Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Penyesalan


__ADS_3

Sakit yang menjalar dikedua pipi Anastasya, tak sebanding dengan luka hati yang ditotehkan orang tua Rangga padanya. Dengan derai air mata, Anastasya hanya pasrah saat dua orang pengawal membawa paksa dirinya hingga menuju mobil.


"Maafkan Kami nona. Akan lebih baik jika anda pergi, sebelum semua bertambah runyah." Salah seorang pengawal berucap. Ia sigap membuka pintu mobil dan meminta gadis itu untuk masuk kemudian pergi.


Pria bertubuh tegap itu sebenarnya pernah melihat Anastasya saat mengunjugi rumah ini bersama Rangga, beberapa hari lalu.


Sebagai seorang pria yang sempat menyaksikan semua prahara yang tergelar di kediaman sang tua, dari sudut hati terdalam ia mengutuk tingkah anarkis kedua majikannya pada seseorang gadis yang tak berdaya.


Lalu apakah ia juga percaya jika gadis di depannya ini tengah mengandung benih tuan mudanya? Ah, entahlah. Dia tak berani mengambil kesimpulan sejauh itu.


Tanpa merapikan penampilan, Anastasya memasuki kuda besinya dan membawanya pergi dari kediaman orang tua Rangga dengan kecepatan sedang.


Meski sakit terasa menjalar hingga seluruh tubuh, tapi sebisa mungkin ia mengatur kemudi untuk bisa sampai kerumah dengan selamat.


Mungkin ini terakhir kalinya ia menginjakkan kaki kerumah orang tua Rangga, setelah diusir. Sungguh, Anastasya merutuki diri atas keputusannya yang dengan percaya diri memasuki gerbang rumah yang pemiliknya pun sama sekali tak mengharap kehadirannya.


Akan tetapi, ia tak bisa hanya berdiam diri dan menunggu, saat seorang yang kita tunggu sama sekali tak menampakkan diri, selama berhari-hari.


Anastasya mengusap perutnya yang masih datar. Bersyukur sebab setelah adegan beberapa waktu lalu, tak menimbulkan reaksi apa pun pada perutnya.


"Maafkan ibu, nak," gumam Anastasya d'engan linangan air mata.


💜💜💜💜💜


"Kakak, kau kenapa?" Tanya Wina begitu mendapati wajah Anastasya yang memerah dan sudut bibir yang pecah pada saat pintu rumah terbuka.


Anastasya hanya mengangkat tanggan, memberi isyarat gadis tersebut untuk diam. Gadis itu kini menjatuhkan bobot tubuh di sofa, kemudian merebahkan diri di sana. Sementara Wina masih terlihat syok dengan menatap wajah Anastasya.


Wina dengan sigap mencari keberadaan kotak obat. Lekas duduk di sebelah Anastasya untuk membersihkan lukanya.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi kak?" Wina yang sudah seperti adik bagi Tasya, membersihkan sudut bibir yang gadis itu dengan kapas dan alkohol.


Anastasya tak menjawab. Hanya terdengar desisan saat kapas itu menyentuh luka di bibirnya. Gadis itu kesakitan.


"Pinta pada manager untuk kensel seluruh jadwal untuk beberapa hari kedepan, hingga kondisiku pulih," titah Anastasya pada Wina.


"Tapi," jawab Wina tampak ragu.


"Katakan padanya untuk menemuiku langsung. Aku ingin bicara padanya jika ia tak percaya."


Wina menghela nafas dalam. Sebagai publik figur, yang dinaungi sebuah agensi model ternama, tentu Wina tau jika Anastasya tak bisa membatalkan kontrak yang sudah disepakati begitu saja. Akan tetapi, jika Anastasya memaksa hadir dengan tampilan wajah seperti ini, pasti juga akan menimbulkan tanda tanya juga asumsi pemirsa yang berbeda-beda.


"Baiklah. Akan aku sampaikan pada manager." Wina akhirnya buka suara.


Anastasya bangkit, dan membawa langkah kakinya menuju kamar. Ia butuh waktu untuk sendiri. Menangis atau meratapi nasib, tanpa ada siapa pun yang mengetahui.


Bekas merah dikedua pipi dan luka robek di sudut bibir, menjadi bukti sejauh mana orang tua Rangga tak menyukainya.


Gadis dengan penampilan acak-acakan itu merogoh benda pipih yang masih berada di dalam tasnya. Ia tak percaya jika Rangga meninggalkannya.


Kembali ia hubungi nomor kontak yang beberapa hari ini paling banyak ia hubungi. Harap-harap cemas Anastasya menunggu panggilan tersambung. Satu menit, dua menit, hingga balasan operator yang ia dengar.


Tak patah arang, Anastasya menghubungi lagi dan lagi kontak Rangga hingga ponsel dalam gengamannya memanas.


Brakk


Dilemparnya benda pipih tersebut hingga hancur berkeping-keping.


"Setega itu kau padaku, Rangga. Sekejam itu kau meninggalkanku, dan calon bayi kita tanpa alasan."

__ADS_1


Anastasya menelungkupkan wajahnya pada kedua lutut. Menangis pilu, meratapi masa depan juga karir cemerlangnya.


Pintu kamar diketuk dari luar.


Anastasya lekas mengusap air mata dengan kedua tangan. Namun berusaha menutupi wajahnya.


"Masuk."


"Ana, apa yang kau lakukan. Kita tak bisa memutuskan kontak yang sudah disepakati secara sepihak. Kita bisa kena denda, bahkan pidana. Apa kau tak berfikir jauh kesana hingga sesuka hati memutuskan suatu hal tanpa berfikir." Manager Anastasya langsung memberonding pertanyaan saat pintu kamar gadis itu terbuka.


Anastasya yang masih menunduk itu pun spontan mendongak, karna terkejut.


"Ya tuhan, Ana! Apa yang terjadi dengan wajahmu?" Manager perempuan dengan tubuh gempal itu tergopoh mendekati tubuh Anastasya yang masih terduduk di lantai.


"Kau kenapa dan kenapa wajahmu bisa seperti ini?" Perempuan itu memindai wajah Anastasya dan menyentuhnya perlahan.


"Kau berkelahi? Dengan siapa? Kita harus hubungi polisi sekarang juga." Manager Anastasya hendak bangkit. Mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Jangan!" Tahan Anastasya.


"Kenapa? Kondisi wajahmu bahkan sudah seperti ini. Ini namanya tindakan kriminal dan masuk kata gori penganiayaan." Tak tau akal permasalah, manager paruh baya itu terus berucap sesuka hatinya.


"Kak, aku tidak apa-apa. Tolong jangan perpanjang masalah ini." Susah payah Anastasya berucap, mengingat sudut bibirnya yang terluka.


"Ana, kau artis, pablik figur. Mudah bagimu untul menjebloskan siapa pun ke penjara, hanya dengan menjual namamu, maka aku pastikan orang yang sudah menganiayamu akan mendekam di dalam sel."


"Kak, sudah. Hentikan!. Kau tak tau akar permasalahannya. Pergilah. Aku ingin sendiri. Aku akan ceritakan semua setelah tenang." Dengan memalingkan wajah, Anastasya memberi isyarat pada managernya untuk pergi.


Perempuan paruh baya itu berdecak, menghembuskan nafas kasar, kemudian berbalik untuk meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Anastasya tergugu. Ia takut untuk menjalani hari-harinya kedepan. Mampukah ia berjalan sendiri, melewati semya badai prahara tanpa ada seseorang tercinta yang menggengam tangannya?.


Separuh jiwanya pergi, seiring menghilangnya Rangga dari sisi. Jangankan untuk melangkah, untuk bangkit pun rasanya Anastasya tak mampu lagi.


__ADS_2