Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Hancurnya Masa Depan Dan Karir


__ADS_3

Anastasya baru saja merampungkan sesi pemotretan saat sang Manager menarik tangan dan membawanya masuk kesebuah ruangan. Gadis itu tak faham, namun baru saja hendak bertanya, setumpuk majalah dan surat kabar yang terhempas di atas meja, mengalihkan pandangannya.


"Apa maksud semua ini, Anastasya? Kau bisa jelaskan?" Tanya sang manager seraya menunjuk kearah tumpukan kertas yang memuat fotonya di laman terdepan surat kabar.


"Apa ini kak?" Anastasya tak faham.


"Semua surat kabar menulis kehamilanmu. Katakan, apa kau hamil?" Manager itu mengarahkan pandangan kearea perut Anastasya. Ramping, fikirnya.


Glek. Anastasya menelan salivanya berat. Gadis itu lantas meraih sebuah majalah dan membuka satu halaman depan.


Ya tuhan.


Tubuh gadis itu gemetar. Di sana terpampang jelas foto dirinya, beserta artikel yang menyebut dirinya hamil.


"Anastasya, aku tau jika itu hanya gosip. Kau tenang saja. Kita akan lakukan konfrensi pers dan mencari dalang yang sudah berani memfitnah dan coba mencoreng nama baikmu." Pria itu mengusap bahu Anastasya pelan. Yakin jika artis yang selama ia dampingi ini, bukanlah gadis rusak yang memiliki pergaulan bebas.


Wajah Anastasya pucat pasi. Kehamilannya bahkan sudah tercium media. Sedangkan yang tau perihal kehamilannya hanyalan Rangga dan Wina. Lalu siapa yang sudah lancang membeberkannya pada media? Apakah itu Wina? Ataukah justru Rangga?.


Ya tuhan.


Dada Anastasya terasa sesak.


"Minumlah," titah sang manager seraya menyodorkan sebotol air mineral saat mendapati tubuh Anastasya nyaris limbung. Tak kuat menopang bobot tubuhnya.


Anastasya hanya mengangguk. Diraihya botol tersebut dengan tangan gemetar.


Semenjak peristiwa penamparan juga pengusiran kala itu, inilah hari pertamanya mulai beraktifitas. Akan tetapi, kejutan justru datang lebih dulu menjumpai.


Atau jangan-jangan semua ada kaitanya dengan pesan ancam waktu itu?

__ADS_1


Anastasya hanya mampu mengira, sebab ia pun tak tau siapa pengirim pesan ancaman itu sendiri.


"Tenang saja. Aku tau ini gosip pertama yang kau hadapi setelah terjun ke dunia entertain. Santai saja. Artis lain bahkan kerap mendapat tudingan fitnah yang lebih kejam darimu. Seperti pelakor, atau prostitusi. Jadi kau santai saja, toh semua hanya gosip belaka." Manager itu begitu santai berucap, yang mana justru membuat dada Anastasya kian sesak.


"Mereka fikir dengan membuat fitnah keji semacam ini, berharap bisa memporak porandakan karirmu. Bodoh. Tentu semua tak akan terjadi." Manager itu begitu percaya diri kala berucap. Menepuk-nepuk bahu Anastasya pelan seolah menguatkan. Akan tetapi, Anastasya justru semakin gelisah. Wajahnya kian pucat, seakan tak teraliri darah.


💜💜💜💜💜


[ Kehancuranmu baru akan dimulai. Nikmatilah]


Sungguh selarik pesan singkat yang membuat tubuh Anastasya bergetar hebat.


Sepasang netranya bahkan baru terbuka saat getar diponsel di atas nakas yang membuatnya mau tak mau memeriksanya.


Siapa pengirim ini sebenarnya?


Ponselnya kembali bergetar. Tertera nama sang manager dari layar benda pipih tersebut. Anastasya pun mengusap layar, bersiap menerima panggilan.


Anastasya manautkan sepasang alis. Masih mencerna ucapan sang manager.


"Maksudnya. Apa mereka juga menuntut ganti rugi? Bukankah mereka sendiri yang membatalkan kontrak?"


"Bukan. Hanya saja, cukup banyak rumah produksi yang memutuskan kontrak secara mendadak. Bukan hanya job model, tapi juga beberapa iklan. Management akan rugi besar jika seperti ini kejadiannya."


Gadis itu menelan salivanya berat. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi. Tidak akan mungkin rumah produksi memutuskan kontrak sepihak tanpa alasan jelas. Selama bertahun bekerja pun, untuk kali pertama ia menadapat kasus semacam ini.


Panggilan terputus. Akan tetapi ponsel pintarnya terus bergetar, tanda notivikasi masuk.


Apa ini?

__ADS_1


Sepasang netra bening itu membulat sempurna, begitu pun dengan bibirnya yang perlahan menganga.


Dari beberapa media sosial pribadi miliknya, terbuka beberapa artikel yang memuat kabar tentang dirinya.


"Hamil tanpa suami, seorang model nekat menyeret nama pewaris Wiratama group sebagai ayah biologis."


Salah satu judul artikel di laman media sosial membuat tubuh Anastasya lunglai. Terlebih beberapa gambar dirinya bersama Rangga yang sengaja disisipkan.


Beberapa lembar gambar lama saat diawal dirinya menapaki karir di bawah naungan Wiratama Management. Dari gambar pun terlihat cukup berjauhan, mengingat keduanya belum cukup dekat satu sama lain yang pastinya mengiring opini publik bahwa sosok Anastasya memang sengaja mengunakan nama Rangga demi popularitas.


Begitu pun dalam media sosial lain. Kabar tentang kehamilannya menjadi trending pencarian teratas kaum pencari berita, mengingat ikut tersangkutnya nama pewaris keluarga Wiratama sebagai orang paling dicari selain dirinya.


Anastasya tak kuasa. Tubuhnya terduduk di atas sofa. Saat membuka layar televisi, gosip kehamilannya pun muncul dalam setiap acara gosip.


Ya tuhan, cobaan macam apa lagi ini.


💜💜💜💜💜


Tak pernah disangka oleh siapa pun, gosip yang merebak rupanya menjadi awal kehancuran Anastasya di dunia entertain. Karir yang ia mulai dengan cucuran air mata dan keringat kini dipertaruhkan saat juru bicara keluarga Rangga muncul di depan media.


Keluarga Wiratama tak terima dan akan melaporkan Anastasya atas kasus pencemaran nama baik. Bahkan mereka juga menuding jika Anastasya beserta rekan, sengaja menebar gosip untuk mendompleng popularitas.


Belum lagi hujatan dari kalangan masyarakat yang terkesan memojokkan nama Anastasya. Segala buly dan kecaman seakan memenuhi akun media sosial pribadi milik gadis tersebut.


Nyali Anastasya menciut. Jangan sekedar untuk meluruskan pemberitaan yang ada, beberapa orang terdekatnya justu memilih menjauh. Ditambah kontraknya yang masih berjalan dengan Wiratama Management, juga diputus. Begitu pun dengan rumah produksi lain yang terkesan mendepak, takut mengalami kerugian akan masalah pelik yang dialami modelnya tanpa memikirkan nasib gadis tersebut.


Para pencari berita seolah memburunya. Anastasya yang hanya memiliki Wina sebagai pegangan, tak mampu berbuat banyak selain mengurung diri di apartemennya. Hidupnya hancur, begitu pun dengan karirnya.


Ingin sekali Anastasya berteriak dan memaki seorang Rangga yang menghilang entah ke mana. Andai Rangga tak pergi, andai perbuatan itu tak pernah terjadi, anak janin itu tak berkembang di rahim, tentu semua tak akan serumit ini. Ia bisa berdiri tegak dengan penuh percaya diri untuk menyangkal segala tuduhan miring yang ditujukan. Namun, jangankan untuk menyangkal atau balik membalas tudingan, semua gosip yang beredar memang benar adanya. Dirinya hamil, itulah akar permasalahan dari semua prahara yang tersebar ke khalayak ramai.

__ADS_1


Anastasya menangis pilu di sudut ruangan. Ia seakan malu untuk sekadar menampakkan diri di muka umum. Diusapnya perut yang masih rata dengan perasaan campur aduk.


Haruskah ia menyerah sekarang?


__ADS_2