
Malam ini, langit nampak menggelap tanpa secerca cahaya bintang. Rintik hujan samar terdengar, begitu pun dengan kilatan petir yang mulai menyambar bersahutan. Di balik tirai jendela kaca yang terbuka, sosok pria muda tengah duduk termenung dengan pandangan lurus kedepan. Menatap pekatnya malam, seakan iku mewakili perasaanya.
Dihadapkan dengan dua pilihan sulit, membuat Rangga terhimpit. Diam salah, bergerak apa lagi. Selepas prahara itu, dirinya sama sekali tak dizinkan untuk bertemu Anastasya, sekedar untuk memberi kabar.
Sepasang netranya bahkan memanas. Menahan lahar yang bisa meleleh kapan saja.
"Anastasya, apa yang harus aku lakukan," gumam Rangga disela helaan nafas. Beberapa waktu lalu, terbesit sebuah rencana tetang masa depannya bersama Anastasya. Tetap bisa bersama, meski beberapa waktu terpisahkan.
Apa rencanaku ini benar?
💜💜💜💜💜
"Maaf tuan muda, tuan besar melarang anda untuk keluar rumah."
Rangga menatap nyalang seorang pengawal yang sudah lancang menahan langkahnya.
"Tidak ada yang bisa mencegahku untuk keluar dari rumah ini, termasuk ayahku."
Para pengawal yang berjaga di depan kamar Rangga, spontan menundukkan kepala.
"Maaf tuan muda, ini sudah menjadi perintah dari tuan besar."
Rangga menghela nafas, ia pun nekat terus melangkah meski dihalangi.
__ADS_1
"Sial, pergi kalian. Untuk apa menghalangi langkahku, aku ini bukan anak kecil yang bisa diatur oleh siapa pun!" Rangga geram. Sedangkah para pengawal tetap bertahan pada posisinya. Menahan sang tuan untuk tak keluar dari kamar sesuai yang tuan besar perintahkan.
"Maaf, tuan. Kami hanya menjalankan tugas." Salah seorang pengawal memberanikan diri untuk menjawab.
"Tapi aku tak terima diperlakukan seperti ini!" Maki Rangga untuk kesekian kali. Tubuh besarnya sengaja dihalangi oleh kedua pengawal yang berpostur tinggi besar sepertinya. Hingga mempersulit pergerakannya untuk bisa melepaskan diri.
"Rangga," pekik Sofyan. "Ada apa ini?" Sambung pria paruh baya itu lagi.
Rangga memilih diam. Enggan menjawab pertanyaan sang ayah yang pastinya akan berujung perdebatan.
"Maaf tuan besar, tuan muda memaksa untuk keluar kamar." Satu pengawal takut-takut menjawab pertanyaan sang tuan.
Terlihat Sofyan menghela nafas dalam dengan tangan terkepal.
"Apa kau masih tak mendengar kata-kataku. Tak perlu menemui dia apalagi mengabarkan kepergianmu padanya. Apa ucapan ayah beberapa waktu lalu masih kurang jelas, hingga kau menerobos benteng yang sudah ayah bangun?"
"Ingat pada penawaran kita atau kau akan benar-benar angkat kaki dari rumah ini, jika kau berniat menemuinya."
"Aku keluar bukan untuk menemuinya."
"Lalu ingin menemui siapa? Tiada guna kau berdusta, ayah tidak akan terperdaya oleh tipuanmu." Sofyan menatap tajam sang putra seakan menguliti kulit tubuh pria muda itu.
"Demi tuhan, aku tidak akan menemui tasya. Jadi biarkan aku keluar saat ini. Jika ayah masih tidak percaya, bawa beberapa pengawal untuk memantau pergerakanku." Rangga nyaris frustrasi. Sang ayah sama sekali tak membeli celah padanya untuk bisa keluar rumah, sekedar untuk menemui Anastasya barang semenit saja.
__ADS_1
"Baiklah." Sofyan menyetujui permintaan sang putra.
"Kawal Rangga kemana pun dia pergi. Cegah dia jika sampai berniat untuk menemui gadis itu," titah Sofyan pada kedua pengawal yang bertugas.
"Baik, tuan," jawab kedua pengawal bersamaan.
💜💜💜💜💜
Rangga memasuki kediaman mewah yang sudah beberapa tahun tak ia masuki. Beberapa pelayan menyambut, kemudian membimbing langkahnya untuk menemui seseorang yang kini tengah berada di ruang kerjanya.
"Terimakasih, bi," ucap Rangga pada kepala pelayan rumah mewah tersebut.
Rangga menghela nafas. Keempat ruas jemarinya kemudian bergerak untuk mengetuk pintu yang masih tertutup rapat itu.
Pria itu masih terdiam hingga pintu itu menunjukan adanya pergerakan.
"Rangga."
Sesosok pria tampan berbadan tegap muncul dari balik pintu yang terbuka.
"Arka." Bibir Rangga bergetar mengucap satu nama yang tak lain ialah sahabat karibnya.
Rangga spontan menubruk tubuh Arka, hingga keduanya berpelukan. Arka terkesiap, terlebih Rangga kini terisak dalam dekapannya.
__ADS_1
Arka diam. Membiarkan sang sahabat menumpahkan seluruh kesedihan di bahunya.
Bersambung