
Untuk sejenak Anastasya tertegun, kemudian menatap gadis yang mencoba bangkit dari atas trotoar dengan sesekali meringis menahan rasa sakit.
Ya tuhan.
Anastasya bergegas bangkit dan mendekati gadis tak berdaya itu. Bahkan darah takmpak mengalir dari beberapa bagian tubuhnya.
"Ma-maafkan aku, kau harus terluka karna diriku," ucap Anastasya. Rasa bersalah memenuhi perasaannya. Sungguh, akibat dari kecerobohannya, justru tubuh gadis itulah yang harus mendapat banyak luka.
"Tidak apa Nona, saya baik-baik saja," balas gadis tersebut seraya mengigit bibir bawahnya menahan sakit.
"Apanya yang baik-baik saja, kau jelas-jelas terluka dan banyak mengeluarkan darah!" Anastasya pun memapah tubuh gadis tersebut dan membawanya kesebuah kursi. "Tunggu sebentar. Akan kuambilkan obat untukmu." Tanpa menunggu persetujuan, Anastasya berlari menuju mobil dan mencari kotak P3k yang selalu tersimpan di laci mobil.
Anastasya tak berani banyak bertanya. Ia bergerak cepat untuk membersihkan luka dengan cairan antiseptik, selepas memastikan benar-benar bersih, Anastasya mengoleskannya dengan salep yang cukup ampuh untuk meredakan nyeri dan mempercepat proses penyembuhan.
Gadis itu sempat menolak dan ingin membersihkan lukanya sendiri, namun Anastasya bersikeras untuk membantunya.
Sejenak Anastasya menatap penampilan gadis bertubuh mungil itu secara keseluruhan. Gadis itu terlihat cukup cantik, meski berpakaian lusuh. Rambutnya pun hanya diikat seadanya dengan tas ransel yang menempel di punggungnya.
Paras gadis itu begitu lembut dan sepertinya ia tergolong pendiam. Anastasya coba berkenalan.
"Nama saya Azzara, nona. Panggil saja Zara."
Nama yang manis. Ada rasa hangat saat keduanya terlibat perbincangan hingga beberapa saat. Jujur Anastasya merasa nyaman. Sudah lama dirinya tidak merasakan sedekat ini pada orang-orang di sekelilingnya. Luka dimasa lalu membuat Anastasya mengunci diri dan jarang berbaur. Ia hanya mengenal para pekerja di toko bunganya dan para pelayan di rumahnya.
Gadis itu berpamitan, Anastasya pun memberi tumpangan mengingat gadis itu tak memiliki kendaraan. Sepanjang perjalanan keduanya masih saling terlibat obrolan. Sesekali Anastasya melirik gadis bernama Zara itu lewat ekor mata. Entah mengapa, jika melihat gadis itu sama seperti melihat bayangan dirinya sendiri saat pertama kali hidup di kota. Terlunta-lunta juga begitu sulit mendapatkan pekerjaan.
Laju kendaraan terhenti tepat di depan jalan masuk sebuah gang.
"Di sini saja kak."
__ADS_1
Anastasya patuh. Zara pun keluar dari pintu mobil juga mengucap terimakasih. Gadis itu pun berlalu, mulai memasuki jalan gank yang cukup sempit dan tak mampu dilalui kendaraan roda empat. Kembali gadis itu memacu kuda besi miliknya, bermaksud untuk mendatangi toko bunga.
Cukup jauh berkendara Anastasya mengingat jika ia belum memberi apa pun untuk Zara sebagai bentuk ucapan terimakasih. Memutar arah, gadis cantik itu kembali menuju jalan masuk gank di mana ia menurunkan Zara beberapa waktu lalu.
Jalan licin nan belubang ia lewati. Meski jijik namun Anastasya tak keberatan. Ia tetap melanjutkan langkah dengan memperhatikan keadaan sekitar.
Anastasya tak tau secara pasti di mana Zara tinggal. Beruntung ada seorang pemuda melintas yang beruntungnya tau di mana letak kost Zara saat Anastasya bertanya.
Saat mulai mendekati bangunan terbilang kumuh itu, Anastasya menangkap adanya suara makian dari seseorang. Gadis itu dibuat penasaran hingga terus mendekat.
Tenggorokannya tercekat. Dengan mata kepalanya sendiri Anastasya melihat seorang perempuan paruh baya melemparkan kardus dan juga pakaian Zara secara paksa.
Apakah Zara diusir?
Anastasya masih mengendap namun masang telinganya tajam. Benar saja, Zara diusir dan perempuan itu mengatakan jika Zara tak mampu untuk membayar sewa.
Ya tuhan.
Semakin lama Anastasya kian tak tahan. Ia harus lekas bertindak untuk membungkam mulut perempuan tak berperasaan itu.
Zara terkejut luar biasa saat Anastasya menunjukan diri. Gadis itu terlihat tak percaya namun juga malu. Dengan satu kali libasan pemilik kost itu tak berkutik. Bahkan Anastasya melarang Zara untuk membawa seluruh pakaiannya.
Ada tangis haru dari seorang Zara. Anastasya hafir bak malaikat. Ditambah ia pun memiliki pekerjaan dan tempat tinggal baru, selepas kejadian itu.
Beberapa hari berlalu Zara pun mulai bisa berinteraksi dengan para pekerja Anastasya lainnya di toko bunga. Ia pun membersihkan bangunan dua lantai itu dan merawatnya seperti rumah sendiri. Anastasya yang melihat semangat dan tekad dari seorang Zara, ikut merasakan senang. Rupanya, pilihannya tepat. Selain masih muda dan cantik, Zara adalah sosok pekerja keras dan tak pantang menyerah.
Anastasya tertegun sejenak. Di dalam kamar pribadinya, gadis itu seperti mengingat sesuatu hal. Sebuah ide yang sempat terbesit dalam benaknya selama ini.
Anastasya ingin mencari gadis untuk dinikahkan dengan suaminya.
__ADS_1
Ish, bodoh. Mana mungkin suamimu mau melakukannya.
Gadis itu memukul pelan kepalanya. Tak habis fikir dengan ide gila yang sempat bersemayam di benaknya akhir-akhir ini.
💜💜💜💜💜
"Arka, coba lihat ini." Anastasya mengulurkan ponselnya pada Arka. "Gadis itu cantik 'kan?"
Arka tak menjawab. Untuk kesekian kali istrinya itu meminta padanya untuk melihat foto gadis yang tersimpan digaleri ponsel. Kemudian memberinya penilaian cantik atau tidak. Padahal tak perlu di tanya, Arka tak akan pernah mau menjawabnya. Pria itu hanya akan diam, seraya menggelengkan kepala. Tak habis fikir dengan ulah sang istri.
"Untuk apa?"
"Hem." Anastasya mengernyit, bingung. Kemudian meminta kembali ponselnya yang masih berada di tangan Arka.
"Untuk apa kau melakukannya?"
"Maksudnya?" Anastasya masih kebingungan, atau pura-pura bingung.
Pria tampan itu terlihat menghela nafas dalam. Momen berdua seperti ini, Anastasya justru sengaja merusak suasa. Arka sadar jika kesibukannya dalam dunia kerja begitu membatasi waktunya hanya untuk berdua dengan istrinya. Meski tak dalam artian bermanja, namun Arka sendiri kerap meluangkan waktunya hanya untuk sekedar mendengar cerita panjang lebar Anastasya. Baik itu tentang toko bunga atau pun hal lainnya.
Mereka suami istri dan selamanya akan tetap begitu seperti keinginan Arka. Apakah Arka menyayangi Anastasya? Tentu saja. Hamya saja rasa sayang yang pria itu miliki mungkin lebih tepatnya seperti seorang kakak pada adiknya.
Jika perihal nafkah lahir, Arka menjamin hidup Anastasya dengan black kart yang bisa mengabulkan apa saja yang gadis itu inginkan. Akan tetapi jika nafkah batin, Arka masih belum menyentuhnya.
Bayangan Rangga saat bersimpuh di kaki dan memohon padanya untuk menjaga Anastasya untuknya, membuat Arka selalu dihantui rasa bersalah saat berniat untuk membuka hati pada istrinya sendiri.
Terdengar bodoh, sebab Anastasya adalah istri yang halal untuk ia jamah sepuas hati, akan tetapi lagi-lagi rasa takut dan bersalah itu datang menyergap. Arka takut jika suatu hari Rangga datang dan meminta Anastasya kembali. Hingga sebisa mungkin Arka menahan hasratnya sebagai pria dewasa yang sejatinya pun menginginkan sentuhan dari kekasih halalnya sendiri.
"Berhenti menjodohkanku dengan gadis-gadis yang menjadi pilihanmu. Ketahuilah Anastasya, kau adalah istriku dan selamanya akan tetap seperti itu. Aku harap kau faham." Pria itu bangkit. Cukup kecewa dengan Anastasya. Arka tetap ingin mempertahankan rumahtangganya, walau seperti apa pun caranya.
__ADS_1