Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Ada Apa Dengan Sarah?


__ADS_3

Seperti mendapat suntikan energi dan kepercayaan diri, Rangga melangkahkan kaki menyusuri lobi gedung Wiratama Management dengan senyum ramah terkembang di bibirnya.


Para karyawan dan beberapa tamu yang tanpa sengaja berpapasan pun, tak urung disapanya. Membuat mereka pun terperangah dan tak percaya, sebab ini kali pertamannya sang pewaris Keluarga Wiratama tampak bersahabat dan terkesan merakyat.


Rangga sendiri acuh, saat keramahan dan senyum yang ia lempar pada seluruh orang, hanya di balas dengan tatapan aneh yang tak mampu ia artikan. Biarlah, hari ini seperti tak ada sedikitpun beban hidup yang ia fikirkan. Plong dan los dol. Ah menyenangkan. Begitu fikir Rangga.


Ia membuka pintu ruangan direktur dengan mendorongnya pelan. Aroma segar lavender seketika menyapa indra penciuman. Hem, Pria itu menghirup aromanya dalam. Benar-bemar menenangkan.


Lavender merupakan salah satu wangi bunga kesukaannya. Meski ia seorang pria, akan tetapi ia pun menyukai aroma lembut bunga untuk wewangian ruang pribadinya, termasuk kamar.


Rangga mendaratkan bobot tubuh di kursi kebesaraanya. Sepasang netranya menatap pada tumpukan berkas penting di atas meja kerja.


Di bukanya map berbagai warna itu, lantas membacanya dan membubuhkan tanda tangannya satu persatu.


Pintu ruangan diketuk pelan. Selepas mendapatkan jawaban, pintu ruangan terbuka perlahan. Muncullah sesosok gadis muda dengan beberapa berkas di tangan.


"Permisi, selamat pagi tuan," sapa gadis itu ramah.


"Pagi, duduklah," jawab Rangga seraya menunjuk kursi kosong di seberangnya.


"Saya ingin menyerahkan beberapa berkas untuk tuan tanda tangani dan memberi tahu agenda penting yang akan tuan lewati hari ini." Gadis berkemeja putih dengan surai hitam tergerai hitam itu, mengulurkan kertas berisi beberapa agenda penting untuk Rangga.


Pria itu pun menerimanya, lantas membacanya teliti.


"Lusa, kompetisi tahunan menuju final. Saya harap, tuan bersedia tampil untuk memberi apresiasi."


Rangga masih terfokus pada lembaran kertas di tangan. Hingga sepasang netranya menemukan agenda acara rutin yang di gelar oleh Wiratama Management, yaitu pemilihan model pendatang baru untuk agensi modelnya.


Ah, ya. Bukankah mereka juga bilang jika Anastasya pun mengikuti audisinya.


"Em, aku tidak berani janji. Dan lagi pula, ada Bimo, asistenku yang akan mewakilkan jika aku tak bisa datang."

__ADS_1


Gadis muda sang sekertaris Rangga itu hanya menghela nafas dalam. Tak ingin memaksa, toh ini pun bukan kuasanya.


"Baik, tuan."


"Em, Retha. Apa kau memiliki data-data dari keseluruhan peserta?"


Gadis itu pun mengangguk cepat.


"Ada tuan. Saya menyimpan di antara berkas yang sedang tuan baca." Retha pun ikut membolak balik tumpukan kertas tersebut. Setelah dirasa ketemu, ia pun menariknya dan menyerahkan pada Rangga.


"Terimakasih. Kau bisa pergi." Tanpa memandang, Rangga meminta pada Retha untuk meninggalkan ruangannya.


Gadis itu pasrah, lekas bangkit dari posisinya.


"Tuan, empat puluh lima menit lagi kita akan ada meting penting dengan beberapa pihak sponsor," ucap Retha sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan.


"Baiklah. Aku akan bersiap."


Pandangan Rangga kini hanya tertuju pada lembaran kertas berisi daftar nama peserta yang lolos selepas melewati beberapa tahan penyeleksian.


Wajah pria itu tampak gusar, manakala belum mendapati sesuatu yang ia cari. Akan tetapi, bola matanya berbinar seketika saat mendapati sebaris nama yang tertera di lembaran keryas paling belakang.


Senyumnya terkembang sempurna.


Oh, Anastasya. Tanpa aku turun tangan pun, kau bahkan mampu menembus jajaran lima besar. Semoga, ini menjadi awal yang indah untuk kedepannya.


******


Tak berbeda jauh dengan Rangga, sosok gadis yang harus berada satu lift dengannya pun, hatinya dibuat tak menentu.


Sepanjang perjalanan menuju area pusat perbelanjaan, senyum tak henti terulas di bibir mungilnya. Rentetan kejadian tak terduga dengan Rangga, serasa berputar memenuhi isi kepalanya.

__ADS_1


Sebelumnya Anastasya tak pernah dipertemukan dengan sosok pria sebaik Rangga. Wajah rupawan dengan pakaian mahal, membuat gadis itu yakin jika Rangga bukanlah seorang pria dari kalangan biasa seperti dirinya.


Ia pun sempat tak mengingat kejadian awal pertemuan keduanya, namun kenapa justru pria muda itu masih mengingatnya? Ah, entahlah.


Meski rasa senang itu ada, akan tetapi Anastasya berusaha menepisnya.


Heh, siapa dirimu, Ana. Kau bahkan sudah berani memikirkannya.


Anastasya memaki dirinya sendiri seraya melangkahkan kaki menuju lobi Apartemen. Saat mendekati pintu lift, bayang-bayang kejadian beberapa waktu lalu kembali singgah diingatan.


Gadis itu hanya tersenyum tipis, kemudian menekan satu tombol sebelum pintu yang terbuka kini tertutup rapat.


Suasa hening yang tercipta di dalam lift, mampu membuat wajah Anastasya merona merah. Ya, wajah keduanya cukup dekat saat itu, nyaris tiada jarak hingga hampir saja berciuman.


Huh


Gadis itu mulai gusar.


"Menyingkirlah dari fikiranku." Gadis itu bahkan memejamkan mata. Berusaha mengusir kejadian itu dari ingatan


Tring


Pintu lift pun terbuka. Bergegas ia keluar dengan menenteng dua kantong plastik belanjaan.


Saat sudah berada di depan pintu apartemen Sarah, Anastasya lekas membuka pintu tersebut dengan kunci cadangan yang sengaja dibawa agar tak merepotkan bi Atun.


Pintu berwarna putih itu pun terbuka pelan tanpa menimbulkan Suara. Ruangan senyap langsung menyapa. Anastasya melanjutkan langkah begitu saja menuju ruang tengah. Akan tetapi, baru rasa melangkah, sepasang netranya menangkap sepasang manusia yang tengah berpagut mesra di atas sofa.


Anaatasya terkesiap. Ia pun lekas menunduk, saat sepasang manusia menyadari kehadirannya.


*Nona Sarah, Apa yang sedang dia lakukan?

__ADS_1


Bersambung*


__ADS_2