Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Pernikahan


__ADS_3

Pagi hari seusai lamaran dadakan, Arka benar-benar menikahi Anastasya meski hanya pernikahan siri mengingat kondisi Anastasya kini yang dalam keadaan hamil.


Tak banyak yang menyaksikan. Hanya beberapa orang yang bertugas menikahkan, termasuk saksi dari pihak mempelai perempuan. Sedangkan ibu dari Arka, baru saja tiba sebab perempuan paruh baya itu mendapatkan kabar pada malam selepas lamaran Arka diterima Anastasya.


Berbalut gaun berwarna putih nan elegan, Anastasya terlihat begitu cantik meski tubuhnya masih terlihat lemah.


Di suatu ruangan cukup lebar, akad nikah itu pun berlangsung. Suara tegas Arka bergema saat ijab kabul diucap lantang dengan satu kali tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi, sah?"


"Sah.."


"Alhamdulilah."


Arka menghela nafas lega, begitu pun Anastasya. Meski tak dipungkiri, jika pernikahan yang tengah terjadi kini bukanlah sesuatu yang gadis itu inginkan.


Beberapa fotografer berkerumun untuk mengabadikan momen sakral tersebut. Meski canggung, namun sebisa mungkin pengantin baru itu terlihat mesra di hadapan tamu yang hadir.


"Arka, bawa istri beristirahat, dia pasti lelah mengingat keadaanya yang belum benar-benar pulih." Mirah mendapati wajah Anastasya yang terlihat pucat.


"Baik bu." Lembut, Arka membimbing langkah Anastasya menuju kamar.


"Beristirahatlah. Aku akan menemani ibu lebih dulu." Keduanya terlihat cukup canggung saat berinteraksi. Wajar, mengingat kebersamaan keduanya baru terjalin kurang lebih satu hari, namun kini keduanya sudah terikat oleh tali pernikahan.


"Kau tidak keberatan, kan?" Arka masih menatap wajah Anastasya yang tertunduk.


"Tidak apa, aku tidak keberatan."


"Em, baiklah. Aku akan meminta pelayan untuk mengurus keperluanmu." Arka tersenyum tipis sebelum bangkit dan meninggalkan Anastasya.


Di kamar pengantin kini Anastasya menghirup udara dalam-dalam guna mengurangi rasa sesak di dada yang sedari tadi mengurungnya.

__ADS_1


Sudut netranya memanas. Bulir bening menerobos tanpa permisi selepas ia tahan sekuat diri saat akad nikah berlangsung beberapa waktu lalu.


Senang, tentu tidak. Pernikahan yang ia impikan justru tak sesuai keingin. Mempelai pria yang ia inginkan ialah Rangga, namun tuhan justru menggantikannya dengan Arka, yang tak lain adalah sahabat dari pria yang gadis itu ingini.


Anastasya terisak. Ia pandangi kamar itu dengan tatapan nanar. Ranjang berukuran king size dengan taburan kelopak mawar, justru kian membuat hatinya teriris pedih.


Malam pertama.


Anastasya bahkan merinding walau hanya mengucapnya. Memadu kasih dengan pria yang tak di cintai, apakah ia akan sanggup?.


Ya tuhan. Pekik Anastasya disela tangis.


Ketukan di balik pintu terdemgar. Gadis itu lekas menghentikan tangis dan mengusap air matanya tanpa sisa. Wajah muram, ia stel sedemikian rupa. Lengkung tipis berpoles lipstik berwarna merah muda itu merekah sempurna saat dua orang pelayan muncul dari balik pintu yang terbuka.


"Kami diperintah tuan muda untuk membantu nona membersihkan tubuh," ucap salah seorang pelayan.


"Lakukanlah." Bibir tipis itu masih tersenyum sempurna. Seolah mengekspresikan kebahagiaannya yang tiada tara. Meski Anastasya yakin, jika para pelayan tersebut tau jika dirinya hanya gadis jalanan yang ditolong sang tuan, kemudian dinikahi.


"Kami permisi nona," pamit sang pelayan saat memastikan mereka sudah mengerjakan tugas dengan sempurna.


Anastasya hanya mengangguk sebagai jawaban.


Beberapa saat setelah pelayan itu pergi, Arka datang. Pria yang masih memakai stelan jas itu memasuki kamar dengan wajah lelah.


"Kau sudah terlihat segar." Arka memulai percakan. Memindai penampilan Anastasya yang terlihat lebih segar dengan gaun malam berwarna hitam yang ia gunakan. Kontras dengan kulit tubuhnya yang putih bersih tanpa noda.


"Em, iya." Malu Anastasya menjawab. "Kau ingin mandi? Sebentar biar aku siapkan lebih dulu airnya."


Anastasya hendak beranjak, namun Arka mencegam.


"Tidak usah. Beristirahatlah, aku bisa melakukannya sendiri." Arka bergegas masuk ke kamar mandi tanpa menanggalkan pakaiannya lebih dulu.

__ADS_1


Anastasya pun mengikuti ucapan suaminya untuk beristirahat.


Tak berselang lama. Arka kembali sudah dengan pakaian lengkapnya. Kaos polos dan celana longgar semata kaki. Terlihat pres membentuk tubuhnya yang kekar.


Anastasya lekas menunduk saat tak sengaja menatap tubuh suaminya.


"Anastasya, kau belum tidur." Arka mendekati Ranjang, di mana Anastasya berbaring terlentang dengan selimut menutup kakinya hingga pinggang.


"Em belum, aku menunggumu." Anastasya menyesali ucapannya. Menunggu, apa iya ia tengah menunggu Arka untuk bersamping di sisinya kemudian memeluknya hingga tertidur lelap, atau mereka akan melakukan aktifitas lain yang memacu andrenalin. Bukankah ini malam pertama bagi mereka.


Arka tersenyum tipis. Ia mampu menangkap kecemasan pada diri Anastasya.


"Tidurlah, kau terlihat lelah seharian ini selepas beraktifitas." Arka merapikan selimut sang istri. Dari pinggang menariknya hingga ke leher.


Gadis itu diam saja. Tak menolak dan hanya pasrah.


"Aku akan tidur di kamar sebelah."


Deg.


Arka mengusap puncak kepala sang istri. Mengganti lampu terang dengan lampu tidur kemudian berjalan ke salah satu sudut kamar.


Meski remang, namun ekor netra Anastasya masih menatap pergerakan tubuh suaminya. Pria itu tampak berhenti saat di depan dinding. Menekan sesuatu hingga detik berikutnya Anastasya dibuat ternganga, tak percaya.


Entah tombol apa yang pria itu tekan, namun dari dinding yang terlihat normal itu tampak bergeser dan terpuka layaknya pintu ruangan pada umumnya.


Ya tuhan.


Arka memasuki ruangan tersebut. Pintu rahasia itu pun kembali bergeser dan tertutup rapat hingga tubuh Arka tak lagi terlihat.


Anastasya syok. Dalam keterkejutan bisa menggambarkan pernikahan macam apa yang ia dan Arka jalani kini.

__ADS_1


__ADS_2