Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Jaga Dirimu


__ADS_3

Hari berganti hari, Anastasya begitu menikmati hidup baru beserta pekerjaannya. Tak terasa dua bulan sudah ia hidup di kota. Meski hanya seorang diri, namun ia tak pernah sekali pun merasa kesepian. Perhatian dan juga keakraban yang dirajut bersama teman-teman seprofesi membuat hari-harinya tanpa beban, bahkan berlalu dengan cepat.


Setiap bulan pun gadis itu rutin mengirim sebagian besar gajinya untuk paman dan bibinya di kampung. Sebab itulah yang menjadi tekad besarnya mengais rezeki di ibukota. Bekerja keras, untuk kehidupan keluarganya yang lebih layak.


Kaki gadis itu mulai melangkah menuju tempat kerja selepas menghabiskan satu piring nasi pecel komplit mbok Siti sebagai sarapan. Terdengar ia bersenandung lirih guna menangkis sepi saat berjalan seorang diri. Sementara Tia, sang sahabat, kini mendapat giliran sift malam hingga memaksa keduanya terpisah untuk sementara waktu.


Berkutat dengan sapu dan kain pel, itulah kesibukan yang jalani Anastasya dua bulan ini. Tak ada keluh kesah, yang ada hanya sebuah senyuman dari bibir mungilnya.


Pekerjaannya memang terbilang berat. Akan tetapi, dikampung pun ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan yang lebih berat dari pada ini. Lagi pula, gajinya pun cukup besar dan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan nya juga keluarganya.


Selesai merampungkan tugas, Anastasya bergerak membantu beberapa rekan untuk menyusun produk-produk di dalam rak dan juga etalase. Meski tergolong bukan pekerjaannya, tetapi gadis itu tak keberatan. Baginya, bukankah sesama teman itu harus saling membantu.


Tak ayal, dalam sekejap Anastasya menjelma layaknya seorang primadona. Digandrungi bukan hanya kaum adam, tetapi Kaum hawa pun mengagumi akan kebaikan dan juga ketulusannya.


Braakk..


Suara benda berjatuhan itu membuat Anastasya yang tegah bekerja itu membalikan badan dan mencari kearah sumber suara.


Gadis cantik itu menatap kearah seseorang dengan keranjang dan belanjaan yang berhamburan kelantai.


Anastasya pun bangkit dari posisinya. Bergerak cepat menuju seseorang tersebut yang nampaknya kesusahan.


"Mari saya bantu." Tanpa menatap seseorang tersebut, Anastasya berlutut dan lekas memunguti belanjaan yang tercecer kembali kedalam keranjang.


"Terimakasih," jawab seseorang yang rupanya terkesiap dengan kehadiran seseorang gadis di hadapannya secara tiba-tiba.


Seorang pria itu justru tertegun. Tak mampu berbicara dan hanya menatap kearah gadis berpakaian karyawan yang dengan cekatan memungut barang belanjaannya.


"Sudah selesai, pak." Anastasya pun mendorong keranjang berisi penuh barang itu kekaki pria yang sama sekali tak berbicara itu. Setelah membungkukan badan, Anastasya pun bergegas pergi dan melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda.


Pria itu mengerjap. Sadar jika gadis itu berjalan menjauhinya, ia pun spontan berteriak.


"Tu-tunggu!"


Tetapi sayang, gadis itu sudah berjalan cukup jauh dan tak mendengar panggilannya. Terlebih, gadis itu memasuki ruangan lain hingga membuatnya benar-benar tak terlihat.


"Ah sial." Maki pria itu untuk dirinya sendiri.


"Kenapa lidah ini tiba-tiba kelu. Sayang sekali, setidaknya aku mengucapkan terimakasih sebelum gadis itu pergi. Ah sial."


Mendengus kesal, pria tampan berbadan tegap itu tak henti memaki dirinya sendiri dalam hati. Pria yang baru dua hari menginjakkan kakinya kembali keibu kota, selepas menempun pendidikan S2 di singapura itu seakan terhipnotis pada seorang gadis yang beberapa menit lalu membantunya.


"Sial, aku bahkan tak sempat bertanya siapa namanya," gumam pria tampan itu sembari meremas geram udara.

__ADS_1


******


"Kau sudah pulang?" Tanya Tia saat berpapasan dengan Anastasya dipersimpangan jalan.


"Ya, seperti yang kau lihat," canda Anastasya seraya mengerlingkan satu netranya.


"Ih genit." Tia mencebikkan bibir. Setengah jengkel pada pembagian sift yang membuat keduanya terpisah.


"Sudah, berangkatlah. Kau bisa terlambat jika terus menggodaku." Anastasya terkekeh selepas berucap.


"Sayang sekali kita harus terpisah," Sesal Tia dengan wajah memelas.


"Ah sudahlah. Lagi pula ini tidak akan lama. Minggu depan pasti sudah berubah, dan kita bisa bersama lagi."


Berusaha menghibur sang sahabat, Anastasya sengaja melempar berbagai guyonan. Tak seperti Anastasya, Tia justru bersikap sebaliknya. Gafis itu tampak murung, dan tak ada cahaya yang tersirat di wajah ayunya.


"Ana, selama tidak ada aku, berhati-hatilah dan jaga dirimu baik-baik."


Bibir mungil Anastasya yang masih mengulas senyum itu perlahan memudar.


"Tia, kau ini bicara apa? Jangan menakutiku."


Tak menjawab. Gadis bersurai sebahu itu hanya mengeleng samar, mengulas senyum tipis kemudian berlalu pergi.


"Ana."


"Kenapa dia? Aneh sekali."


Anastasya langsung membersihkan diri. Tubuhnya yang lelah dan lengket oleh keringat, terasa nyaman saat guyuran air membasahi seluruh tubuhnya. Disela aktifitas, Anastasya tak henti memikirkan tingkah Tiara yang kali ini cukup berbeda dari biasanya.


"Tetapi kenapa? Ada Apa?" Ia bahkan tak tau jawabnya.


Direbahkannya tubuh lelah itu di atas pembaringan. Meski lapar melanda, tapi rasa kantuk lebih mendominasi. Hingga kedua netra gadis cantik itu terpejam, dan terlelap menuju alam mimpi.


*******


"Ana, Ana. Bangun."


Teriakan beberapa orang dari luar pintu kamar, membuat gadis yang sedang bermimpi indah itu mulai mengerjap.


"Ana, cepat bangun." Kali ini, Bukan hanya teriakan, tetapi juga diiring tangisan.


Meski berat, Anastasya membuka lebar kedua netra dan berjalan terseok membuka pintu kamarnya yang dikunci.

__ADS_1


"Ana, bagaimana ini. Tempat kerja kita terbakar, dan beberapa rekan kita masih terjebak di dalamnya."


"Apa?"


Gadis itu terkesiap. Seketika fikirannya tertuju pada Tiara.


"Bagaimana dengan Tia?"


"Entahlah," jawab salah satu rekan Anastasya.


Tak menunggu lama dan tanpa mengganti pakaian, Anastasya beserta beberapa rekannya berlari kearah pusat perbelanjaan guna mencari tau. Anastasya bergidik ngeri. Dari kejauhan api yang membakar tempat kerjanya sudah terlihat. Ditambah semilir angin malam yang membuat api kian membesar.


Tim pemadam sudah dikerahkan. Terlihat semua orang hilir mudik menempuh berbagai macam cara untuk menjinakan si jago merah yang mulai tak terkendali dan mulai merambat kebangunan lainnya.


Ya Tuhan, bagaimana ini.


Anastasya hanya menangis. Bukan hanya pekerjaannya yang terancan hilang, tetapi ia juga masih belum menemukan Tiara sahabatnya.


Anastasya mendekat kearah kerumunan. Tampak beberapa staf di tempat kerjanya dan juga rekan-rekannya yang selamat dari bara api. Bahkan beberapa dari mereka langsung dilarikan kerumasakit terdekat guna mendapatkan perawatan. Tetapi, Tiara tak nampak ada di sana.


Tia, di mana Tia.


Suasana Kian mencekam saat seluruh bangunan pusat perbelanjaan nyaris terbakar keseluruhan. Bulir bening di netra Anastasya bahkan sudah sedari tadi mengalir. Tidak ada hal lain yang gadis itu fikirkan, kecuali Tiara.


Beberapa Tim penolong pun memberi himbauan pada Anastasya untuk menjauh. Akan tetapi, gadis itu sedikit abai sebab masih ingin mencari keberadaan sang sahabat.


"Ana, menjauhlah. Kau bisa membuat tim pemadam kesulitan." Bibi Arum menatik tangan Anastasya untuk menjauh dari bahaya.


Satu persatu tim pemadam membopong tubuh tak berdaya yang Anastasya yakini jika tubuh itu tak lagi bernyawa. Hingga sepasang netra Anastasya membeliak, mendapati sepasang benda yang sangat ia kenal, berada ditubuh seseorang yang terbaring lemah diantara tubuh-tubuh lainya.


"Tiara!" Teriak Anastasya sekencangnya.


Ditubruknya tubuh seseorang itu. Bibi Arum pun mendekat. Ditatapnya tubuh yang setengah menghitam itu dengan seksama. Anastasya kian meraung saat sepatu yang seseorang itu pakai begitu mirip dengan milik Tia. Begitu pun celana jeans, dan Aksesoris yang melekat ditubuh gadis itu, membuat Anastasya kian yakin.


"Tidak salah lagi, Ana. Dia pasti Tiara," ucap Bibi Arum dengan bibir bergetar dan bulir bening yang mulai merembas.


"Tia, Tiara, bangunlah." Anastasya yang histeris, menguncang-guncang tubuh Tiara yang separuh hangus. Tubuh itu terbujur kaku, dengan wajah yang sulit dikenali. Akan tetapi keduanya meyakini, jika tubuh itu adalah tubuh Tiara.


"Maah, kami tidak bisa menyelamatkannya. Gadis itu terkunci di gudang, bersama bahan-bahan yang mudah terbakar."


Meski sejuta sesal tampak diwajah beberapa tim pemadam. Namun nyatanya, tubuh itu sudah tak bernyawa lagi. Semua memang sudah menjadi takdir. Baik Rezeki, Jodoh, atau maut sekalipun, hanya tuhanlah yang mengetahui.


Bersambung....

__ADS_1


Lika liku hidup Anastasya, sebelum bertemu dengan Rangga ataupun Arka. Disimak terus ya, dan jangan bosen buat terus baca. Juga like dan komentarnya yang selalu autor tunggu.


Terimakasih 😍😍😍😍


__ADS_2