
Tidak!!
Wina bergegas bangkit. Menapaki setiap anak tangga dengan fikiran tak tenang.
"Tidak, kak. Tidak, jangan lakukan itu. Aku mohon," ucap Wina disela langkah kakinya.
Didorongnya pintu kamar Anastasya yang tertutup.
"Ah sial," rutuk Wina saat mendapati jika pintu tersebut dalam keadaan terkunci.
Bergegas gadis dengan surai sebahu itu meneriksa laci di mana menjadi tempat penyimpanan beberapa kunci cadangan beberapa pintu di rumah tersebut.
"Nah, dapat." Wina membawa beberapa buah kunci dan mencobanya terlebih dulu.
Butuh waktu beberapa menit hingga Wina menemukan kunci yang tepat. Gadis itu pun mendiorong pintu perlahan, sebisa mungkin tak menimbulkan suara hingga dapat menemukan Anastasya.
Wina menelan salivanya berat saat tak menemukan tubuh Anastasya di atas ranjangnya.
"Ya tuhan, di mana kak Ana." Wina mencari kesegala penjuru, hingga kamar mandi pun tak luput dari pencariaan.
"Tidak ada," gumam Wina begitu pintu kamar mandi terbuka dan tak menemukan siapa pun di sana.
Ditengah kebingungan Wina teringat pada balkon kamar, di mana Anastasya kerap menghabiskan waktu di kala jenuh menyapa.
"Ya, balkon." Setengah berlari Wina menuju ke sana. Pintu penghubung pun terbuka, Wina menghela nafas lega begitu mendapati tubuh Anastasya meringkuk di atas sofa dengan sepasang netra terpejam.
"Syukurlah, rupanya kak Ana tertidur." Gadis itu mendekat, coba menguncang pelan bahu Anastasya, bermaksud membangunkannya.
"Kak, kak Ana. Bangunlah. Kenapa bisa tidur di luar."
Wina menatap prihatin pada wajah Anastasya yang akhir-akhir ini terlihat pucat. Belum ada pergerakan. Sepertinya Anastasya begitu terlelap dalam dan menyangka jika sudah berada di atas ranjang nyamannya.
"Kak, bangun," pinta Wina lagi dan masih menguncang bahu Anastasya pelan.
Anastasya mulai mengerjap. Netra sebab nan samar kemerahan itu sedikit demi sedikit terbuka.
"Wina, ada apa?" Anastasya menatap bingung ke sekitar.
"Malam begitu dingin, kenapa kak Ana justru tidur di luar?"
Anastasya tersentak.
Karna lelah menangis aku sampai tertidur di luar.
"Em, tadi aku hanya ingin mencari angin segar, tetapi justru ketiduran," dusta Anastasya di selingi senyum kikuk. Berharap jika alasanya tak mengundang kecurigaan Wina.
"Oo."
"Kau sendiri, kenapa belum tidur?" Anastasya justru balik bertanya pada Wina.
"Em, sebenarnya aku sudah hampir tidur tadi, tetapi saat tak melihat keberadaan kak Ana, aku berinisiatif untuk mengetuk pintu kamar kakak, namun begitu aku masuk tidak ada siapa-siapa. Aku kan khawatir." Wina menundukan kepala, sejujurnya ia takut sebab sudah lancang membuka pintu Anastasya tanpa izin.
Anastasya terharu. Cepat ia mendekap tubuh kecil Wina dalam pelukan.
"Terimakasih karna sudah mengkhawatirkanku," lirih Anastasya seraya mengusap puncak kepala Wina.
Sudut hati Anastasya tersentuh. Beruntung ia masih memiliki seorang Wina mau menemaninya dalam menjalani cobaan hidup yang seberat ini.
πππππ
__ADS_1
Apakah keputusan yang kuambil ini benar?
Anastasya menghentikan laju kuda besinya di depan gerbang tinggi menjulang disebuah kediaman mewah.
Terlihat dari arah pos penjagaan, seorang pria berbadan tegap menghampirinya.
Anastasya lekas membuka pintu mobil, begitu pun dengan tubuhnya. Seorang pengawal yang mendekat pun menatap Anastasya.
"Ada yang bisa saya bantu, nona?" tanya seorang penjaga.
"Saya ingin bertemu dengan pemilik rumah. Apakah mereka sedang ada di tempat?"
"Maaf, apa sebelumnya nona sudah membuat janji," tanya penjaga itu lagi, akan tetapi ia pun menatap Anastasya lekat, seperti sudah tak asing dengan wajahnya.
"Belum, hanya saja saya memiliki urusan penting dengan Nyonya dan tuan pemilik rumah ini." Senyum tipis terulas dari bibir tipis Anastasya, yang kian mempercantik paras rupawannya.
Pengawal tersebut terlihat menimang. Jika ditilik dari penampilan, gadis dihadapannya ini sepertinya bukan dari kalangan sembarangan. Terbukti dari caranya berpakaian juga kendaraan mewah yang digunakan.
"Baiklah, tunggu sebentar," ucap sang pengawal seraya berbalik badan, menuju pos penjagaan dan terlihat berunding dengan beberapa rekan seprofesinya.
Anastasya menunggu. Cuaca yang cukup panas membuatnya memilih untuk masuk kedalam mobil kembali.
"Nona, silahkan."
Pintu gerbang pun terbuka.
"Terimakasih."
Kuda besi milik Anastasya kini terparkir bersama beberapa kendaraan lain milik keluarga Rangga. Gadis itu menghela nafas dalam. Sudut netranya memanas, coba menahan tangis yang bisa pecah kapan saja.
Tak dipungkiri, beberapa hari tak bertemu dengan Rangga, membuatnya teramat Rindu. Terlebih dengan kondisinya kini, yang tengah mengandung buah cintanya.
"Sela..."
"Ada perlu apa kau datang kemari?" Lantang Sisska bertanya. Anastasya yang belum selesai mengucap salam, mengatupkan kembali bibirnya.
"Maaf, saya datang untuk mencari Rangga," jawab Anastasya dengan bibir bergetar.
"Untuk apa kau mencarinya? Apakah ada masalah pelik yang membuatmu harus repot-repot menginjakkan kaki kerumah megah kami ini?" Kini, Sofyanlah yang buka suara.
Anastasya menunduk. Kedua orang tua Rangga seakan mencegah langkahnya untuk memasuki rumah. Sepasang suami istri itu terlihat berdiri angkuh di tengah pintu yang sengaja dibuka lebar.
"Saya hanya ingin menemui Rangga untuk mencari kejelasan pada hubungan kita selanjutnya."
Siska menyerigai. Tersenyum miring, menatap gadis yang hanya bisa berdiri di depan pintu rumahnya.
"Kejelasan hubungan seperti apa yang kau inginkan? Dan apakah selama ini kalian memiliki hubungan? Maaf, lagi pula putraku tidak pernah mengungkit sedikitpun namamu pada kami. Terlebih mengakuimu sebagai kekasihnya." Siska begitu santai mengucapnya. Sesekali ia memainkan kuku jemarinya yang terpoles kutek berwarna marun.
Anastasya menelan ludahnya kasar. Sejujurnya ia datang kemari untuk mencari keberadaan Rangga, namun kenapa ia seakan dipersulit langkahnya, bahkan hanya untuk tau di mana dan sedang apa Rangga kini.
"Maaf, nyonya jika saya lancang. Hanya saja saya datang kemari untuk bisa bertemu dengan Rangga." Gadis itu memberanikan diri untuk menatap pasangan paruh baya itu. Tubuhnya bahkan bisa berdiri tegak, tanpa gemetar.
"Putraku sedang berlibur."
Sungguh jawaban yang seketika membuat perasaan Anastasya hancur.
"Berlibur?"
"Ya." Siska tersenyum, begitu pun dengan Sofyan. "Apakah ada masalah, dan kenapa kau terlihat terkejut?" Siska makin gemas mengoda. Terlebih saat menangkap ekspresi terkejut gafis di depannya.
__ADS_1
Anastasya diam.
"Oh ya, putraku bukan hanya berlibur, tetapi dia juga akan menetap di sana."
"Di mana Rangga sekarang?" Suara Anastasya berubah parau.
"Kau tidak perlu tau. Lagi pula, siapa dirimu hingga harus tau di mana Rangga tinggal kini. Putraku akan menikah dan membangun keluarga kecilnya di sana dengan gadis yang menjadi teman berliburnya saat ini."
Sepasang netra Anastasya berkaca-kaca. Benarkah, benarkah semua yang ia dengar?
"Aku tidak percaya." Anastasya mengelengkan kepalanya berulang.
Siska menatap tajam pada Anastasya. Terlihat wanita itu maju beberapa langkah.
"Hei, ada apa dengan dirimu. Siapa kau hingga harus mengurusi kehidupan Rangga?"
"Aku tidak percaya," ulang Anastasya lagi dengan masih mengelengkan kepalanya.
"Apa maksudmu?!"
"Karna aku sedang mengandung anak Rangga dan dia tidak akan mungkin mengkhianati.."
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Anastasya. Kulit putih mulus itu membekas lima telapak tangan pun dengan sudut bibirnya yang pecah.
Rasa panas menjalar di pipi Anastasya, begitu pun dengan telapak tangan Siska yang masih mengantung di udara.
"Katakan sekali lagi," pinta Siska.
"Aku hamil anak Rangga dan dia tak mungkin menghkianatiku."
Kini, tamparan kedua kembali mendarat di pipi lain Anastasya hingga membuat gadis itu terhuyung dan terduduk di lantai.
"Jangan pernah membawa nama putraku sebagai penabur benih di rahimmu. Aku tau sepak terjang juga pekerjasnmu sebagai model. Kau pasti sudah tidur dengan banyak pria sampai membuatmu berbadan dua. Namun sayang, kau seakan ingin menjebloskan putraku yang tentunya tak tau apa-apa, sebagai ayah dari janin yang kau kandung. Sungguh bodoh. Kau fikir kami percaya begitu saja? Tentu tidak."
Anastasya terisak. Ia mengusap kedua pipinya yang begitu nyeri dan perih di sudut bibirnya.
"Tapi saya berkata jujur. Ini adalah anak dari Rangga dan saya tidak pernah berhubungan dengan pria lain, selain dia."
"Diam!" Bentak Siska yang sukses membuat pelayan juga pengawal yang tak jauh dari tempat kejadian, terkesiap hingga dihinggapi ketakutan.
"Tutup mulutmu dan cepat pergi dari rumah ini," titah Sofyan selepas beberapa saat memilih diam.
"Tidak," tolak Anastasya. "Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan Rangga," kekehnya.
"Baik, rupanya kau meminta kami untuk berlaku kasar." Sofyan melirik dua pengawal yang berjaga.
"Bawa dia keluar. Jika perlu, seret dia."
"Baik, tuan." Sigap, kedua pengawal itu memegang bagian kiri dan kanan tubuh Anastasya.
"Tidak." Anastasya panik saat tubuhnya mulai terangkat.
"Cepat!" Perintah Sofyan lagi.
"Tidak, lepaskan. Lepas. Izinkan aku untuk bicara dengan Rangga lebih dulu. Aku ingin memastikan jika semua ucapan anda tidak benar. Rangga tidak mungkin mengkhianatiku. Rangga tidak mungkin meninggalkanku dengan cara seperti ini." Anastasya tersedu. Suara dan tangisnya kian lirih seiring tubuhnya di tarik paksa menjauh.
Bersambung..
Nyesekππ€§ Maafkan otor, Anastasya.
__ADS_1