
Sejak semalam fikiran Anastasya tampak tak tenang. Seperti diliputi perasaan bersalah saat dengan sengaja menolak kontrak yang ditawarkan oleh Sarah. Akan tetapi, gadis itu pun berfikir ulang, untuk apa bayaran mahal jika harus mengekspos bagian tubuh terpentingnya.
Anastasya sadar, sebisa mungkin membatasi diri dalam berkarir tanpa harus menjatuhkan harga diri. Sesuatu yang selama ini dijaga, tak akan diumbar begitu saja, walau berlian sebagau imbalan.
Perkaran itu pun sengaja akan ditutup rapat dari Rangga. Bagaimana pun pria itu akan marah besar, andai kata tahu kebenarannya.
Seusai pemotretan, Anastasya memilih untuk berdiam diri di rumah. Menukmati senja, dengan menonton serial kartun dilayar televisinya.
Gadis cantik yang membiarkan rambutnya tergerai indah itu menatap layar televisi dengan mendekap sebungkus besar keripik kentang. Bibirnya tak berhenti mengunyah, namun sesekali ia tergelak dengan bahu terguncang.
Anastasya begitu menikmati waktu luangnya hingga tak menyadari akan kehadiran seseorang pria yang sudah berdiri di sampingnya dengan mengelengkan kepala.
"Apa tontonan itu lebih menarik dari pada aku?" Rangga meninggikan suara, hingga Anastasya yang terkesiap pun bangkit seketika. Namun naas, sebungkus besar keripik kentang pun ikut berhamburan kelantai akibat tindakan spontannya.
"Kenapa tidak mengetuk pintu?" Gadis itu menekuk wajah. Sementara sepasang netranya menatap iba pada keripik kentang yang berserakan kemana-mana.
"Tak usah ditanya. Tanganku bahkan nyaris memar mengetuknya, tapi kau tak kunjung membuka." Rangga menerobos begitu saja. Mengambil sapu lantai dan mengumpulkan keripik kentang sebelum membuangnya ke kotak sampah. "Jangan menangis, akan aku ganti dengan yang baru," sambung pria itu sembari mengusap lembut pipi sang gadis.
Anastasya mengangguk, kemudian memeluk tubuh Rangga erat.
"Kau memang terbaik," puji Anastasya.
"Hem, aku tau itu," ucap Rangga bangga.
Mereka pun duduk di sofa dengan masih berpelukan. Terasa hangat. Saat bersama Rangga, Anastasya merasa begitu tenang dan terlindungi. Dia seperti berperan layaknya seorang ayah untuk Anastasya. Membuat gadis itu terbuai dan mulai bergantung padanya.
"Roi bilang jika semalam kau menemui seseorang, siapa dia?" Rangga mengusap surai lembut sang kekasih, sesekali mendaratkan kecupan di kening.
Anastasya menelan saliva. Sebisa mungkin terlihat tenang dan berusaha mengatur kata yang tepat.
"Em aku hanya bertemu dengan Kak Sarah. Biasa, sudah cukup lama tak bersua. Dia bilang rindu, dan meminta bertemu."
"O.., aku kira siapa."
Saat Rangga tak lagi memperbanyak pertanyaan, gadis itu menghela nafas lega. Itu pertanda jika sang kekasih tak curiga dan Rio pun tak mengadu banyak hal.
"Kau sedang tidak ada jadwal, bukan? Bagaimana kalau ikut denganku malam ini."
__ADS_1
Anastasya mendongak, hingga pandangan mereka bertemu.
"Kemana?"
Rangga terpaku pada sepasang netra Anastasya yang memandangnya, sesekali mengerjap indah. Membuat pria itu luar biasa gemas.
"Rahasia." Rangga tergelak kencang, sementara Anastasya memberengut kesal.
💜💜💜💜💜
Dahi gadis itu berkerut, hingga nampak beberapa lapisan. Di dalam benaknya banyak menyimpan tanya, sebenarnya kemana tujuan mereka.
Rio mengemudikan sedan hitam itu dengan cukup kencang membelah jalanan malam. Rangga terlihat tanpan dengan pakaian formal, sementara Anastasya mengenakan dres merah maron sebawah lutut, dengan surai tergerai.
Tak ada ultimatum sebelumnya, namun rupanya Rio sudah mengetahui tempat tujuan sang tuan. Tiga puluh menit berselang, pria dewasa itu menepikan kuda besinya pada area parkir sebuah kafe cukup ternama di ibu kota.
Anastasya spontan mengarahkan pandangan kesegala penjuru.
Kafe?
Gadis itu mengernyit. Sebenarnya untuk apa mereka datang ketempat ini?
Tak menjawab, Rangga hanya tersenyum tipis seraya mengandeng lembut tangan Anastasya untuk memasuki kafe tersebut.
Seperti pasangan kekasih pada umumnya, Rangga dan Anastasya terlihat begitu serasi saat berdampingan. Tampan dan juga cantik. Begitu setiap pasang mata yang berpapasan akan bergumam.
Suasana cukup ramai begitu memasuki kafe yang cukup diminati oleh para muda mudi itu. Dari tamu yang datang, semua terlihat berpakaian cukup formal dan berkelas.
"Sayang," ucap Anastasya kebingungan. Ia menetralisir kegugupan kala menyapu ruangan.
Sepertinya tempat tersebut sengaja diboking untuk suatu acara. Namun acara apa?"
"Teman-teman alumni SMA xx mengelar acara reuni. Gengam tanganku, akan kuperkenalkan kau sebagai calon istriku."
Anastasya terkesiap, namun tak ayal wajahnya pun bersemu merah.
Keduanya melangkah beriringan. Gelak tawa dan musik yang mengalun indah, membuat ruangan luas itu kian ramai.
__ADS_1
Rangga mengiring langkah menghampiri beberapa pasangan yang nampak berbincang.
"Wow, lihat!," pekik seorang pria. "Rangga sang playboy sultan hadir rupanya," sambung pria berkemeja hitam itu dengan senyum lebar.
Rangga tergelak. Pria itu pun mendekat kemudian saling berpelukan.
"Gila, tambah keren kamu bro," puji rekan pria lainnya.
Rangga memeluk beberapa teman lama yang menyapanya. Senyum teres terkembang di bibir mereka. Coba melepas rindu selepas beberapa tahun tak bersua.
"Kenalkan," Rangga menarik lembut sang kekasih dan merengkuh pinggang rampingnya. "Dia Tasya, calon istriku," sambung Rangga dengan bangga.
Semua pasang mata terbelalak. Terkagum sekaligus tak percaya. Rupanya setempel seorang playboy yang disandan Rangga semenjak SMA sudah akan terhapus dari dirinya.
Perbincangan hangat pun berlangsung. Beberapa teman Rangga yang membawa pasangan, tampak memperkenalkan satu persatu. Beberapa di antara mereka pun sudah menikah dan bahkan memiliki buah hati.
Suasana kafe kian ramai seiring berjalannya waktu. Tak hentinya Rangga menyapa teman sebayanya itu satu persatu dengan membawa anastasya dalam gadengan.
Penuh bangga pria dengan pakaian formal itu memproklamirkan Anastasya sebagai cinta sejatinya. Berjalan kesana kemari tanpa lelah, seolah ingin mengatakan pada dunia, jika Anastasya hanya miliknya seorang. Sementara Anastasya, hanya bisa tersenyum samar, berusaha menutupi rasa malu juga grogi.
"Dasar bocah," celetuk seseorang yang spontan membuat Rangga juga Anastasya berbalik badan. Wajah pria itu sudah memerah menahan marah, namun saat tahu siapa seseorang yang membuatnya nyaris naik pitam, Rangga pun menutup kembali mulut yang semula hendak terbuka melemparkan makian.
Rangga tersenyum lebar.
"Sial, hampir saja aku menyemburmu dengan makian. Untung tidak kebablasan," rutuk Rangga pada seorang pria yang tak lain ialah Arkana, sang sahabat.
Arkana tak sendiri, ia datang bersama Sam, asisten pribadinya.
"Selamat malam tuan, nona," sapa Sam pada sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara itu. Rangga memperkenalkan sang kekasih pada kedua sahabatnya meski pada pesta kedatangannya beberapa waktu lalu, mereka sudah pernah dipertemukan.
Rangga tersenyum lebar, begitu pun dengan Anastasya. Kedua sahabat itu bercengkrama dan sesekali melempar candaan. Dari interaksi keduanya, Anastasya melihat jika sosok Arkana lebih terkesan coll dan pendiam. Berbeda dengan Rangga yang santai namun banyak bicara.
Mereka menuju sebuah meja yang sudah tersedia aneka minum juga makanan. Perbincangan terus berlanjut meski hanya sesekali Anastasya ikut menanggapi.
Ada sesuatu yang menarik dan membuat Anastasya tergelitik. Dari sekian banyak peserta reuni yang hadir, hanya Arkana dan Samlah datang tanpa pasangan.
Arka yang diledek habis-habisan, hanya menanggapinya santai dengan wajah tenang. Diam-diam, Anastasya pun memperhatikan pria berjambang tipis itu dari jarak cukup dekat, mengingat mereka berada dalam satu meja yang sama.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, wajah gadis itu menuduk, setelah Arkana tersadar jika tengah diperhatikan.
Bersambung