Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Bertemu Seseorang


__ADS_3

Perjalanan hidup, siapa yang tau. Begitu pun dengan takdir. Bahkan sang empunya nasib pun hanya bisa mengikuti alur, dari sang maha pencipta yang mengatur segalanya.


Hal tersebutlah kini yang tengah dirasa Anastasya. Pamornya meredup, namanya perlahan sirna seiring gosip yang memojokkan dirinya terus beredar.


Dulu eluan serta sanjungan yang kerap dapat, kini berganti dengan caci maki yang kian menyurutkan kepercayaan dirinya.


Sebuah rumah yang ia dapat dari ajang pencarian bakat pun terpaksa ia tinggalkan, sebab tak tahan dengan para awak media yang terus mengintainya layaknya narapidana, untuk sekedar meminta keterangan.


Sekejam itukah dunia. Hingga Anastasya yang nyatanya hanya hidup seorang diri di kota, begitu terancam hidupnya.


Bagi Keluarga Wiratama yang memiliki nama besar, rupanya tak berniat untuk menyelesaikan masalah dengan mencari solusi yang tepat, namun nyatanya justru mengiring beberapa perusahaan surat kabar untuk semakin memojokkan nama Anastasya.


Begitulah sekiranya Anastasya tau. Mengingat gosip yang sejatinya pernah mereda, justru dikobarkan kembali oleh beberapa oknum, yang Anastasya yakini sebagai suruhan dari orang tua Rangga.


Di kamar apartemen, Anastasya merenungi kembali nasibnya. Saat ini Wina memang masih tinggal bersamanya, tetapi bagaimana jika kelak ia tak lagi memiliki uang? Tidak mungkin juga ia tak memberi imbalan pada gadis tersebut yang sudah menemaninya dalam keterpurukan beberapa waktu ini.


Hingga memberhentikannya dirasa menjadi jalan keluar yang paling tepat.


"Wina," panggil Anastasya pada seorang gadis yang tengah bermain ponsel, tak jauh darinya. "Kemarilah," pinta Anastasya.


Gafis bernama Wina itu pun mendongak, menyimpan ponsel kedalam saku kemeja kemudian mendekati Anastasya.


"Kenapa kak, ada yang bisa Wina bantu?" Begitu lembut tutur kata gadis bersurai sebahu itu. Anastasya dibuat serba salah saat berusaha mempertahankan, namun akan lebih baik jika dilepaskan. Bersama dirinya, hidup gadis itu pun ikut terancam. Memiliki ruang yang sempit untuk bergerak bebas, seperti dirinya.


Anaatasya mengusap bahu Wina lembut.


"Wina, aku ingin mengatakan sesuatu hal padamu."


"Tentang?" Wina terlihat bingung.


"Terimakasih sudah mau menjaga dan bekerja padaku selama ini. Maaf, jika hidup bersamaku membuat hidupmu tertekan. Kau ikut terseret dalam masalahku, jadi lebih baik aku membebaskanmu dari tugas-tugasmu bersamaku selama ini."


Seketika Wina berwajah muram.

__ADS_1


"Kak," lirih Wina.


"Kembalilah pada keluargamu." Anastasya bangkit, menuju kearah brankas kemudian mengambil beberapa puluh lembar rupiah dan memasukkannya ke dalam amplop.


"Terimakasih. Hanya itu kata yang mampu ku ucapkan padamu." Anastasya menyerahkan amplop cukup tebal tersebut ke tangan Wina. "Terimalah, walau sejujurnya sungguh tak sebanding dengan kerja kerasmu untukmu."


Wina yang mulai terisak itu pun menerima amplop tersebut.


"Kak, bukan ini yang Wina harapkan. Asal bisa menemani kakak, walau tak digaji pun aku rela. Aku sudah merasa nyaman, dan menanggap kak Ana seperti keluarga."


Anastasya mendekap tubuh Wina yang mulai bergetar. Gadis itu benar-benar menangis. Selain Rangga dan rekan kerja, Wina lah seseorang yang paling dekat dengannya. Hingga dalam kondisi hamil tanpa suami pun, Winalah yang paling tahu tentang penderitaannya.


"Aku tau. Tapi dengan memberimu kebebasan, aku yakin di luaran kau pasti akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pada saat bersamaku. Kau cantik dan masih muda. Raihlah masa depan dan cita-citamu setinggi mungkin."


Gadis itu mengangguk patuh.


"Wina, karirku sudah tak secemerlang dulu. Aku harap kau mengerti.


Lagi, gadis itu hanya mengangguk patuh dan menyunggingkan senyum tipis.


Sebisa mungkin ia tak menitikkan air mata, berupaya untuk tak memperberat langkah Wina meninggalkan apartemennya.


Tubuh Wina yang menghilang di balik pintu lift yang tertutup, menyadarkan Anastasya jika ia benar-benar kehilangan Wina mulai saat ini.


💜💜💜💜💜


Langkah kaki seorang perempuan tampak meragu saat hendak menjejaki area parkir sebuah klinik. Meski wajah tertutupi masker juga topi yang berharap bisa menyamarkan penampilan, namun nyatanya tak membuat ketakutan Anaatasya menghilang.


Ya, kini Anastasya begitu takut untuk keluar rumah apalagi harus berpapasan dengan orang yang mengenalinya.


Anastasya menutup diri dari lingkungan luar. Dan tak akan keluar rumah jika tidak dalam kondisi terdesak.


Setelah menimang beberapa saat, Anastasya benar-benar mengurungkan niat untuk memasuki klinik. Diusap perutnya yang sedikit membuncit, gadis itu justru memilih mendatangi apotik yang letaknya bersisian dengan klinik.

__ADS_1


Tak berbeda dengan dua minggu lalu, Anastasya kembali memburu beberapa Vitamin juga susu untuk ibu hamil.


Ia pun memutar tubuh selepas membayar seluruh barang yang dibeli. Masih dengan mengenakan masker dan topi, Anastasya berjalan menunduk menyusuri area parkir di mana kuda besinya berada.


Tetapi naas, saat tak fokus berjalan tubuhnya justru bertubrukan dengan tubuh seseorang.


"Aww," pekik seorang wanita yang kondisinya serupa dengan Anastasya. Terjatuh dengan beberapa bawaan yang berhamburan. "Kau buta ya?" perempuan itu masih memaki tanpa memandang sang lawan bicara.


"Maaf." Hanya itu yang terucap dari bibir Anastasya. Ia lekas memunguti semua belanjaan ke dalam kantong plastik.


Perempuan yang sempat memaki itu menatap Anastasya lekat. Menyusuri penampilan sedetail-detailnya.


"Ana," panggil perempuan. "Kau Ana 'kan? Anastasya 'kan?"


Anastasya yang merasa namanya disebut, mendongak. Sepasang netranya membulat sempurna, namun sepersekian detik ia menurunkan kembali pandangan.


Tidak, aku mohon bukan dia.


"Ana, ini benar kau 'kan?"


Anastasya hanya menelan ludahnya kasar saat suara cukup familiar itu kembali menyebutkan namanya.


Gadis itu tetap bergeming. Menunduk hingga wajahnya tak terlihat oleh sosok perempuan di hadapannya.


"Apa kau sudah tak mengenaliku? Tega sekali kau, Ana. Kau seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Jika bukan karna aku, tidak mungkin kau menjadi bintang terkenal saat itu."


Ucapan perempuan itu bagaikan hunjaman batu yang tepat mengenai tubuh Anastasya. Terasa meremukan juga menghancurkan.


Gadis itu kini mendongak, menatap wajah yang baru saja dengan lantang mengumpat dirinya.


"Ya, benar. Ini aku, kak. Ana, Anastasya. Gadis miskin yang sudah kau tinggikan derajatnya. Gadis kampung yang sudah kau angkat namanya. Tenang saja, aku bukanlah si kacang yang lupa pada kulit. Jadi, kakak tak perlu khawatir terlebih repot-repot mengingatkanku. Daya ingatku masih tajam, hingga mampu mengingat siapa-siapa saja yang sudah berjasa dalam hidupku, sekaligus yang memiliki keinginan untuk menghancurkanku."


Anastasya tersenyum miring, membalas umpatan dengan kata-kata tajam yang mampu membuat seseorang di hadapannya terperangah.

__ADS_1


Sarah.


__ADS_2