
Alunan musik yang terasa lembut menyapa gedang telinga, menggiring beberapa tamu resto untuk terhanyut menikmatinya.
Seorang penyanyi dengan suara merdu, melantuntan beberapa judul lagu dengan penampilan memikat. Beberapa pasang mata tersenyum senang, bahkan ada beberapa yang ikut bernyanyi bersama. Sebagai luapan rasa suka.
Suasana Resto mewah itu benar-benar hidup pada malam ini. Semua tamu seolah terhibur. Bukan hanya tampilan penyanyi pendukung, tetapi juga makanan mewah yang disajikan, begitu menambah kebahagiaan hati pengunjungnya.
Sekeliling begitu ramai, tetapi tidak bangi Rangga yang merasa sepi. Jiwanya di sini, tetapi Raganya mengembara jauh.
Amara beberapa kali berusaha menyentuh tangan kekarnya yang berada di atas meja, akan tetapi pria itu buru-buru menipisnya.
Gadis itu terdiam. Wajahnya memerah akibat beberapa kali mendapat penolajan.
Malam ini dua keluarga yang rencananya akan membahas perihal perjodohan, kini tengah duduk bersama di sebuah resto untuk makan malam.
Keluarga Hendro, membawa sang putri tunggal bernama Amara, yang pada malam itu terlihat begitu cantik dengan gaun berwarna tosca yang membalut tubuh rampingnya.
Gadis yang baru saja menamatkan pendidikan di salah satu universitas di negara tetangga itu rupanya cukup percaya diri saat dipertemukan untuk pertama kalinya dengan keluarga Wiratama.
Sejatinya kedua insan yang hendak dijodohkan itu belum saling mengenal. Hanya saja dari kedua belah pihak keluarga sudah melakukan pembicaraan secara matang dan hanya melampirkan beberapa lembar foto sebagai penunjang.
Senyum di bibir tipis Amara terus terulas mana kala pandangannya tertuju pada sosok Rangga yang hanya mengunyah makanan tanpa balas menatapnya.
Rupanya Amara sudah terpesona pada pandangan pertama pada sosok Rangga yang bertubuh tegap juga parasnya yang rupawan.
Kedua keluarga itu sudah terlihat akrab. Amara pun tak terlihat canggung dan mulai mendekatkan diri pada orang tua Rangga. Gadis bersurai pirang terlihat pintar mengambil hati. Tak sungkan ia melempar candaan atau bahkan mengambil beberapa macam makanan di atas meja untuk disuguhkan pada orang tua Rangga.
"Aduh jeng, rasa sudah tak sabar ingin menjadikan Amara menantu dikeluarga kami," ucap Siska antusias. Pandangannya tak teralihkan dari sosok gadis yang sedari tadi tampak sibuk mengbilkan makanan untuknya.
Ibu dari Amara tersenyum lebar.
"Ya monggo segera diresmikan, jeng. Amara pun sepertinya sudah tak sabar untuk menjadi menatu jeng Siska."
Amara hanya tersenyum, seraya tertunduk malu. Sungguh ia tak menolak jika pernikahan itu lekas dilaksanakan.
Sementara itu, Rangga hanya bisa menghela nafas kasar. Sepanjang makan malam, ia hanya pura-pura memasang wajah senang. Meski sejujurnya ia jengah mana kala setiap kata pernikahan menyapa indra pendengaran.
__ADS_1
"Rangga, bagaimana. Amara terlihat sudah tak sabar untuk menikah. Kalau Nak Rangga sendiri, bagaimana?" Kini Ayah Amaralah yang melempar tanya.
Rangga terkesiap. Ia menelan ludah kasar. Tak tau hendak menjawab apa. Akan tetapi, kedua netra sang ibu menatap sang putra begitu tajam. Seolah memberi isyarat jika dirinya jangan salah menjawab pertanyaan.
"Maaf paman, bibi, saya masih belum bisa memutuskan sekarang. Terlebih, ini baru kali pertama kami berdua bertatap muka secara langsung. Biarlah hubungan ini mengalir dengan sendirinya. Toh, jika sudah jodoh. Pasti akan bermuara pada saatnya."
Sofyan dan Siska menegang. Terlihat jelas jika pasangan paruh baya itu tak lega dengan jawaban yang terlontar dari bibir Sang putra.
Amara pun sepertinya kecewa. Wajahnya mendadak mendung pun dengan senyum yang tak lagi terulas.
Diluar dugaan, kedua orang tua Amara justru merasa puas pada jawaban pria muda yang digadang-gadang akan menjadi menantunya. Rangga begitu tenang saat berucap, bahkan ia membiarkan hubungan itu terjalin sebagaimana mestinya tanpa tergesa-gesa mengambil keputusan.
"Benar sekali nak Rangga. Setiap hubungan pasti butuh proses dan waktu. Saya paham, jika kalian baru saja bertemu dan bahkan bibit-bibit cinta itu masih belum tumbuh di antara kalian. Seperti kata orang dulu, witing treso jalaran soko kulino, cinta tumbuh karena terbiasa. Mungkin dengan seringnya bertemu, rasa cinta itu mulai tumbuh, hingga kalian lepas menjalaninya tanpa ada paksaan dari kami sebagai orang tua."
Kedua orang tua Amara rupanya cukup bijak dalam menyikapi hubungan ada. Menilik reaksi Rangga yang terkesan biasa-biasa, berbanding terbalik dengan sang putri yang tampak bersemangat, membuat pasangan paruh baya itu sadar, jika rencana perjodohan ini sebaiknya jangan dulu dilakukan.
Rangga pria yang sempurna, orang tua Amara tau jika putri mereka tak akan menolak untuk dijodohkan dengannya. Haya saja, mereka pun keberatan andai kata hanya Amara lah yang memiliki rasa, tetapi tidak pada Rangga yang terkesan acuh.
Orang tua Rangga tampaknya menyukai pendapat yang disampaikan orang tua Amara. Mereka tersenyum tipis seraya menganggukan kepala. Meski dalam hati menggeram kesal, mengingat penolakan yang dilakukan Rangga pada Amara yang tak mampu ditutupi lagi.
Rangga tak langsung pulang saat makan malam bersama keluarga Amara selesai. Sedari tadi fikiran pria berpakaian formal itu selalu tertuju pada Anastasya. Rasa rindu dan bersalah berbaur menjadi satu.
Acara makan malam ini pun sengaja ia rahasiakan dari Anastasya sebab tak membuat wanitanya itu terluka. Meski rasa bersalah terus menggerogotinya, akan tetapi bukankah itu lebih baik dari pada Anastasya mengetahui semuanya.
Rangga tak mencintai Amara, hanya Anastasyalah yang bertahta di hati untuk hari ini dan seterusnya.
Pria berjambang itu melajukan kuda besinya menuju arah kediaman Anastasya. Pria itu begitu rindu, ingin rasanya cepat bertemu dan menghapus jejak rindu setelah beberapa hari taj bertemu.
Saat menatap jalan, seketika Rangga menginjak Rem hingga menimbulkan decitan.
Tasya.
Dari kaca mobil, sekilas Rangga melihat sosok Anastasya duduk di kursi kayu dan sspertinya tengah mengantri makanan yang dijual pedagang kaki lima di area taman kota.
Apa yang Tasya lakukan malam-malam di tempat ini?
__ADS_1
Kuda besi itu menepi. Begitu tak sabaran Rangga menuruni mobil kemudian menghampiri sang pujaan hati.
Kondisi sekitar yang cukup terang dengan lampu jalanan bertebaran, membuat wajah Anastasya mudah dikenali oleh Rangga meskipun malam hari.
"Tuan Rangga." Wina yang berdiri tak jauh dari Anastasya, rupanya lebih dulu menyadari kehadiran pria tersebut.
Anastasya yang tengah duduk itu pun spontan menoleh. Rasa terkejut tak mampu lagi ditutupi saat mendapati tubuh Rangga berdiri tak jauh darinya.
"Sayang, sedang apa kau di sini?" Rangga ikut duduk di samping Anastasya. Spontan tangannya bergerak untuk mengusap puncak kepala sang kekasih dengan sayang.
Anastasya kebingungan menjawab.
"Em, aku hanya sedang cari makanan saja bersama Wina." Gadis itu menujuk Wina yang tengah mengantri di samping gerobak pedang kaki lima.
"Makanan? Kenapa tidak pesan secara online saja sayang. Bukankah itu lebih mudah dari pada harus keluar rumah malam hari seperti ini." Rangga menatap wajah sang kekasih lekat. Tidak seperti biasanya yang terlihat ceria, malam ini Anastasya terlihat tak banyak bicara juga tampak menjaga jarak.
"Iya, tapi aku juga ingin menikmati udara malam yang selama ini jarang kunikmati." Gadis itu tak berdusta. Dengan duduk termenung seraya menikmati semilir angin malam, membuatnya sejenak melepaskan beban berat dihidupnya.
"Kak, sudah. Ayo kita pulang, sekarang sudah malam." Wina mendekat dengan menenteng dua kantong plastik di tangan.
"Wina, apa itu?" Tanya Rangga.
"Em, ini kerak telor. Kak Ana bilang, jika ia begitu menginginkannya malam ini."
Ucapan Wina seketika membuat sekujur tubuh Rangga menegang. Ia lantas mengarahkan pandangan pada Anastasya, namun gadis itu justru membuang pandangan kearah lain.
"Sayang, kenapa tidak bilang. Aku bisa mencarikannya untukmu, hingga kau tidak usah keluar malam seperti ini."
"Bukankah kau sibuk." Selepas berucap, Anastasya menundukan kepala.
Rangga menghela nafas dalam. Apakah praduganya benar jika Anastasya tengah berbadan dua. Menginginkan sesuatu, malam seperti ini pula.
Pria itu mengusap wajahnya kasar. Apakah Anastasya tahu semua tetapi memilih diam?
Ya tuhan Tasya, Maaf- maafkan aku.
__ADS_1
Bersambung