
Kebahagiaan serasa melingkupi Kenan saat menatap wajah Anastasya yang terlelap damai dalam rengkuhannya. Pria berwajah dingin itu masih tak menyangka jika bisa kembali merasakan jatuh cinta, setelah sekian lama menyendiri. Rasa sakit atas kepergian sang istri dan putri sematawangnya, membuat kenan terpuruk juga hanyut dalam kesedihan. Cukup lama Kenan hidup namun serasa mati. Tiada gairah hingga nyaris setiap malam menelan obat penenang guna mengembalikan kewarasannya.
Tangan besar nan berurat itu meraba pipi lembut Anastasya perlahan, merambat ke hidung kemudian pada bibir kemerahan yang sedikit terbuka milik Anastasya.
Gerakan seringan bulu itu nyatanya tak mengusik tidur lelap Anastasya yang terlihat begitu nyaman mengarungi alam mimpinya.
"Kau benar-benar cantik," puji Kenan dengan suara lirih.
"Aku tidak mengira jika bisa bertemu dengan perempuan sehebat dirimu." Tak lagi meraba area wajah namun jemari Kenan kini bergerak mengusap bahu putih Anastasya yang terbuka.
"Eumm." Anastasya menggeliat, cukup tergangu dengan aktifitas tangan suaminya.
Kenan tersenyum tipis. Saat Anastasya berniat melepaskan dekapannya yang begitu erat.
"Kau ingin ke mana?"
Pertanyaan Kenan sontak membuat Anastasya yang masih setengah tertidur, terkesiap. Sepasang mata yang semula tertutup itu, iki terbuka sempurna dan memberontak agar bisa terlepas dari pria yang sudah memeluknya.
"Kau ingin ke mana, kenapa sampai melepas pelukanku?"
Anastasya mengerjap, berusaha mengumpulkan kesadaraan. Wajah panik seketika, namun begitu mendapati Kenan-lah yang temgah merengkuh tubuhnya, perempuan itu sontak menghela nafas lega.
__ADS_1
Tenanglah, dia suamimu sekarang dan bukan orang lain.
"Kau kenapa sayang." Kenan begitu khawatir, ia usap peluh yang mengembun di dahi sang istri penuh kelembutan.
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku, aku hanya sedang mimpi buruk saja," kilah Anastasya. Sejujurnya ini bukan kali pertama ia bersikap demikian. Tertidur dalam rengkuhan seorang pria, cukup membuatnya ketakutan dan trauma. Bayangan wajah Rangga selalu menghantuinya. Saat pria itu menjamah tubuhnya untuk yang pertama kali. Sikap tak bertanggung jawab Rangga-lah yang memunculkan bibit benci di hati Anastasya hingga berdampak pada pernikahannya dan Kenan saat ini.
Kenan menghela nafas dalam seraya berucap, " Jangan takut, aku akan selalu menjagamu." Kenan membawa Anastasya dalam dekapan. Menciumi puncak kepala sang istri bertubi-tubi sebagai bentuk rasa sayang.
Begitulah kehidupan rumah tangga Kenan dan Anastasya beberapa minggu ini. Terasa hangat dan saling melengkapi. Sepasang suami istri yang pernah merasakan sakit dikehidupan pernikahan sebelumnya, saling membenahi diri hingga tercipta rumah tangga indah seperti impian keduanya.
Dalam hunian mewahnya Kenan memasukan Anastasya tetapi juga tak sepenuhnya menghapus bayang-bayang mendiang sang istri yang beberapa tahun lalu sudah berpulang meninggalkannya.
Fotonya pun masih terpajang di beberapa sudit ruangan sebagai kenang-kenangan. Anastasya tak keberatan, lagi pula Kenan pun kini sudah bisa mengikhlaskannnya dan mulai menatap hidup yang sempat porak poranda bersamanya.
Selepas menghandle proyek dalam pimpinannya, Kenan memilih melepaskan lelah tubuhnya dengan beristirahat di suatu ruangan yang sudah beberapa tahun ini di tempatinya.
Bibir pria itu mengulas senyum tipis saat teringat akan paras sang istri yang saat ini sedang menunggunya di rumah. Kenan rindu. Rindu bersua dan menyapa. Pria itu mulai terserang virus bucin, hingga setengah hari saja tak bertemu Anastasya, bisa membuatnya kelabakan dan kejang-kejang.
Kenan berdecak. Tiba-tiba meraup wajah begitu mendapati dirinya salah tingkah.
"Ya ya, dia istriku. Jadi wajar saja jika diriku sebucin itu." Tergelak, Kenan merogoh saku pakaian untuk mengambil ponselnya. Berniat akan menghubungi Anastasya dan mengatakan rindu padanya.
__ADS_1
Kenan lagi-lagi tersenyum saat melihat wajah Anastasya yang terpajang dilayar depan.
"Apa kau sadar semanis apa parasmu itu? Tentu tidak, karna hanya akulah satu-satunya orang yang begitu mengagumi kelokan parasmu. Cup" Kenan mengecup layar ponsel miliknya. Hingga tanpa sadar ada seorang wanita yang sedang melintas, spontan membekap mulut yang sempat mengangga tak percaya. Begitu menggelikan, membuat perempuan itu gegas mengambil langkah seribu sebelum ketahuan dan pekerjaanya akan hilang detik itu juga.
Beberapa saat Kenan masih terpaku menatap layar ponsel menampilkan wajah cantik sang istri dalam acara akad nikah beberapa minggu lalu. Senyum di bibir Kenan belumlah sirna hingga notifikasi beruntun menghancurkan kesenangannya.
Beberapa pesan menyerbu benda pipih miliknya. Jemari pria itu lihai mengusap layar hingga beberapa buah foto menubruk indra penglihatannya.
Kenan menelan salivanya berat. Perasaan cemas muncul seketika. Kontak tanpa nama itu mengirimkan banyak foto Anastasya dari berbagai tempat dan sudut.
Pria itu menjatuhkan ponselnya di meja kerja. Dilingkupi ketakutan dan rasa cemas yang tiba-tiba menjari tubuh, Kenan coba berfikir positif jika semuanya tak sesuai dengan apa yang ada difikirannya.
Tarik nafas dalam dan buang perlahan. Beberapa kali Kenan mengarur pernapasan, menghalau rasa cemas dan gelisah.
Baru beberapa detik berkurang beban, sebuah pesan kembali masuk ke ponsel pribadinya.
Foto pernikahannya dengan Anastasya tertera dilayar. Juga beberapa buah foto Anastasya seorang diri di tempat berbeda-beda. Bukan hanya foto, tapi pengirim pesan juga menyertakan kata-kata yang membuat tubuh pria itu menegang seketika.
Berhenti berpura-pura sedih saat fakta berkata sebaliknya. Air mata kami bahkan belum kering, saat kau mengambil keputusan untuk meninggalkannya. Ingat, kami tidak akan diam dan menerimanya begitu saja.
Tubuh Kenan bergetar. Peluh dingin membanjir di pelipis dan telapak tangan. Ia tahu benar siapa peneror yang sudah mengirimnya pesan. Tidak salah lagi, mereka pasti keluarga dari mendiang istrinya yang masih tak terima dan selau menyalahkannya pada tragedi jatuhnya pesawat yang ditumpangi istri dan putri sematawayangnya beberapa tahun lalu.
__ADS_1
Tbc.