
"Dia Arkana, sahabatku." Jawaban itulah yang keluar dari bibir Rangga, saat Anastasya bertanya akan siapa sosok pria sepertinya memiliki hubungan cukup dengannya.
Mereka sudah menuju perjalanan pulang, berbincang hangat di dalam kendaraan yang melaju kencang dengan tangan saling berpautan.
"Dia terlihat cukup dekat denganmu?"
Rangga mengangguk kemudian berucap, "Ya. Kami bersahabat. Bukan hanya kami, tetapi juga kedua orang tua kami."
Ingatan Anastasya tertuju pada sebuah pesta yang digelar keluarga Rangga beberapa waktu lalu. Saat Ibu Rangga membawanya berkeliling, menyapa tamu dekat namun tidak berniat untuk memperkenalkannya pada orang lain.
Ia sempat melihat Arkana duduk bersama seorang wanita paruh baya yang sepertinya seusia dengan ibu dari Rangga.
"Dulu Ayah kami adalah rekan bisnis. Sekian tahun berteman hingga hubungan kami semakin dekat bahkan sudah seperti saudara." Rangga menjeda ucapan, pria itu terlihat menerawang, mungkin tengah coba mengingat kembali serpihan kenangan di masa lalu.
"Arka sendiri sebenarnya bukanlah alumni SMA xx tempatku menempuh pendidikan dulu. Hanya saja memang orang tuanya sejak dulu menjadi donatur tetap di SMA xx hingga kini."
Anastasya tersenyum tipis. Memang jika dilihat dari penampilan, status sosial Arka dan Rangga pun tak beda, sama-sama dari keluarga berada.
"Tapi sepertinya dia juga cukup dekat dengan teman-temanmu yang lain?"
Rangga yang tengah sibuk menciumi punggung tangan kekasihnya itu mengangguk.
"Ya, sebab beberapa temanku yang berkecimpung didunia bisnis memang mengenal Arka dengan baik. Usia kami pun tak jauh beda, maka dari itu kami terlihat akrab bahkan sangat akrab."
Anastasya mengangguk faham, namun situasi berbeda ditunjukan Rangga.
"Eh, sebentar. Sayang, kenapa kau justru menanyakan banyak hal tentang Rangga. Kau tidak sedang menyukainya, bukan?" telisik Rangga dengan menyipitkan pandangan. Sementara gadis yang ditatap, memundurkan wajah.
"Ingat sayang, aku akan cemburu jika kau menyukainya. Walau Arka sahabat terbaikku sekalipun."
Hah apa maksudnya. Aku kan hanya bertanya, bukan berarti suka.
"Sayang, apa maksudmu? Aku bahkan sudah mempunyai kekasih yang sesempurna dirimu, jadi mana mungkin aku bisa berpaling kelain hati." Gadis itu menguyel-uyel pipi Rangga gemas. Menghilangkan sifat cemburu sang kekasih yang bahkan tercipta dari fikirannya sendiri.
Rangga menghela nafas lega. Jujur ia sempat merasakan cemburu saat sang kekasih tiba-tiba memiliki banyak pertanyaan tentang Arka, sahabatnya.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang. Aku tau, jika kau tak akan bisa berpaling dariku," ucap Rangga bangga dan lekas membawa tubuh Anastasya dalam dekapan.
Sementara itu, Rio yang tengah mengatur kemudi hanya bisa tergelak dalam hati. Ia tak habis fikir oleh sang tuan yang terkenal playboy dan kerap bergonta ganti kekasih, nyatanya kini bertekuk lutut pada gadis biasa dan bersahaja. Disatu sisi ia bersyukur namun disisi lain ia pun khawatir, jika suatu saat keduanya harus terpisah atau bahkan sengaja dipisahkan.
💜💜💜💜💜
Anastasya nampak tak fokus dalam menjalani sesi pemotretan dari sebuah iklan produk kecantikan yang mendaulatnya sebagai brand ambassador. Terbukti dengan beberapa gaya yang harus diatur ulang, hingga cukup banyak waktu yang terbuang percuma.
Beberapa kru memintanya untuk tetap fokus, mengingat tubuh yang sudah dalam keadaan lelah begitu pun dengan perut yang teramat lapar.
Akhirnya.
Gadis itu menghela nafas lega. Pekerjaan yang terlihat ringan namun nyatanya begitu menguras energi itu pun usai.
Seluruh kru membubarkan diri. Beberapa terlihat berkemas dan merapikan kekacauan ini dan itu. Sementara Anastasya, gadis itu bergegas menuju ruang ganti diikuti oleh Wina, sang asisten yang setia mengekori langkah.
"Apa ada masalah?" tanya Wina pada Anastasya yang terlihat tak fokus dalam bekerja.
Selama beberapa bulan bekerja pada Anastasya, keduanya cukup dekat. Bahkan Anastasya mengangap Wina seperti keluarga, dan bukan bawahan.
Wina terdiam. Gadis bersurai sebahu itu pernah bertemu dengan Sarah beberapa kali pada saat menemani Anastasya berkunjung ke apartemennya.
"Jadi itu yang membuat Kak Ana uring-uringan dan tidak fokus bekerja?"
Anastasya mengangguk lemah. Selama proses pemotretan berjalan, beberapa puluh panggilan dari Sarah tertera di ponselnya yang tak terangkat. Begitupun dengan beberapa pesan singkat yang memenuhi layar dan tengah Anastasya periksa satu persatu.
Gadis itu tiba-tiba mengernyitkan dahi. Beberapa pesan bertuliskan jika Sarah tengah menunggunya di suatu temat sebab ada masalah penting yang ingin dibicarakan.
"Win, aku pergi lebih dulu. Maaf tidak bisa mengantarmu pulang, kau bisa memesan taksi online supaya aman." Anastasya bergerak cepat. Mengemasi semua barang pribadi ke dalam tas.
Wina masih terperanggah, menatap tubuh Anastasya yang melangkah tergesa sebelum menghilang di balik pintu keluar.
💜💜💜💜💜
Anastasya memastikan alamat yang tertera di layar ponsel yang dituliskan Sarah, sebelum menepikan kuda besinya di area parkir sebuah klinik.
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan Sarah sebenarnya. Klinik? Apa mungkin jika perempuan itu mengalami kecelakaan.
Anastasya membuka pintu mobil dan berniat untuk memasuki klinik tersebut kemudian mencari keberadaan Sarah. Tak seberapa jauh melangkah, sosok Sarah justru terlihat tertatih menyusuri lorong klinik dengan beberapa perban yang membalut beberapa anggota tubuhnya.
Anastasya terkesiap. Ia setengah berlari menghampiri Sarah yang nampak kepayahan. Mendekap dan lekas memahnya berjalan.
"Apa yang terjadi, kak? Apa kakak kecelakaan?" Anastasya yang panik lekas memberondong pertanyaan pada Sarah.
"Ya," jawab Sarah lirih.
"Kakak tidak mengebut di jalan kan?" telisik Anastasya sedikit curiga.
"Tidak Ana. Aku terserempet kendaraan saat turun dari mobil untuk mencari makan."
Gadis itu terus mengiring langkah Sarah untuk memasuki mobil. Penuh kehati-hatian sebab ekspresi kesakitan yang ditujunjukan Sarah membuat gadis itu bergidik ngilu.
"Aku akan antar kakak pulang." Anastasya mulai menghidupkan mesin mobil dan bersiap mengantar Sarah kembali keapartemen.
"Ana, ada sesuatu yang ingin aku katakan."
"Hem, tentang apa?" Anastasya berbicara seraya fokus menatap kedepan dengan kedua tangan mengatur kemudi.
"Tolong aku," ucap Sarah sembari menggengam lengan Anastasya.
"Tolong?" Anastasya menautkan kedua alisnya. Binggung menelaah ucapan Sarah. "Tolong apa kak?"
"Aku sudah menandatangani kontrak dengan sebuah rumah produksi dan terjadwal siang ini. Sementara kondisi tubuhku seperti ini. Aku takut sebab kontrak tersebut tidak boleh dibatalkan sepihak atau aku akan membayar denda sepuluh kali lipat dari jumlah honor yang disepakati."
Anastasya terdiam. Sebenarnya apa maksud ucapan Sarah.
"Lalu?"
Sarah menggengam lengan Sarah cukup kuat. Seperti tengah memohon.
"Tolong, gantikan posisiku. Aku bisa apa dengan kondisi tubuh seperti ini." Sarah terisak, yang justru membuat Anastasya menelan ludah.
__ADS_1
Bersambung