
Luka, namun tak berdarah. Rangga merasakannya sekarang. Bagaimana kisah cintanya, tengah dipertarungkan. Antara orang tua dan kekasih tercinta. Sungguh, keduanya teramat berarti baginya.
Melangkah gontai, Rangga menyusuri anak tangga menuju kamar pribadinya dengan setengah tenaga yang masih tersisa.
Ucapan sang ibu seketika menammpar kesadarannya, walau sekuat apa pun ia berjuang mempertahankan hubungannya dengan Anastasya, badai besar sudah pasti akan datang menerpa. Menghancurkan, bahkan memisahkan mereka berdua.
Rangga membuka pintu kamar pribadinya. Melepaskan sepatu dan seluruh pakaian yang melekat di tubuh. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Menghilangkan rasa penat juga segala beban fikiran yang terasa memenuhi otaknya kini.
💜💜💜💜💜
"Selamat malam, tuan," sapa seseorang pada Rangga.
"Malam, duduklah." Rangga melirik kursi kosong di hadapannya. Pemuda itu pun faham, lantas menduduki kursi tersebut.
Rangga mendaratkan selembar foto keatas meja. Seketika seorang pengawal tersebut menatap kearah lembaran foto penuh tanya.
"Ada pekerjaan untukmu. Aku ingin kau mencari tau tentang perempuan di foto ini."
"Baik, tuan."
Pengawal itu pun meraih lembaran foto, menatapnya sekilas sebelum menyimpannya di saku pakaian.
"Untuk alamat sudah tertera di balik foto. Aku ingin kau cari tau semuanya tentang perempuan itu. Keluarga, latar belakang, serta pergaulan. Mulai dari hal besar atau remeh temeh sekali pun."
__ADS_1
Pengawal itu mengangguk faham.
"Jangan ada satu informasi pun yang tertinggal dan ingat, tetap berada pada jarak aman agar tak ketahuan."
"Baik, tuan."
"Pergilah. Aku tunggu hasil kerjamu secepatnya."
"Baik, tuan." Selepas berucap pengawal bertubuh kekar itu menundukan kepala kemudian berbalik badan dan pergi.
Rangga menghela nafas dalam. Dari balkon kamar, ia bisa merasakan tiupan angin malam yang terasa dingin saat menyentuh kulit. Pria tampan itu dilema. Berdiri di antara dua pilihan. Orang tua ataukah Anastasya.
Andai orang tuanya bisa menerima Anastasya dengan tangan terbuka, tentu semuanya tak akan sesulit ini. Namun, apalah daya. Bagi sang ibu, sosok gadis yang ia cinta sungguh tak sepadan jika ia bawa untuk membangun biduk rumah tangga.
Rangga menutup kedua telap tanggannya kewajah. Rasanya begitu sulit, terlebih perasaanya pada Anastasya kini tak mampu lagi dikendalikan.
"Bodoh," maki pria paruh baya yang ditujukan untuk gadis yang tengah bersamanya.
"Berhenti mengataiku bodoh, mas." Perempuan itu mulai geram sekaligus tak terima manakala makian itu terus terucap tanpa henti dari bibir sang pria.
"Lalu aku harus menyebutmu apa lagi selain bodoh? Ah, ataukah tolol? Bukankah itu sama saja." Pria itu bahkan tergelak kencang selepas menyelesaikan ucapan.
"Sialan kamu Mas. Apa sebegitu hinanya aku dimatamu, hingga hanya masalah sepele seperti itu pun kau permasalahkan. Bahkan berani membentak dan mengumpatku macam-macam." Sarah benar-benar geram. Broto yang selama ini bertutur kata lembut, berubah garang setelah mengetahui kegagalan rencananya.
__ADS_1
"Kau bilang ini masalah sepele, hah?" Broto mendekat dan mencengkeram wajah Sarah dengan kedua tangannya. "Kau gagal memperdaya gadis itu untuk menggantikan posisimu. Kau fikir aku tidak murka?" Sepasang netra pria paruh baya itu terbuka lebar, yang mana membuat Sarah ketakutan.
"Aw, lepas, sakit mas," pekik Sarah. Cengkeraaman tanggan Broto diwajahnya terasa begitu sakit. "Aku ini istrimu mas, kenapa kau memperlakukanku seperti ini?" sambung Sarah seraya mengiba.
"Istri?" Broto tersenyum sinis. "Kita hanya sepasang ustri di atas kertas. Kau dengar, istri di atas kertas. Jadi, tidak usah berlebihan." Broto mendorong tubuh Sarah hingga cengkeraman tangannya terlepas.
Tubuh Sarah limbung dan terjatuh kelantai. Perempuan itu menatap sosok Broto yang kini duduk santai disofa sembari menghisap sebatang rokok dengan nikmatnya.
Sarah menahan gemuruh di dada dengan sepasang netra yang mulai berkaca. Seperti inikah sosok Broto sebenarnya? Pria yang sudah menikahinya dua tahun lalu meskipun secara siri. Pria yang sudah menghujaninya dengan harta juga kemewah itu, rupanya sudah menunjukan watak sebenarnya selepas dua tahun bersikap penuh kepura-puraan.
"Berhenti memandangku dengan tatapan seperti itu." Broto yang merasa diperhatikan pun buka suara.
Sarah memilih diam. Enggan menjawab jika berujung pertikaian.
"Kau harus sadar jika usiamu tak lagi muda. Butuh seorang gadis yang masih kecang juga menawan untuk mengantikan posisimu."
Ucapan Broto seakan menampar harga diri Sarah. Usianya memang tak lagi muda, tak berarti ia tua. Tubuhnya bahkan masih terawat, dan tetap sedap di pandang saat bergaya di depan kamera.
"Aku tidak mau tau. Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir. Jika kau berhasil maka aku akan memberi banyak hadiah, apa saja yang inginkan. Mobil, rumah, apartemen, atau apa pun itu. Tetapi sebaliknya, jika kau gagal maka aku akan menendangmu dari kehidupanku. Apartemen, mobil, kartu kredit dan semua fasilitas yang sudah kuberi dua tahun ini, akan aku cabut. Pun dengan pernikahan siri kita, akan kandas hari itu juga."
Sarah memalingkan wajah, kedua tangannya terkepal seketika. Sial, kehidupan mewahnya bahkan terancam musnah hanya karna seorang Anastasya. Apakah semua ini nyata? Sah mencubit lengannya sedikit keras dan..
Aw, sakit.
__ADS_1
Ternyata semua nyata dan bukan ilusi semata. Tak menyangka jika kehidupan yang sudah ia perjuangkan setengah mati, justru kini berada di ujung tanduk.
Bersambung