
Singapura.
Seorang pria yang duduk di balik meja kerja, tengah meneliti dengan seksama gunungan map berisikan laporan perusahaan selama beberapa tahun kebelakang. Beberapa staf petinggi perusahaan yang dipekerjakaan, kini hanya mampu tertunduk dalam dengan kaki gemetar seolah tak mampu menyangga bobot tubuh.
Rangga menghela nafas dalam. Ia sendiri tak begitu mengetahui seluk beluk dunia bisnis properti yang kini dilimpahkan sang ayah untuknya, namun ia pun tak sebegitu bodoh manakala laporan keungan dan data keluar masuk barang terlihat begitu berantakan.
Fix, ia harus mencari seseorang yang bisa dipercaya sekaligus diandalkan untuk menuntaskan segala polemik yang mendera perusahan tersebut dan juga membuatnya cepat terlepas dari tanggung jawab untuk bisa memeluk lagi Anastasya.
Anastasya, tunggu aku kembali.
Brak
Rangga menghempas beberapa map yang tak sesuai hingga membuat beberapa staf itu terkesiap.
"Perbaiki seluruh data yang tak sesuai tanpa terkecuali. Termasuk neraca laporan keuangan." Rangga menatap kearah manager keuangan yang wajahnya kian tertunduk dalam.
"Ba-baik, tuan," jawab para staf terbata.
"Pergilah!"
Selepas menundukkan kepala, para staf itu pun meninggalkan ruangan. Rangga menghela nafas, sedangkan kedua tangannya kembali sibuk memeriksa dokumen penting yang sebagian besar sudah mengalami perubahan oleh para oknum yang tak bertanggung jawab.
Bisnis properti milik keluarga Wiratama yang terletak di negara tersebut memang berjalan tanpa adanya pengawasan ketat dari orang-orang terbaik Wiratama group. Hingga wajar saja jika para petinggi perusahaan saling menyalah gunakan wewenang untuk kepentingan masing-masing. Sepertinya halnya korup, demi memperkaya diri. Hingga tanpa sadar jika para karyawanlah yang menjadi dampak.
PHK masal kerap digunakan dan dianggap menjadi solusi tepat, kala perusahaan di ambang kebangkrutan. Sama halnya kini.
Banyak permintaan pasar, namun dana yang masuk tak sesuai dengan yang diterima, membuat perusahaan kerap merugi. Itulah salah satu laporan yang Rangga terima dari seorang pekerja yang ia tugaskan sebagai mata-mata.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan pada manusia-manusia seperti kalian," rutuk Rangga seraya mengepalkan kedua tangan.
__ADS_1
Satu sisi, ia begitu benci saat harus terdampar di negara ini. Hidup jauh dari Anastasya, sungguh bukanlah keinginannya. Namun, di sisi lain ia pun ingin membuktikan pada sang ayah jika dirinya bisa diandalkan sebagai seorang anak juga pewaris bisnis keluarga Wiratama.
"Tuan muda, bolehkah saya masuk." Suara dari balik pintu seketika membuyarkan lamunan Rangga.
"Masuklah." Rangga cukup familiar pada suara pria dari balik pintu tersebut.
Pintu pun terbuka, seraut wajah pria paruh baya dengan postur tinggi tegap dan stelan jas lengkap, berjalan mendekatinya.
"Aku senang paman datang." Rangga bangkit, mendekat kearah pria yang disebut paman itu, lantas memeluknya erat.
Pria paruh baya itu terkesiap saat sang tuan muda langsung mendekapnya, terlebih tuan mudanya itu menangis di bahunya.
"Mengapa Ayah dan ibu sekejam itu padaku, paman. Apa salahku sebenarnya."
Pria paruh baya itu menelan salivanya berat. Belum selesai satu keterkejutan, kini harus ditambah keterkejutan lain saat Rangga seolah mengadu padanya akan tindakan yang sudah orang tuanya lakukan padanya.
"Sabarlah tuan muda. Saya yakin jika tuan besar pun memiliki maksud atas keputusan yang beliau ambil." Ia hanya bisa menepuk punggung tuan mudanya, berusaha untuk menenangkan.
Pria yang juga masih kerabat dekat Ayah dari Rangga itu memang sedikit banyak tau, alasan apa yang bisa membawa langkah tuan mudanya itu hingga sampai ke negara tetangga.
Wanita.
Rangga mengurai pelukan, pria tampan itu lekas menatap wajah sang paman lekat.
"Paman, bagaimana kabar Anastasya? Apa dia baik-baik saja?" Sepasang netra Rangga berkaca. Terlebih saat kepala pria paruh baya itu, menggeleng samar.
"Maaf tuan muda, saya sama sekali tak mendengar kabar apa pun tentang Anastasya."
"Bohong." Rangga menyambar cepat. "Tidak mungkin jika paman tak tau kabar Anastasya. Atau, paman juga ikut bersekongkol untuk menutup informasi apa pun tentang Tasya padaku?" Tatapan lembut Rangga, kini berganti murka. Kenapa semua orang seakan sengaja memisahkan dirinya dengan Anastasya? Bukankah saat ia sanggup untuk mengikuti keinginan sang Ayah, pihak keluarga akan memberi pengertian pada Anastasya dan meminta pada gadis itu untuk tetap menunggu hingga dirinya kembali.
__ADS_1
Sial.
Akan tetapi Rangga pun sangsi jika kedua orang tuanya akan menepati janji.
Sungguh licik.
Handoko menghela nafas, namun sebisa mungkin ia memasang wajah tenang hingga tuan mudanya itu tak menaruh curiga.
Anastasya, ya dia seorang gadis yang bahkan sudah diusir dari kediaman tuannya beberapa saat lalu, sesuai kabar yang ia dengar dari bawahannya yang berjaga di kediaman megah Sofyan.
Gadis yang malang. Begitu ucap Handoko dalam hati. Meski sepasang kekasih itu saling mencintai, namun rupaya tak sedikitpun mengoyah ketamakan Sofyan yang gila kehormatan.
Keluarga terpandang, tak akan mungkin memungut gadis jalanan untuk disandingkan dengan putra mahkota. Itulah kenyataan yang sebenarnya. Yang bahkan sudah Handoko prediksi saat desas desus hubungan Rangga dan Anastasya terendus media.
"Maaf, saya memang tak mengetahui perihal apa pun yang terjadi di dalam lingkup kediaman rumah utama, mengingat tuan besar memposisikan Saya di luar pulau semenjak beberapa bulan lalu." Mungkin ini akan menjadi alasan tepat. Luar pulau, pasti tak tahu menahu akan adanya prahara yang terjadi di rumah utama. Namun siapa sangka, jika Handoko ialah salah satu orang kepercayaan Sofyan yang akan tahu sekecil apa pun huru hara yang terjadi di rumah utama.
Rangga menghela nafas. Wajah sangarnya berubah lunak seketika. Ya, seharusnya ia tak melampiaskan kekesalannya pada sembarang orang. Handoko memang ditugaskan sang ayah untuk mengurus anak perusahaan di kota sebelah. Tentu saja ia tak tau apa pun perihal hubungannya dengan Anastasya.
"Maafkan aku paman."
"Tidak apa, tuan muda. Sesuai arahan tuan besar, maka saya akan membimbing tuan untuk membangkitkan kembali perusahaan dengan tangan dingin tuan muda."
Wajah Rangga berbinar. Ada angin segar yang menghembus, terasa menyejukkan seluruh tubuhnya.
"Paman janji?"
"Tentu, tuan muda." Pria paruh baya itu tersenyum.
"Baiklah, aku percaya jika paman akan membimbingku dengan sepenuh hati. Mengajarkanku banyak hal, dan mengiringku untuk bisa membangkitkan perusahaan juga menghempaskan oknum-oknum tak bertanggung jawab yang menjadi biang masalah." Rangga nampak begitu bersemangat. Gurat kekecewaan pada kedua orang tua yang sempat terlihat, perlahan surut. Berganti dengan semangat membara menuju arena peperangan guna mengembalikan kejayaan perusahaan beberapa tahun lalu.
__ADS_1
Handoko menyerigai tipis. Ia suka pemandangan ini. Karna sejatinya ia bukan hanya ditugaskan sofyan untuk membimbing Rangga dalam mengendalikan perusahaan namun juga membimbing Rangga untuk mulai melupakan Anastasya dan mengantikannya dengan beberapa kandidat yang pastinya sesuai dengan keinginan orang tua Rangga.