Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Pesan Ancaman


__ADS_3

"Jadi, aku mohon pada semua untuk tidak memperpanjang masalah ini." Anastasya memberi penjelasan pada Manager juga beberapa staf yang selama ini berperan pada karirnya. Beberapa orang yang sengaja Anastasya kumpulkan itu hanya bisa menghela nafas. Berurusan dengan keluarga Wiratama, sungguh mereka tak memiliki nyali walau untuk membayangkan sekali pun.


"Aku hanya datang, bermaksud untuk menanyakan keberadaan Rangga yang beberapa hari ini menghilang tanpa kabar." Gadis itu tertunduk. Meski sepasang netranya memanas, namun sebisa mungkin ia tak menangis dan mengumbar kerapuhan hatinya pada rekan-rekan kerjanya.


"Apakah tuan Rangga memang menghilang, ataukah hanya sedang menghindar darimu saja?" Manager Anastasya justru menanyakan sesuatu hal yang membuat model-nya itu menghela nafas.


"Apa maksud pertanyaan kakak, aku tak mengerti?"


"Apakah selama ini kalian benar-benar berpacaran, ataukah hanya sekedar dekat namun kau menyalah artikannya dan menganggap tuan Rangga itu kekasihmu, namun sejujurnya tidak?" Beberapa rekan lain yang yang mendengar pun sontak menatap Anastasya seolah meminta penjelasan. Terkecuali Wina, yang sudah tau sejauh apa hubungan Anastasya dan Rangga.


Anastasya geram. Tak habis fikir dengan para tim yang selama ini cukup dekat, bahkan melangkah bersama saat menjalani pekerjaan. Hubungan ia dan Rangga sejujurnya memang tak ia umbar pada khalayak, namun bukankah mereka tau jika Rangga pun menemuinya ke lokasi, walau sekedar untuk makan bersama.


Jadi pantaskah mereka mempertanyakan status hubungan itu sekarang?.


"Aku rasa, itu bukan urusan kalian. Selama aku tak merugikan rumah produksi, jadi aku tidak mempermasalahkan hubungan kedekatanku dengan siapa pun itu."


Meski hubungan mereka cukup dekat, namun Anastasya sendiri terkesan menjaga jarak. Dia faham jika hidup dalam lingkup dunia entertain yang tak mudah percaya pada siapa pun termasuk managernya sendiri. Sebisa mungkin ia menyimpan Rahasia juga aib diri, untuk dirinya sendiri.


Hidup di dunia Entertain itu kejam. Ujar sebagian teman yang kerap berbagi keluh kesah pada Anastasya. Terlebih saat kita memiliki teman dekat seorang Artis terkenal, atau konglomerat yang dielu-elukan banyak orang. Salang bicara atau salah melangkah, maka hancur reputasi dan karir yang susah payah didapat dalam waktu sekejap.


Semua orang yang menjadi lawan bicara Anastasya, memilih diam. Enggan membuka suara dan lebih mempersilahkan gadis itu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Sebab, semua prahara yang terjadi bukanlah ranah yang harus mereka campuri.


💜💜💜💜💜


Beberapa hari memilih rehat, manager Anastasya terlihat uring-uringan. Beberapa iklan dan foto shoot yang sudah terlanjur ditanda tangani, tak terima dan menuntut ganti rugi dua kali lipat dari jumlah kontrak yang disepakati.

__ADS_1


"Ah, sial," rutuk Sang manager seraya memijit pelipis.


"Kak, gawat," pekik suara perempuan yang memasuki ruang kerja manager dengan setengah berlari.


"Gawat apa? Berhenti menambah pusing kepalaku. Cukup Anastasya saja yang membuat hari-hariku berubah kacau seperti ini." Mendengus sebal. Pria itu mengertakkan gigi saat menyebut nama modelnya itu. Akan tetapi ia pun juga sayang, sebab ia pun meraup banyak rupiah saat memegang gadis tersebut.


"Karir Anastasya terancam hancur."


"Apa?!" Pria yang terduduk itu, bangkit seketika. "Apa maksudmu?" tanya pria itu lagi.


Gadis pembawa kabar itu menetralkan deru nafasnya yang masih berkejaran. Saat tanpa sengaja mendengar selentingan kabar dari beberapa orang yang melintar di lobi Wiratama management, secepat kilat ia mencari manager Anastasya untuk memberi kabar.


"Aku dengar jika Anastasya hamil dan jika terbukti benar maka Wiratama Management akan memberinya sanksi dan mendepaknya."


Sang manager menelan ludahnya kasar. Bibir pria itu bergetar.


Pemberi kabar hanya mengelengkan kepalanya, ragu.


"Tidak, tidak benar. Itu pasti salah. Itu hanya rumor yang dienduskan beberapa pihak yang iri pada kesuksesan Anastasya. Aku yakin, ini hanya fitnah yang sengaja pihak lain hembuskan untuk mencoreng nama baik Anastasya. Jika semua ucapanku benar, maka aku tak segan untuk mengusut masalah ini sampaui tuntas dan mengiring pelakunya ke dalam sel."


Manager itu meremas kertas hingga membentuk gumpalan.


Anastasya hamil, didepak dari Wiratama Management. Tuhan, hanya dengan membayangkan saja, membuat sekujur tubuhnya gemetar.


💜💜💜💜💜

__ADS_1


Anastasya meregangkan otot tubuhnya yang kaku selepas menghabiskan beberapa waktunya untu tidur.


"Hem, nyaman sekali," gumam Anastasya.


Ia menyibak selimut yang menutupi tubuh. Kemudian bangkit dan melangkahkan tubuh menuju meja rias.


Dari kaca, wajah cantik terpampang nyata. Bekas tamparan sudah menghilang, tersisa sedikit goresan di sudut bibir yang masih sedikit nyeri bila tertekan.


Bukannya berlebihan memutuskan untuk rehat sejenak. Jika wajah bisa tertutup oleh make up, namun sudut bibir yang pecah ini tak bisa ia sembunyikan bagaimana pun caranya. Terlebih jika ada media yang tau dan mengait-ngaitkannya dengan sesuatu hal yang tak masuk akal. Pastinya juga akan berimbas pada pekerjaannya.


Ponsel yang tergeletak di atas nakas bergetar. Sigap, Anastasya membuka layar benda pipih tersebut dan memeriksanya.


Sepasang netra indah gadis itu membulat seketika. Tengorokkannya seolah tercekat, saat mendapati beberapa pesan, dari nomor musterius di ponselnya.


[Tunggu kehancuranmu tiba]


[Jangankan berbicara, kau tak akan punya daya walau sekedar menegakkan kepala jika saat itu tiba]


[Menyerahlah. Karna aku yakin kau akan kalah, bahkan sebelum berperang]


Ponsel dalam gengaman itu terlepas. Deru nafas Anastasya tak beraturan. Gadis itu seolah ketakutan. Berlari kearah ranjang, kemudian menutup tubuhnya dengan selimut.


Siapa. Siapa pengirim pesan itu.


Anastasya mulai menitikkan air mata. Ia memeluk tubuhnya sendiri begitu erat. Dalam situasi seperti ini, ia akan mengingat sosok Rangga yang selalu menjaga juga melindunginya dari apa pun.

__ADS_1


Gadis itu menangis. Menangis tertahan dalam ketakutan. Lirih memangil nama Rangga, dan berharap jika pria itu akan datang dan memeluknya erat.


Namun apalah daya. Semua harapan, hanya akan jadi ilusi semata.


__ADS_2