Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Dibawa Paksa


__ADS_3

Ditengah kegamangan, Arka menyugar surai lebanya kasar. Pria itu menghela nafas kasar, terlebih saat melihat Rangga yang masih berlutut di kakinya.


Sial, apa yang dia lakukan.


"Rangga, bangkit," titahnya. "Hal macam bodoh apa yang sudah kau lakukan. Kau fikir aku tuhan, hingga kau pantas bersujud di kakiku." Arka mencengkeram kedua bahu Rangga. Menggajak pria itu untuk bangkit.


"Tidak," tolak Rangga. "Aku tidak mau bangun sebelum kau mengabulkan keinginanku." Jawaban Rangga justru membuat Arka kian frustrasi.


"Jangan bertindak bodoh Rangga. Kau fikir pernikahan itu hal yang pantas dipermainkan." Nafas Arka memburu. Terlebih saat Rangga kian mempererat dekapan pada sepasang kakinya. "Jadi buanglah fikiran bodohmu untuk memintaku menikahi kekasihmu. Aku tidak mengenalnya, begitu pun sebaliknya. Jadi tidak mungkin jika pernikahan itu terjadi."


Rangga memejamkan sepasang netranya yang memanas. Jika Sahabatnya sendiri menolak, lalu bagaimana kelangsungan hidup Anastasya setelah ia tinggalkan. Mustahil jika ia tak tau menahu akan rencana yang tengah dirancang kedua orang tuanya. Pergi tanpa memberi kabar lebih dulu pada Anastasya, bukankah itu sama halnya dengan lari dari tanggung jawab.


Sedangkan ucapan orang tuanya yang akan mengatakan perihal kepergiannya langsung pada Anastasya, apakah Rangga mempercayainya begitu saja? Tentu tidak. Bahkan Rangga sendiri sudah hafal akan karakter kedua orang tuanya yang tak akan mungkin merendahkan harga diri di depan orang lain, terlebih pada seorang Anastasya yang hanya dianggap gadis rendahan.


Akan tetapi ia tak mampu berbuat banyak. Hakikatnya sebagai anak semata wayang dari keluarga terpandang, membuatnya harus mengambil keputusan yang mungkin saja bertolak belakang dengan kata hatinya. Ia bahkan tak diberi keleluasaan walau hanya sekedar menentukan keputusan.


"Lalu bagaimana dengan Anastasya?" Wajah Rangga mulai terangkat, begitu pun dengan tubuhnya. "Dia gadis baik, kami hanya satu kali melakukan dan itu pun dalam pengaruh alkohol yang sengaja dipersiapkan oleh perempuan sialan itu." Rangga kembali mengingat wajah Sarah. Perempuan cantik bertopeng iblis itu membuatnya muak.


"Malam itu aku menemani Anastasya untuk bertemu dengan salah satu teman yang sudah berjasa besar membawa Anastasya masuk ke dalam dunia permodelan. Tasya memang diminta bertemu seorang diri, namun aku memaksa ikut, sebab aku sudah mengendus rencana busuk yang tengah perempuan itu siapkan untuk kekasihku. Dan benar saja, dia membawa kami kesebuah tempat, kemudian memaksa kami minum alkohol dan Aku tak bisa menolakknya. Tapi ketahuilah, aku sangat mencintai Tasya lebih dari apa pun itu."


"Maka, nikahilah dia," pungkas Arka cepat.


Rangga mengusap wajahnya kasar.


"Tidak semudah itu, Arka. Kau tahu sendiri, 'kan?"

__ADS_1


"Pasti ada cara lain agar paman juba bibi bisa menerima kekasihmu."


"Cara apalagi?" Rangga berteriak frustrasi. Bayangan wajah Anastasya yang menangis, membuatnya tersiksa. "Ayah bahkan sudah ingin menjodohkanku dengan seorang gadis yang tak kucintai. Mereka juga memilih menghindar saat Tasya datang kerumah. Bukankah itu sudah menjadi bukti kuat jika orang tuaku menolak hadirnya Tasya dalam hidupku?"


Rangga menghempaskan bobot tubuh di atas sofa tunggal. Sebegitu peliknya kah kisah cintanya, hingga ia sendiri tak mampu membahagian hati gadis yang ia cinta.


Arka terdiam. Meski belum pernah menjalani hubungan Asmara dengan seorang gadis yang ia cinta, akan tetapi ia pun bisa merasakan penderitaan yang sang sahabat alami saat ini.


Hubungan tanpa adanya restu orang tua. Mungkin itulah kisah asmara yang dijalani Rangga dan Anastasya kini.


"Kau tau, aku begitu mencintai Tasya. Aku sendiri tak mampu membayangkan jika harus hidup jauh darinya." Kedua telapak tangan besar itu menutup wajah. Menangis dengan isak pilu menyayat hati.


Arka terkesiap. Seumur hidup, dan untuk kali pertamanya ia melihat seorang Rangga menangis. Menangis untuk seorang gadis yang tidak dianggap keberadaannya oleh kedua orang tuanya.


Ketukan pintu terdengar. Arka bergegas membukanya dan mendapati beberapa pengawal berbadan tegap sudah berdiri di balik pintu yang terbuka.


"Malam."


"Maaf jika kami sudah lancang. Kami hanya diutus tuan Sofyan untuk membawa tuan muda Rangga pulang. Penerbangan ke negara xx akan dilaksakan dua jam kedepan dan tuan muda diminta untuk lekas bersiap." Seorang pengawal mewakili beberapa pengawal lain untuk berbicara.


"Apa maksud kalian, aku bukan anak kecil yang harus kalian paksa. Aku masih ingin di sini. Menghabiskan waktu bersama Arka, beberapa jam lagi."


Arka yang masih berdiri di ambang pintu, tak mambu berbuat banyak. Ia Diam, mengingat hal ini bukan ranahnya untuk ikut campur.


"Maaf tuan muda, tapi kami bergerak atas utusan tuan besar." Beberapa pengawal itu mulai memasuki ruangan. Mendekati sang tuan yang masih terduduk di sofa.

__ADS_1


"Mau apa kalian," panik Rangga saat kedua pengawal mengapit tubuhnya dan membawanya bangkit.


"Tuan besar meminta kami untuk membawa tuan mudah pulang bagaimana pun caranya."


"Lepas." Rangga berontak. Berusaha lepas dari tangan pengawal yang menghalau pergerakannya.


"Maaf tuan, kami hanya melaksanakan perintah."


Beberapa pengawal justru muncul kembali. Hingga terhitung ada enam pengawal bebadan kekar yang berusaha membawa paksa Rangga secepatnya.


"Sial, apa-apaan kalian. Kalian tidak ada hak untuk membawaku dengan cara seperti ini," maku Rangga dengan mengerahkan seluruh tenangganya untuk berontak. Akan tetapi, tenaga tak sebadan dengan keenam pengawal yang sudah mengunci pergerakan tubuhnya.


"Arka, Arka tolong aku. Ayo, tolong aku," teriak Rangga memelas seraya menatap kearah Arka dengan mata berkaca-kaca. Ia tetap berontak diselingi raungan yang menyayat hati.


Arka tetap diam. Meski sejujurnya ia pun tak terima jika sang sahabat diperlakukan sedemikian rupa.


Seluruh pengawal mengangkat tubuh Rangga yang tak berdaya selepas beberapa saat coba memberontak. Namun sayang, semua yang dilakukan Rangga tak menunjukan hasil dan justru membuat tubuhnya remuk redam kehabisan tenaga.


"Arka, tolong aku. Bagaimana nasib Tasya jika aku pergi," ucap Rangga dengan suara lemah, sementara tubuhnya yang digotong para pengawal mulai menjauh dari hadapan Arka.


"Aku mohon, lindungilah dia." Suara Rangga nyaris tak terdengar. Seiring tubuhnya yang semakin menjauh.


Arka terpaku. Tubuhnya membeku, tak mampu bergerak walau sekedar untuk membantu Rangga.


Sudut hatinya begitu ingin melindungi Rangga, akan tetapi ia pun tak berani mementang keputusan yang sudah diambil orang tua Rangga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2