Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Beberapa tumpuk pakaian di lemari, kini berpindah kedalam koper yang sudah Anastasya siapkan untuk rencana kepindahannya. Memiliki rumah dari hasil keringat sendiri. Bukankah kebahagiaan tersendiri?


Gadis itu menghela nafas berat. Sepasang netranya bahkan masih memerah akibat menangis semalaman.


Sepulang pesta kembalinya Rangga ke ibu kota, gadis itu hanya terdiam saat sang pria mengatarnya pulang hingga depan pintu apartemen Sarah.


Meski caci, maki kerap ia dapat, akan tetapi tak sesakit saat ibu Rangga bersikap terang-terangan tak menyukainya. Sejenak gadis itu sadar, jika dirinya bukan siapa-siapa dari orang seperti Rangga. Hanya teman, ya hanya teman kala dibutuhkan.


Selain pakaian kumal bekal dari kampung, tak ada lagi yang gadis itu angkut menuju rumah baru miliknya. Meski mendapat uang cukup lumayan dari hadiah kompetisi juga dari pihak sponsor, akan tetapi Anastasya tak ingin membuang-buangnya untuk sesuatu yang tak penting. Menabung dan terus menabung untuk saat ini. Membangun usaha di kampung untuk sang paman, adalah impian terbesarnya selama ini.


Satu koper sudah terisi penuh pakaian. Gadis itu hanya perlu merias diri sejenak sebelum menemui Bi atun untuk berpamitan.


"Ana, kau sudah bersiap rupanya?" Atun muncul dari pintu kamar yang terbuka. Rupanya perempuan itu yang lebih dulu berinisiatif menemui Anastasya.


"Iya, bi." Anastasya tersenyum. Wajah itu kian terlihat manis saat bibir tipisnya mengulas senyum simpul.


"Aku pasti akan kesepian selepas kau pergi," ucap Atun yang memilih duduk di samping koper. Raut wajahnya terlihat sedih, sementara pandangannya justru tertuju pada koper dan bukan pada gadis di hadapannya.


Anastasya juga merasakan hal yang sama. Bi Atun adalah salah satu dari beberapa orang berhati baik yang ia temui di kota ini. Tak dipungkiri jika ia pun merasakan kesedihan yang sama.


"Aku janji, akan sering berkunjung kemari walau pun hidup di sana. Kita masih akan sering bertemu, bi. Tidak usah sedih seperti itu."


"Ana, aku harap kau tak akan melupakanku walau pun kau sudah sukses."


Mendengar ucapan Atun, Anastasya justru merasa hatinya teriris perih.


"Bi, jangan bicara seperti itu. Sampai kapan pun aku akan tetap sama. Tetap Anastasya, baik dulu, hari ini, bahkan seterusnya. Tidak akan ada yang berubah." Gadis itu mengusap lembut bahu Atun yang mulai berguncang. Perempuan itu menangis.


"Apa kak Sarah ada?"


"Tidak, dia keluar sedari tadi dan belum kembali."


Anastasya terdiam. Beruntung ia sudah menyampaikan kepindahannya pada sarah semalam. Hingga tanpa bersua pun sepertinya tak apa.


*******

__ADS_1


"Tasya?"


Anastasya menundukan pandangan. Di detik ia keluar dari pintu apartemen Sarah, didetik itu pulalah sosok Rangga muncul dari pintu apartemennya yang letaknya berhadapan.


"Kau akan pindah sekarang?" Ditatapnya sebuah koper yang tengah di gengam gadis itu erat.


"Iya," jawab gadis itu lirih.


"Ayo aku antar." Pria itu mendekat, lekas menarik koper tersebut dari tangan Anastasya.


"Tuan, tidak usah. Saya bisa sendiri." Anastasya berniat merebut koper miliknya, akan tetapi tangan besar itu menahannya.


"Aku tidak suka ditolak," jawab pria itu dingin. Tanpa banyak kata, ia pun menyusuri lorong apartemen hingga mau tak mau Anastasya pun mengikuti langkahnya.


*******


"Aku dengar rumah ini sudah dilengkapi perabotan. Jadi, kau tak perlu repot atau pun keluar biaya lagi." Rangga menggeser pandang kearah Anastasya yang berdiri di sisi kanan tubuhnya.


"Iya, tuan." Tersenyum tipis, Anastasya masih terpaku seraya menatap bangunan minimalis di hadapannya.


Gadis itu tergelak, dan mengikuti langkah Rangga yang mendahuluinya.


Begitu pintu terbuka, Anastasya memandang kagum pada ruangan bersih bercat putih yang terlihat begitu nyaman.


Rangga pun tak sungkan meringsek masuk dengan membawa serta koper pakaian Anastasya.


"Kau suka?" tanya Rangga antusias, sementara pandangannya menyapu keseluruh ruangan.


Gadis itu mengangguk kemudian berucap, "Suka tuan."


"Duduklah, ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu." Pria dengan T-shirt berwarna abu-abu itu mendaratkan tubuhnya pada sofa ruang tamu dan meminta pada Anastasya untuk bergabung bersamanya.


"Untuk masalah pekerjaan, masih tetap pada kontrak tertera yang sudah kau setujui. Managemen akan memfasilitasi semua keperluanmu selama satu tahun kedepan. Aku akan pastikan jika kau di manageri orang yang tepat."


Anastasya cukup terkejut. Memang benar jika ia masih bergantung pada Wiratama management, namun tidak mungkin jika Rangga sendiri yang harus turun tangan.

__ADS_1


"Saya faham, tuan. Akan tetapi tidak mungkin jika anda, seorang pewaris Management yang saya naungi justru melakukannya secara langsung. Bukankah sudah ada pihak tersendiri yang memang sudah dipersiapkan oleh Agensi?"


Rangga tertegun. Ia tak menyangka jika Anastasya akan berucap demikian. Andai saja gadis lain, mungkin sudah bersuka cita atau pun lompat kegirangan, saat mendapat keistimewaan dari dirinya.


"Maafkan aku tasya, sebenarnya ini memang diluar dari aturan management dan merupakan inisiatif diri sendiri. Maaf, bukankah kita seorang teman?"


Gadis itu mengangguk.


"Tetapi saya harap, jika kita tidak terlalu dekat."


"Kenapa?" Rangga terlihat sulit memahami ucapan Anastasya.


"Tidak apa, tuan. Hanya saja saya tidak ingin jika ada orang yang melihat, lalu berfikir yang tidak-tidak."


Rangga justru tergelak, hingga bahunya pun ikut berguncang.


"Aku kira kenapa. Bukankah itu hal lumrah, saat kita berkunjung ke kediaman temannya?"


"Benar tuan, tetapi tak semua orang berfikiran baik. Terlebih, saya hanya tinggal sendiri di rumah ini." Bukan hanya itu yang menjadi beban Anastasya. Rangga selalu mencari celah untuk dekat dengannya, hanya saja selepas pesta malam itu, ia pun sadar jika tak semestinya mereka berhubungan dekat.


"Baiklah. Bagaimana jika aku mencari seorang ART untuk menemanimu?" tawar Rangga tanpa dosa.


"Terimakasih, tuan. Sepertinya tidak perlu, lagi pula saya tak punya cukup uang untuk mengajinya perbulan," tolak Anastasya cepat.


"Itu gampang. Aku bisa membayarnya untukmu."


Hah, apa maksudnya.


Melihat raut kebingungan Anastasya, Rangga pun lekas mengunci pandangan, hingga gadis itu tak mampu berkutik.


"Aku mencintaimu, Tasya. Aku harap kau sadar jika semua yang kulakukan ini, karna aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu, bahkan saat pertama kali kita bertemu. Saat aku melihatmu di pusat perbelanjaan itu, aku sadar jika kau mulai memporak porandakan dan memenuhi isi kepalaku." Ucapan Rangfa justru membuat Anastasya membatu. Diam, tak mampu berkata-kata.


"Ah, ya. Kau mungkin sudah lupa pada momen bersejarah itu, tetapi aku tidak akan pernah bisa melupakannya. Kenangan itu akan tetap terpatri di hati juga fikiranku."


Apalagi yang mampu diperbuat Anastasya selain terpaku dan menatap pria di hadapannya penuh tanya. Benarkah ini nyata? Ataukah mimpi belaka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2