
Suara hentakan kaki dan roda brankar yang beradu dengan lantai keramik, memenuhi area loby rumasakit saat tubuh perempuan hamil tergolek lemah di atas brankar dengan bibir meringis menahan rasa sakit.
"Cepat suster," pinta perempuan itu untuk kesekian kali.
"Sebentar nona." Bermaksud menenangkan, beberapa suster terus menjawab ucapan sang pasien dengan lembut meski suasana hati campur aduk.
Beberapa orang menyusul di belakang, hanya bisa mengikuti jejak para medis di depannya. Begitu menemukan pintu lift, dengan sigap para medis memasukan brankar pembawa pasien itu menuju ruang Vvip yang berada di lantai teratas bangunan.
Di dalam lift yang berjalan, Mirah coba menghubungi Arka. Selepas beberapa saat dibuat panik dengan kondisi Anastasya, kini perempuan baruh baya itu bisa berfikir jelas dan lekas menghubungi sang putra untuk mengabarkan kondisi menantunya tersebut.
"Ya tuhan, lindungilah menantuku," lirih Mirah saat menunggu panggilan telepon tersambung.
💜💜💜💜💜
Mirah dan Arka tak mampu menyembunyikan kesedihan saat dokter spesialis kandungan memaparkan kondisi Anastasya saat ini.
"Ada suatu kendala yang membuat janin harus dilahirkan lebih awal. Dan kami akan segera melakukan tindakan operasi cecas untuk mempercepat proses kelahiran."
Keduanya menelan saliva berat. Tim dokter sudah menentukan yang terbaik untuk Anastasya dan calon bayinya. Arka sebagai suami hanya bisa menyangupi, dan memanjatkan doa untuk keselamatan istri juga anaknya.
Di dalam ruang operasi, Arka senantiasa menggengam tangan Anastasya untuk mengalirkan kekuatan. Diusapnya kening perempuan itu lembut, berusaha untuk menenangkan.
Gurat kecemasan dan ketakutan tercetak celas di wajah cantik Anastasya. Wajar mengingat proses kelahiran ini adalah pengalaman pertama untuknya.
"Rileks, tenangkan pikiran dan jangan khawatirkan apa pun. Aku di sini ada untukmu. Kau hebat, kau ibu yang hebat untuk anak kita nanti." Kalimat penenang yang tak hentinya dibisikan oleh Arka disepanjang proses kelahiran.
__ADS_1
Entah apa yang dirasakan Anastasya, namun sudut matanya memanas dan tak mampu untuk membendung lelehan kristal yang luruh begitu saja.
Dia menangis sebab menyesal saat dari dulu kenapa takdir menemukannya dengan sosok Rangga dan bukan Arka yang kini tengah menggengam tangannya di meja operasi.
Menyesal kenapa bukan Arka saja yang menjadi ayah biologis calon bayinya dan justru Rangga yang lari meninggalkannya.
"A-arka, terimakasih. Maafkan aku." Satu kalimat terucap dari bibir Anastasya. Sebuah kalimat tulus sebagai luapan isi hatinya untuk Arka.
Arka mengernyit.
*Terimakasih.
Maafkan aku.
Arka tak menjawab, hanya seulas senyum tipis yang terukir di bibir sensualnya.
Tangisan banyi menggema memenuhi ruangan. Anastasya dan Arka diliputi rasa haru dan bahagia tak terkira.
Anastasya hanya mampu menatap bayinya sekilas sebelum tubuh mungil itu dibersihkan oleh seorang perawat kemudian membawanya keruangan khusus.
Arka tetap berada di sisi Anastasya. Dengan setia ia menemani sang istri dari berbagai macam proses selepas operasi hingga dipindahkan keruangan observasi.
Tak ada kendala apa pun meski kondisi tubuh Anastasya masih lemah. Begitu pun dengan bayi laki-laki yang dilahirkan. Bayi itu sehat meski lahir lebih cepat dari perkiraan.
Anastasya sempat mengingat sesaat kala ia dipertemukan dengan sang buah hati. Bayi itu tampan, berkulit putih dengan surai hitam lebat. Begitu mirip dengan wajah Rangga yang membuat perasaan Anastasya kian porak poranda.
__ADS_1
Rasanya ingin protes pada sang pencipta, kenapa tak menjadikan paras sang putra lebih mirip dirinya dan justru mirip pria yang sudah meninggalkannya.
Namun, dia bisa apa selain menerima takdirnya.
Ketukan pada pintu ruangan membuyarkan lamunan Anastasya. Rangga yang duduk menunggunya, spontan bangkit.
Seorang perawat muncul dari pintu yang terbuka dengan wajah pias. Dan entah mengapa Anastasya merasakan ada sesuatu hal yang tak baik-baik saja.
💜💜💜💜💜
Sesak di dada. Anastasya bahkan tak mampu menangis untuk meluapkan rasa sedihnya. Putra yang beberapa jam ia lahirkan, kini terlelap tenang dengan jantung tak lagi berdetak.
Ingin rasanya menjerit, namun tak bisa.
Ingin rasanya meraung, tapi ia tak kuasa.
Anastasya menelungkupkan wajah pada dada bidang Raka untuk meluapkan segala sesak di dada.
Para tim medis yang membantu proses kelahiran bayi tersebut pun ikut berduka. Semua menunduk juga sesekali terdengar isak lirih dari bibir mereka. Akan tetapi selepas melihat ketegaran dari seorang Anastasya, membuat mereka sadar jika semua memang sudah garis takdir dari sang maha kuasa.
Semula bayi dengan berat 3,450 gram itu terlahir cukup sehat. Sama sekali tak bermasalah hingga dipindahkan keruangan khusus. Akan tetapi setelah dua jam bayi tersebut terlihat pucat begitu pun dengan detak jantungnya yang melemah. Para dokter dan perawat gelagapan. Berbagai pertolongan dan alat bantu dipergunakan, namun nihil, semua tak menuai hasil hingga bayi mungil itu menghembuskan nafas terakhir selepas dua jam dilahirkan kedua.
Sang pencipta lebih menyayangi bayi Anastasya. Dan membawanya kesurga terindah sebagai tempat tinggal.
Putraku telah pergi, sama seperti sang ayah yang pergi meninggalkanku.
__ADS_1