Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Menyerah


__ADS_3

Sebuah taksi online membawa Anastasya menuju klinik terdekat. Wajah perempuan itu tampak memucat dengan butiran peluh dingin yang memenuhi pelipisnya.


Anastasya sesekali berdesis, menahan rasa sakit seraya mengusap area pinggang juga perut bawahnya.


"Nona, kita sudah sampai," ucap sopir taksi.


Anastasya pun mencari lembaran uang di dalam tas, kemudian memberikannya pada pria tersebut.


"Trimakasih banyak, pak."


Susah payah gadis itu mencoba bangkit. Meski rasa sakit begitu menyiksa tubuhnya, terutama area perut.


"Perlu saya bantu, nona."


"Tidak usah. Saya bisa melakukannya sendiri."


Selepas berhasil keluar dari taksi, Anastasya berjalan pelan menuju klinik. Seorang perawat yang tanpa sengaja melihat Anastasya yang meringis seraya menyentuh perut, sigap mendorong kursi roda dan menghampiri perempuan hamil tersebut.


"Mari saya bantu, nona."


"Terimakasih." Tak lagi menolak, Anastasya hanya pasrah saat perawat itu mendorong tubuh dan membanantunya memasuki klinik.


Selepas menemui resepsionis, perawat itu pun membawa Anastasya kedepan pintu ruangan yang masih tertutup.

__ADS_1


Perawat itu pun mengetuk pintu, tak lama berselang seorang dokter perempuan muncul dari balik pintu.


"Maaf dok, ada pasyen yang butuh penanganan cepat," lapor sang perawat pada dokter berkacamata itu.


"Ayo bawa masuk."


"Baik." Perawat itu pun mendorong kursi roda yang menopang tubuh Anastasya untuk memasuki ruang tindakan. Gadis itu pun hanya pasrah. Tak menjawab, hanya diam dan mengikuti kemana perawat itu akan membawanya.


💗💗💗💗💗


Anastasya terdiam, namun lelehan bulir bening masih menetes dari sudut netranya.


"Apakah aku ini ibu yang jahat?" Anastasya bergumam. Selepas dari klinik ia memilih untuk menyendiri di sudut terpencil taman kota. Berada jauh dari keramaian, seraya merenungi semua kesalahannya.


Gadis itu mengusap perutnya lembut. Usia janin dalam kandungannya bahkan sudah memasuki minggu ke 25 kini.


Kesalahan terbesarnya kini adalah rasa kecewa yang membawanya hanyut pada gemerlap dunia malam, bertemankan alkohol dan asap rokok setiap harinya. Janin di rahimnya berontak, tak nyaman hingga nyaris keguguran andai terlambat sedikit saja ia sampai di klinik. Beruntung dokter kandungan itu lekas memberi suplemen penguat kandungan, beberapa fitamin juga obat pereda rasa nyeri hingga rasa sakit yang sempat mendera perlahan sirna.


Anjuran beristirahat Anastasya abaikan. Bukannya pulang, perempuan itu justru masih ingin berlama-lama menikmati kesendirian, seraya menatap beribu kendaraan berlalu lalang di jalanan.


💗💗💗💗💗


Satu minggu berlalu Anastasya masih memilih bertemankan sepi. Ia sama sekali tak keluar rumah. Berbelanja atau pun memesan makanan, hanya menggunakan jasa online.

__ADS_1


Tubuh perempuan itu mulai kurus, hingga kandungannya yang mulai memasuki bulan keenam sudah jelas terlihat. Begitu pun dengan semangat hidupnya yang hampir tiada.


Anastasya menarik laci di mana beberapa vitamin untuk kandungannya tersimpan.


"Habis," gumam Anastasya saat satu satu diantara tablet vitaminnya hanya tinggal kemasan.


Melirik jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul 07;04 petang. Gadis itu bergegas menyambar dompet dan juga jaket. Meski enggan, namun dari sudut terdalam ia pun menyayangi janin yang dikandungnya dan tak ingin terjadi hal yang tak diinginkan pada anaknya saat dilahirkan kelak.


Begitu memasuki apotik Anastasya lekas menunjukan bekas tablet kosong miliknya untuk diberikan pada penjaga apotik. Sembari menunggu, Anastasya menyisir pandang kesekeliling ruangan. Di jajaran kursi tunggu tampak sepasang calon orang tua muda sedang berbicara hangat. Si istri duduk dengan memegang kotak susu hamil dengan bibir sesekali tersenyum. Begitu pun sang suami yang terus mengelus perut buncit sang istri dengan tatapan penuh cinta.


Sudut hati Anastasya teremas. Segera ia mengalihkan pandangan agar tak terbawa perasaan.


"Totalnya 250.650 rupiah nona," ucap kasir apotik yang membuat Anastasya terkesiap.


"Se-sebentar." Ditariknya beberapa lembar uang kertas dari dompet dan memberikannya.


Anastasya berlalu pergi. Lelehan dari sudut netra tak mampu lagi ia bendung. Beginikah nasibnya. Begitu banyak dosakah yang ia perbuat di masalalu hingga tuhan memberikan cobaan yang begitu berat untuknya.


Gadis itu memilih berjalan menyusuri trotoar. Entah kenapa, semangat hifupnya benar-benar menghilang kini.


Sorot lampu pengendara jalanan, dan gelapnya langit malam, menjadi saksi bagaimana rapuhnya sosok perempuan itu.


Sisi iblis Anastasya muncul. Dimana rasa kecewa menutupi logika. Tanpa aba-aba, Anastasya segera berlari kearah jalanan yang dilalui cukup banyak kendaraan. Hingga...

__ADS_1


Brakk..


Dentuman keras terdengar. Tubuh Anastasya tertabrak sebuah mobil yang sedang melintas. Tubuh perempuan itu ambruk. Dengan darah segar yang mengalir dari beberapa bagian tubuhnya yang terluka.


__ADS_2