
Wina menatap pintu yang masih tertutup itu penuh tanya. Beberapa kali telunjuknya menekan bel, tetapi seseorang di dalam tak kunjung membuka pintu tersebut.
"Bukankah tadi memintaku untuk datang, tetapi kenapa justru rumah ini seperti tak ada penghuninya?" Wina kembali menekan bel, untuk kesekian kalinya.
"Kak, Ana. Kakak di dalam? Aku sudah datang, ayo buka pintunya." Wina setengah berteriak. Berharap ada seseorang yang mendengar kemudian membuka pintu.
Wina berdecak. Tas ransel yang tergendong di punggung, ia lepas dan menaruhnya di sebuah kursi.
Gadis itu kini mulai memainkan ponsel. Mencari kontak Anastasya di sana, lantas menghubunginya. Akan tetapi nihil, pangilan tersebut tak mendapat jawaban.
"Apa ada yang tidak beres?" Perasaan gadis itu kini berubah was-was.
Brak
Pintu terbuka bersamaan dengan suara gaduh berasal dari dalam rumah.
Wina terkesiap. Ia spontan memasuki rumah yang pintunya masih sedikit terbuka.
"Kak Ana," pekik Wina penuh keterkejutan. Gadis dengan surai sebahu itu menemukan tubuh Anastasya yang terbaring dilantai dengan mata terpejam.
"Ya tuhan kak Ana. Apa yang terjadi sebenarnya?" Wina menubruk tubuh Anastasya. Coba menepuk pipi juga bahunya sebab tak adanya pergerakan dari tubuh lemah itu.
"Bangun kak." Gadis itu kebingungan. Dirumah itu Anastasya bahkan tinggal seorang diri, tanpa sanak saudara yang menemani.
"Hah, tuan Rangga. Ya, benar. Aku harus menghubungi tuan Rangga sekarang."
Wina pun merogoh benda pipih bernama ponsel yang tesimpan di dalam saku celana. Mengusapnya kemudian menghubungi kontak Rangga secepatnya.
💜💜💜💜💜
"Jangan banyak bergerak, kau harus banyak istirahat." Rangga mengusap puncak kepala Anastasya yang kini terbaring di atas ranjang. Tubuh gadis itu lemah juga wajahnya memucat seperti tak teraliri darah.
"Kita ke dokter ya," bujuk Rangga.
Anastasya mengeleng lemah.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja."
Pria itu terlihat menghela nafas. Raut wajahnya menyiratkan kecemasan. Sedari tadi Rangga terus membujuk sang kekasih agar mau diwarat. Akan tetapi, gadis itu terus menolaknya.
Wina sendiri memilih menyibukan diri di luar selepas memberitahukan keadaan Anastasya pada Rangga juga management artist yang menaungi Anastasya.
Rangga membenahi selimut yang menutupi tubuh kekasihnya. Beberapa kali menempelkan punggung tangan kearah kening Anastasya, meski tak merasakan panas dari area tersebut.
"Sayang, apa kau merasa mual?" Bibir Rangga setengah ragu melempar tanya. Namun Anastasya hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Benarkah?" Rangga kurang yakin.
"Ya. Aku hanya tidak enak badan saja. Sudahlah, tidak usah mencemaskanku secara berlebihan. Aku baik-baik saja. Selepas beristirahat, pasti kondisi tubuhku akan pulih seperti sedia kala. Percayalah, aku hanya kelelahan." Senyum di bibir pucat itu terukir. Begitu manis yang justru membuat Rangga teriris.
Benarkah wanitanya itu tengah hamil? Rangga coba menebak, namun tak berani menyimpulkan. Pria berbadan tegap itu memang tak mengetahui secara pasti tanda-tanda perempuan hamil pada umumnya. Sepintas yang pria itu tau, jika mual dan pusing kerap melanda perempuan pada trimester awal kehamilan.
Rangga mengecup punggung tangan wanitanya berulang. Kemudian mengusap kedua pipi merah itu penuh sayang.
"Kau butuh seseorang untuk menemanimu di rumah. Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini, hingga terkadang tak memiliki banyak waktu untukmu," ucap Rangga lemah. Pria itu sesungguhnya membenci banyaknya pekerjaan yang sang ayah limpahkan untuknya. Sebagian waktunya hanya dihabiskan untuk mengurus bisnis, hingga memiliki sisa waktu sangat sedikit yang ia gunakan sebaik mungkin untuk bertemu dengan samg pujaan hati.
"Tapi aku tak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi jika kau tetap di rumah seorang diri." Rangga sedikit meninghikan intonasi suaranya.
Anastasya tertunduk.
"Sudah kubilang. Aku baik-baik saja," kilah Anastasya lagi yang mana hanya ditanggapi helaan nafas oleh sang kekasih.
"Baiklah jika itu maumu." Rangga menyerah. Sifat Anastasya yang terkadang keras kepala, membuat pria itu terkadang harus mengalah. Mungkin Anastasya lebih senang mengurus dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Jejak kehidupan masa lalu memang kerap gadis itu gunakan sebagai patokan.
Jika bisa melakujan sendiri, toh kenapa harus meminta orang lain melakukannya. Anastasya gadis mandiri. Tak suka bergantung pada orang lain, juga pekerja keras. Rangga pun faham sifat sang kekasih bahkan hafal di luar kepala.
"Kau pasti lapar, ayo buka mulut, akan aku suapi." Rangga sudah mengarahkan satu sendok berisi bubur ke mulut Anastasya. Gadis itu tak menolak, lekas membuka mulut mengingat perutnya yang sudah terasa lapar.
Hap
"Pintar," puji Rangga saat bubur ayam itu sudah berpindah tempat ke dalam mulut Anastasya.
__ADS_1
Saat Rangga kembali mengarajkan sendok berisi bubur itu kembali ke bibir sang kekasih, ekspresi wajah lain justru ditunjukan gadis tersebut.
Humpp
Anastasya spontan membekap mulut. Lembali merasakan gejolak di dalam perut.
"Sayang, kenapa?" Tanya Rangga panik.
Tak menjawab, Anastasya justru mendorong tubuh besar Rangga yang menghalangi jalan.
Bergegas Anastasya mencari wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.
"Hoeek."
Dari arah belakang Rangga mengejar Anastasya yang setengah membungkuk dengan dada naik turun.
Pria itu mendekat kemudian sigap memijat tengkut Anastasya lembut.
Keduanya terdiam. Anastasya merasakan sentuhan juga pijatan dari tangan Rangga, begitu nyaman. Dari kaca Rangga menangkap wajah Anastasya yang kian memucat. Terlihat jelas bagaimana tubuh wanitanya itu lemah selepas memuntahkan isi perutnya. Wanita itu benar-benar tersiksa.
"Sudah?" Tanya Rangga lembut.
Anastasya pun mengangguk.
Pria itu pun lantas merengkuh tubuh lemah Anastasya dalam gendongan. Merebahkannya kembali keranjang dengan hati-hati.
"Sayang, aku ingin bertanya?" Rangga menatap sang kekasih lekat, saat gadis itu sudah merasa nyaman pada posisinya.
"Tentang?"
"Bulan ini, apakah jadwal datang bulanmu tetap normal seperti biasa?"
Glekk
Anastasya menelan ludah. Datang bulan? Dia bahkan belum berfikir jauh kesana.
__ADS_1
Bersambung...