hanya ada kata keluarga, orang tua, bisnis dan sebagainya. Tetapi begitu sedikit kau menyebut nama gadis yang sudah kau gauli hingga hamil. Hei, sadar. Justru dari masalah ini, sosok gadis itulah yang paling tersakiti." Deru nafas Arka mulai tak beraturai. Sorot netranya memancarkan Amarah.


"Tidakkah sedikit saja kau berfikir bagaimana kodisinya saat kau tinggalkan? Dia sedang mengandung, darah dagingmu, dan kau akan meninggalkannya begitu saja?"

__ADS_1


Rangga terdiam.


"Bayi yang ada dikandungannya juga butuh figur seorang ayah yang bisa menemani ibunya selama sembilan bulan mengandung bahkan menjaganya saat bayi itu sudah terlahir di dunia. Tidakkah kau berfikir sedikit saja kearah sana, bagaimana tersiksanya gados itu saat kau tinggalkan tanpa adanya penjelasan."


"Ayah dan ibu sudah berjanji untuk menyelesaikannya. Aku yakin jika mereka pasri akan memberi pengertian pada Tasya, saat aku tinggalkan."


Arka kini tertawa seraya menggelengkan kepala. Tak habis fikir dengan isi kepala sang sahabat.


"Apa kau percaya begitu saja? Paman bahkan mencegahmu untuk bertemu juga menghubungi gadis itu. Tidakkan kau merasakan kejanggalan? Paman dan bibi jelas terlihat tak menyukainya, jadi mana mungkin bisa meyakinkah gadis yang kau hamili."


Rangga terdiam. Wajah dan penampilan pria itu amatlah kacau. Rangga yang tampah dan berwibaha seakan hilang entah kemana. Berganti dengan wajah kusut masai dengan penampilan awut-awutan.


Arka masih setia menatap lekat sang sahabat. Raut wajah yang semula sempat tenang, kembali menegang. Kekhawatiran jelas terlihat dari sorot matanya. Apakah kini pria itu mulai berfikir jauh kedepan. Membayangkan beberapa kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpa Anastasya selepas dirinya meninggalkan ibu kota.


Pria itu terlihat bangkit, namun beberapa detik kemufian menubruk pangkuan Arka dan bersujud di kakinya.


"Arka, aku mohon, nikahilah Tasya."


Arka terkesiap. Sepasang matanya membulat seketika.


"Apa yang kau lakukan." Arka berontak, hendak melepas belitan tangan Rangga dari sepasang kakinya.


Rangga enggan bergerak, kini justru bibirnya mencium kaki Arka yang terlapisi sandal rumahan.


"Aku mohon, nikahilah Tasya. Jagalah dia selama aku pergi."

__ADS_1


Kini Arkalah yang terlihat frustrasi. Tindakan bodoh macam apa lagi yang akan dipilih Rangga kali ini. Tetapi kenapa harus membawa masuk dirinya yang sejatinya tak patut di sangkut pautkan sama sekali dalam prahara keluarga sang sahabat.


Bersambung


__ADS_2