Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Aku Ingin


__ADS_3

"Bulan ini, apakah jadwal datang bulanmu tetap normal seperti biasa?"


Glekk


Anastasya menelan ludah. Datang bulan? Dia bahkan belum berfikir jauh kesana.


Gadis itu tergelak meski wajahnya masih terlihat pucat.


"Apa sih. Kenapa tiba-tiba membahas jadwal datang bulanku? Tenang saja, semua tetap normal seperti biasanya. Tak ada yang berubah."


Rangga terdiam, namun pandangannya tertuju lekat pada sepasang netra bening sang kekasih guna mencari jejak kebenaran di sana.


"Benarkah?" Rangga kurang yakin.


"Benar. Ah sudahlah, tidak usah membahas itu. Aku malu." Amastasya coba mengalihkan pembicaraan.


"Tidak, aku hanya.."


"Sayang, aku lapar," ucap Anastasya seketika.


Pria itu mengernyit.


Apa, lapar katanya? Bukankah bubur yang sempat dia makan tadi hanya dimuntahkan.


"Yakin ingin makan lagi?" Rangga terlihat ragu.


Gadis itu mengangguk.


"Huum. Tapi bukan bubur ini."


"Lalu?" Rangga menautkan alis.


"Aku ingin makan asinan dan alpukat kocok," jawab Anastasya cepat.


"Apa?"


"Ya, aku ingin makan itu sekarang."


"Sayang, kau tidak sedang..."


"Aku mohon." Belum sempat Rangga merampungkan ucapan, Anastasya lebih dulu memangkasnya.

__ADS_1


"Ya, baiklah. Aku akan mencarinya untukmu. Tunggu sebentar ya." Pria itu mengusap puncak kepala sang gadis sebelum bangkit meninggalkannya.


💜💜💜💜💜


"Rio, apa kau tau tempat penjual asinan dan alpukat kocok yang tak jauh dari sini?"


Rio mengernyit, setaunya sang tuan tidak pernah mengonsumsi makanan dan minuman yang baru saja disebutkan.


"Maaf, saya tidak tau tuan."


Rangga menghela nafas, ia lekas merogoh ponsel dari saku celana. Terlihat jika pria tampan berjambang itu memperhatikan layar benda pipih tersebut.


"Rio, antar aku kesuatu tempat."


"Baik, tuan."


Keduanya melintasi jalan yang cukup padat dengan kecepatan sedang. Rio yang tengah mengemudi hanya mengikuti petunjuk arah dari sang tuan.


"Menepi," titah Rangga pada Rio.


Rio pun patuh. Akan tetapi otaknya masih dipenuhi tanya, sebenarnya sang tuan hendak membawanya ke mana. Sigap pria itu menuruni kuda besi kemudian membuka pintu belakang untuk sang tuan.


"Tunggulah di sini."


Tanpa Rio sadari, rupanya ia kini berada di depan kedai kecil yang menjajakan berbagai asinan dari bermacam buah segar.


"Apa aku tak salah lihat, tuan bahkan sudi membeli makanan di tempat semacam ini," gumam Rio.


Rio faham jika Rangga lebih bersahaja dari pada kedua orang tuanya. Pria yang sudah mengabdi cukup lama pada keluarga Wiratama itu tahu benar bagaimana sifat kedua orang tua Rangga. Mereka terkesan sombong dan tergolong merendahkan orang sekitar dengan kasta lebih rendah darinya.


Jika kini Rangga mencari makanan di tempat semacam ini, bukankah itu terlihat tak wajar.


"Rio."


Sang pemilik nama tersentak saat tak menyadari jika sang tuan sudah ada di hadapan.


"I-iya tuan," jawab Rio setengah tergagap.


"Cari kafe penjual alpukat kocok."


"Ba-baik, tuan." Tanpa banyak tanya, Rio dengan sigap membuka pintu pintu kembali untuk sang tuan. Kemudian menutup kembali selepas Rangga memasuki kuda besi tersebut.

__ADS_1


Dalam perjalanan Rio masih berfikir tentang asinan juga alpukat kocok. Apa jangan-jangan nona Anastasyalah yang menginginkan makanan juga minuman itu?


Kuda besi kembali memasuki area parkir kafe. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan, kenapa sang tuan sendirilah yang turun tangan untuk mencari makan itu tanpa menyuruhnya. Terlebih dengan wajah yang sang tuannya itu tunjukan. Tak ada rasa jengkel, atau terbebabi, tetapi justru terlihat menikmati dengan sesekali menampakkan seutas senyuman saat makanan juga minuman itu sudah didapatkan.


💜💜💜💜💜


"Sayang, aku datang." Rangga langsung menuju kamar Anastasya. Membuka pintu perlahan, dengan membawa sebuah nampan.


Anastasya yang tengah berbaring itu, lekas menyadarkan punggung di kepala Ranjang saat Rangga memasuki kamar.


"Lihat, aku mendapatkan semua yang kau inginkan. Hebat bukan?" Puji Rangga berbangga hati.


Pria itu mendaratkan nampan keatas meja nakas. Senyum masih terkembang jelas di bibir sedikit tebalnya.


Anastasya memandang sesuatu di atas nampan yang ia inginkan. Sepasang netra bening itu berbinar senang manakala apa yang ia inginkan itu, kini tersaji di hadapan.






Alpukat kocok dan Asinan buah segar begitu membuatnya menelan ludah. Rasanya sungguh tak sabar untuk lekas melahapnya hingga tandas.


"Sayang, terimakasih." Wajah cantik itu benar-benar terlihat senang. Wajah yang semula pucat itu kini mulai memerah teraliri darah seiring rasa senangnya yang memuncah.


Ya tuhan, benarkah?


Tatapan Rangga berubah sendu. Sesenang inikah Anastasya saat mendapatkan makanan yang diinginkan? Tetapi ini terlihat tak wajar.


Anastasya kini bahkan sudah punya segalanya. Hidupnya pun tak lagi kekurangan seperti dulu. Tetapi kenapa hanya karna mendapat makanan sesederhana ini, gadis itu seakan mendapatkan makanan nikmat selepas beberapa hari berpuasa.


"Sayang, kamu mau?" Tawar Anastasya yang langsung mendapat penolakan dari Rangga.


"Tidak sayang. Untukmu saja."


"Ya sudah." Anastasya menyuapkan asinan tersebut kemulutnya. Rasa segar, asin, asam, juga manis bercampur menjadi satu. Membuat gadis itu kegirangan dan tak berhenti menyuapkannya kedalam mulut.


Seperti ada bongkahan batu besar yang menghimpit rongga dada Rangga. Begitu sakit dan terasa sesak.

__ADS_1


Tidak, aku mohon jangan terjadi.


Bersambung


__ADS_2