
Hari berlalu, Anastasya mulai menjalani kehidupan barunya dengan lebih baik. Karir yang ia bangun, mulai menampakkan hasil. Kontrak yang sudah ia sepakati bersama Wiratama management mulai menampakkan hasil. Sebagai brand ambasador beberapa produk kecantikan, kian membuat Karir model Anastasya merangkak, munuju puncuk.
Begitu pun hubungan kasih yang ia jalani bersama Rangga. Berkat kegigihan juga kebaaikan yang ditujukan pada Anastasya, membuat gadis itu pasrah, dan akhirnya menyambut hangat kehadiran Rangga dihidup juga hari-harinya.
Hubungan yang terjalin, rupanya membuat keduanya kian nyaman dan saling mengisi satu sama lain. Mereka kerap menyempatkan waktu disela kesibukan masing-masing, untuk sekeder bersua atau makan bersama.
Seperti saat ini. Senja mulai menyapa penduduk bumi. Rangga yang beberapa waktu lalu keluar dari gedung Wiratama management, kini mengarahkan laju kuda besinya menuju kediaman Anastasya yang terletak di sebuah kompleks pusat kota.
Rasa lelah yang sempat melanda, menghilang seketika kala kendaraanya sudah terparik di beranda rumah sang pujaan hati.
Ia pun lantas merogoh benda pipih di dalam saku jas dan mencari satu aplikasi berbelanja online.
"Ya, beres," gumamnya seraya menyimpan ponsel tersebut kedalam saku jas kembali.
Rumah minimalis itu nampak sepi, namun semua lampu tak menyala.
Rangga kembali tersenyum. Diarahkan jari telunjuk untuk menekan bel. Hingga beberapa saat pintu belum jua terbuka.
Sebenarnya, sedang apa dia?
"Hai," sapa seorang gadis dengan senyum semanis muda, sesaat setelah pintu terbuka.
"Assalamualaikum, sayang," ucap Rangga.
"Waalaikumsalam, sayang," jawab Anastasya masih dengan senyum yang terpatri di bibir tipisnya.
"Bolehkah kekasihmu ini masuk," goda Rangga dengan mengedipkan satu matanya.
"Tentu. Silahkan tuan." Gadis itu membungkukan badan, menggeserkan tubuh dengan gerakan tanggan mempersilahkan.
Rangga tergelak. Ia selalu dibuat mabuk kepayang oleh tinggkah sang kekasih. Membuatnya selalu rindu, jika sehari saja tak bertemu.
Pria tampan dengan stelan jas itu mendaratkan tubuhnya pada sofa yang berada di ruang tengah. Menyadarkan punggung pada sandaran sofa untuk melepas rasa lelah.
"Ingin minum apa?"
Rangga berfikir sejenak, lantas berucap, "Terserah sayang, tapi aku ingin minuman dingin."
__ADS_1
Gadis itu mengangguk, dan bergegas menuju dapur untuk menyajikan dua gelas minuman segar untuk sang kekasih juga dirinya.
Ruang tv dan dapur yang tak memiliki sekat mempermudah Rangga untuk menatap sang kekasih dari kejauhan. Malam ini Anastasya terlihat sangat cantik meski hanya mengenakan kaos berwarna putih yang jebesaran dan celana jins satu jengkal yang menampakkan setengah pahanya yang putih mulus tanpa cacat.
Pria itu mengalihkan pandangan. Memang diawal ia tak mengabarkan lebih dulu kedatangannya hingga gadis itu tak sempat merapikan penampilannya lebih dulu.
Meski surai panjangnya hanya dicepol asal-asalan, nyatanya justru wajah itu terlihat sangat cantik, meski polos tanpa riasan.
Rangga menatap lama wajah teduh sang kekasih. Hingga tanpa sadar, gadis itu sudah ada di hadapan dengan nampan berisikan dua gelas minuman segar dengan batu-batu es yang menumpuk di bagian atasnya.
"Kenapa melamun? Ada yang difikirkan?" Anastasya mendaratkan nampan tersebut di meja, lantas mengambil satu gelas minuman dan memberikannya pada Rangga.
"Aku hanya sedang memikirkanmu," ucap Rangga seraya meneguk minuman dingin dari dalam gelas, hingga menyisakan setengahnya.
Anastasya tersipu. Rayuan memang menjadi pelengkap hubungan cinta di antara mereka. Meski terkenal perayu, tetapi Rangga tak sembarang mengumbar rayuan pada banyak gadis, tetapi hanya pada Anastasya seorang.
"Sayang, aku lapar." Rangga mengusap pelan bagian perut yang sedari tadi meraung minta diisi.
"Kau lapar?" Sepasang netra sang gadis membola, ia tampak khawatir. "Sebentar, biar aku siapkan sesuatu," sambung gadi itu lantas berlari kecil menuju dapur. Membuka lemari pendingin dan memeriksa bahan makanan yang masih tersedia.
Rangga terlihat bangkit dan membuka pintu depan. Tak lama kemudian, ia kembali dengan beberapa buah kantong di tangannya.
"Bukankah kita akan memasak?" ucap Rangga santai. Dibukanya kantong tersebut setelah menaruhnya di atas meja.
Anastasya terperangah. Dua kantong besar itu, rupanya berisi bahan makanan mentah. Seperti daging segar, sayur, buah, telur, juga makan berkaleng siap olah.
"Kau berbelanja?"
Rangga menggeleng samar.
"Tidak. Aku memesannya lewat aplikasi."
Gadis itu merasa bersalah. Ia tatap lemari pendinginnya yang hanya terisi beberapa butir telur dan makanan cepat saji. Bukannya malas, namun kesibukannya akhir-akhir ini membuatnya tak memiliki waktu untuk berbelanja. Bodoh, kenapa tidak belanja lewat aplikaai saja. Jadi malu sendirikan. Rutuk Anastasya dalam hati.
Rannga menanggalkan jas hitamnya pada sandaran kursi meja makan. Ia menggulung kemeja berwarna putih tulang itu hingga siku dan mulai memilah beberapa macam sayuran untuk ia olah.
"Sayang, kau ingin memasak?"
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah itu sudah menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini saat bertandang kerumah kekasihku, hem..?"
Mendengar ucapan sang kekasih membuat Anastasya tersenyum malu. Dia memang tak mahir memasak. Jauh berpengalaman sang kekasih yang terbiasa hidup sendiri saat menempuh pendidikan di luar negeri.
"Sekarang duduklah, dan tunggu sampai aku selesai menyajikan makan malam untuk kita." Tangan kekar pria itu menyentuh kedua bahua Anastasya. Menekan lembut dan membimbingnya untuk duduk di salah satu kursi meja makan.
Anastasya tak mampu menolak. Dalam diam, dia menatap punggung kokoh itu dari belakang. Tangan besar sang pria mulai mengupas, kemudian memotong beberapa macam sayur. Senyum sigadis terkembang, segala bentuk perhatian yang diberikan Rangga membuatnya menjadi gadis paling bahagia di muka bumi. Walau beras dari keluarga tak berpunya, nyatanya tak membuat Rangga sekali pun mengungkit status sosialnya.
Selayaknya pasangan muda yang dimabuk cinta pada umumnya, keduanya tampak menikmati hubungan, meski sadar jika kemungkinan cobaan besar mengikis kekuatan cinta yang dibina, yaitu restu orang tua.
"Kau melamun?" Rangga menyajikan dua piring makanan kemeja makan. Anastasya terkesiap, rupanya sudah cukup lama waktu yang ia gunakan hanya sekedar untuk melamun.
"Terlalu sering mengkonsumsi makanan cemat saji, tak baik untuk tubuh." Rangga beangsur menggeser hasil masakan kehadapan sang gadis.
Dua porsi capcay udang dengan aroma menggoda menjadi menu makan malam keduanya.
Anastasya tersipu malu, seharusnya dia lah yang memanyajikan ini semua. Tetapi apa daya, keahliannya dalam mengolah makanan, sangat jauh di bawah sang kekasih.
"Ayo, kita makan sayang," titah Rangga yang diangguki oleh sang kekasih.
Keduanya mulai menyuapkan makanan kedalam mulut. Anastasya tersenyum tipis, keahlian yang dimiliki Rangga dalam hal masak memasak, tak perlu diragukan lagi. Rasa nikmat mulai menyapa, begitu sampai di lidah.
"Enak?" Rangga menatap lembut kearah sang kekasih, meminta penilaian.
Gadis itu mengangguk antusias, disertai dua jari jempol yang terangkat.
Rangga tersenyum lebar. Satu tangannya mengusap pipi sang gadis, tak mampu menahan rasa gemas.
"Akhir pekan aku akan mengajakmu kerumah."
Ucapan Rangga, seketika membuat Anastasya tersedak. Sigap, pria itu menyodorkan gelas berisi penuh air putih kehadapan sang gadis.
"Pelan-pelan, sayang." Nada khawatir terlihat jelas dari nada bicara Rangga. Terlebih mendapati wajah kemerahan sang kekasih yang menahan sakit.
Anastasya menerima dan lekas meneguk air tersebut. Ia diam, hanya anggukan atau bahkan gelengan sebagai pertanda jawaban.
'Bertemu orang tua Rangga' Satu kalimat yang yang menjadi momok mengerikan bagi Anastasya. Jika bisa, sebisa mungkin ia kan hindari. Tetapi mana mungkin? Mau tak mau, cepat atau lambat, hal itu pasti akan terjadi.
__ADS_1
Ketidaksukaan yang nyata-nyata diperlihatkan Siska pada Anastasya, rupanya membuat kepercayaan diri sang gadis menciut seketika. Tak ada antusias, atau binar kebahagiaan saat ingin bertemu dengan orang tua sang pujaan hati, yang ada justru rasa takut dan trauma, jikalau perlakuan yang sama kembali didapat.
Bersambung...