Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Prahara


__ADS_3

"Sebenarnya apa mau kalian." Mengabaikan kesopanan, Rangga berdiri menantang saat kedua orang tuanya baru menjejakkan kaki kedalam rumah. Masih berkabut amarah, Rangga menatap nyalang pasangan paruh baya yang sudah membesarkannya.


"Apa maksudmu?" Sofyan yang tak mengerti arah pembicaraan sang putra, dibuat kebingungan. Dirinya bahkan baru memasuki pintu rumah, namun sudah disambut dengan kemarahan sang putra, yang entah bersumber dari mana.


"Tak usah berkilah. Memang itu 'kan yang kalian inginkan," geram Rangga dengan meninggikan intonasi suara.


"Rangga! Pelankan suaramu. Kami tidak tuli," hardik Siska tak mau kalah.


Rangga melengos, enggan menatap kedua orang tuanya.


"Ada apa ini, nak. Ayah dan Ibu tidak tau akar permasalahannya, lagi pula semuanya bisa dibicarakan baik-baik." Sofyan menarik lengan sang istri dan membawanya duduk di sofa ruang tamu.


Rangga yang masih diliputi amarah itu masih berdiri seraya melipat tangan di dada.


"Duduklah," pinta sang Ayah.


Terdengar helaan nafas dalam sebelum pria itu menjatuhkan bobot tubuh di sofa singel ruang tamu.


"Ada apa? Bicarakan dengan baik-baik tanpa menggunakan Amarah. Kami ini orang tuamu, bukan lawanmu." Sofyan coba menenangkan sang putra. Berbagai fikiran berkecamuk. Kiranya masalah apa yang membuat putranya seemosi ini. Berpuluh tahun membesarkan, Sofyan tahu benar jika seorang Rangga bukanlah pria pemarah dan mudah tersulut amarah. Namun kini, Rangga putranya itu mengeras. Wajahnya pun memerah seakan memendam amarah.


"Bukankah aku sudah katakan jika Anastasya akan datang, tetapi kenapa kalian justru pergi tanpa lebih dulu menunggu kami."


Sofyan menautkan alis.


"Apa, Anastasya datang?"


"Ya, dan kalian memilih pergi dari pada bertemu dengannya."


Sofyan masih tak mengerti. Ia memang keluar untuk makan siang di sebuah resto, itu pun atas permintaan sang istri.


"Tapi, nak. Ayah memang tidak mengetahui jika gadis itu akan datang."

__ADS_1


Sementara itu, Siska tampak tersenyum sinis di tempat duduknya. Tak habis fikir jika sang putra akan sedemikian marah hanya karna masalah sesepele itu.


"Tapi aku sudah lebih dulu memberitahukannya pada ibu jika Anastasya akan datang. Apa mungkin memang ibu yang tak berniat memberitahukannya pada ayah?" Tatapan Rangga kini tertuju pada sang ibu yang terlihat santai di tempat duduknya.


"Benarkah begitu, Bu?" Tatapan Rangga menajam, seolah meminta penjelasan.


Sofyan yang masih tak mengerti akar permasalahan, hanya bisa memandang kearah sang istri dan putranya bergantian.


"Memang kenapa, apa yang ibu lakukan ini salah?" Siska terlihat tak terima.


"Ibu, cobalah mengerti. Apa salahnya menerima kehadiran Anastasya toh..."


"Jelas salah. Kau akan menikah dengan Amara, tetapi malah membawa gadis miskin itu kemari. Jelas itu kesalahan besar yang kau lakukan." Tubuh Siska memanas. Emosinya seakan meluap saat sang putra menyebut nama gadis yang tak disukainya.


"Bu, aku tidak mencintai Amara, aku hanya mencintai Anastasya. Ibu tidak bisa mengambil keputusan sepihak seperti ini. Ketahuilah, aku berhak memilih calon istriku sendiri."


Siska mendengus kesal, berbeda dengan Sofyan yang terlihat tenang mendengar curahan hati sang putra.


"Gadis itu lagi. Bukankah sudah kami katakan jika kalian tak sepadan. Kau dan dia bagaikan lagit dan bumi. Apa kata orang-orang jika mendengarmu menikah dengan gadis yang tak jelas asal usulnya."


Suasana dalam ruangan berukuran luas tersebut mendadak panas. Baik Siska atau Rangga, tak mau kalah dalam adu argumen.


"Terus saja kau membelanya. Terus saja kau mengagungkan namanya. Menjadikannya ratu dengan memberinya segala kemewahan dari hasil menguras isi dompetmu." Dada Siska naik turun. Seirama dengan deru nafasnya yang tak beraturan akibat amarahnya.


"Cukup ibu, dia tak seburuk yang ibu tuduhkan," bela Rangga yang kian menyulut api amarah sang ibu.


"Kenapa? Memang begitu kenyataannya 'kan? Dia lebih rendah dari pada penjaja cinta di jalanan. Menjerat pria muda kaya, untuk meraih popularitas juga hartanya. Dia tentu tak sebanding dengan Amara yang terpelajar dan terlahir dari keluarga terhormat. Sungguh menjijikan."


"Cukup ibu!!"


"Diam!! Putuskan dia dan nikahi Amara," tegas Siska.

__ADS_1


"Tidak!! Sekali Rangga bilang tidak, tetap tidak."


"Kenapa?" Siska kian murka.


"Karna Anastasya sedang mengandung anak Rangga."


Sista terkesiap. Tubuhnya menegang seketika, namun tidak dengan Sofyan yang memilih bangkit dari sofa. Mendekati sang putra kemudian melayangkan satu tamparan keras yang membuat tibuh pria muda itu limbung.


"Anak Sialaan. Aku diam bukan berarti membenarkan tindakanmu," maki Sang Ayah.


Siska terduduk di lantai dengan bulir bening yang menganak sungai.


Terduduk, Rangga mengusap sudut bibirnya yang berdarah juga meningfalkan sensasi rasa panas di sekitarnya dengan satu tangan.


Ia sadar jika apa yang sudah dilakukan salah. Akan tetapi, ia pun akan bertangung jawab pada janin yang berada di kandungan Anastasya.


"Maaf, ayah. Aku akan melakukan apa pun keinginan ayah, asal ayah dan ibu merestui hubungan kami."


"Tidak semudah itu Rangga. Kau fikir semua akan baik-baik saja saat penerus keluarga Wiratama menghamili gadis rendahan yang tak jelas asal asal usulnya. Gunakan otakmu untuk berfikir sebelum melangkah. Dasar anak bodoh. Mau ditaruh mana wajah ayah jika semua kolega bisnis mendengar ini semua. Wiratama group pasti akan hancur seiring berhembusnya kabar kehamilan gadis itu. Entah dalam waktu dekat atau lama, kita hanya bisa bersiap seluruh bisnia keluarga Wiratama hancur karna ulahmu."


Siska kian tersedu. Hanya membayangkan ucapan sang suami saja sudah membuatnya ketakutan. Demi tuhan, ia tidak siap hidup miskin.


"Tapi aku mencintainya ayah." Rangga yang tertatih dan berusaha untuk bangkit itu kembali bersuara.


"Tutup mulutmu. Ayah akan memberi satu kesempatan. Menerima penawaran ayah, atau angkat kaki dari rumah ini!"


Rangga tersentak, begitu pun dengan Siska.


"Penawaran apa, Ayah?"


Pria paruh baya itu menghela nafas.

__ADS_1


"Aku akan fikirkan. Untuk saat ini, renungilah kesalahan yang sudah kau buat sebelum aku memberikan penawaran yang sepadan."


Sofyan lekas berbalik badan, memapah langkah sang istri sebelum bergerak meninggalkan sang putra yang masih bertahan dengan kegamangan.


__ADS_2