Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Ragu


__ADS_3

"Tolong gantikan posisiku. Aku bisa apa, dengan kondisi tubuh seperti ini." Sarah terisak, yang justru membuat Anastasya menelan ludah.


"Ta-tapi kak, ini tidak mungkin."


"Kenapa? Apa kau benar-benar tak memiliki belas kasih padaku, Ana. Aku sendiri tidak menginginkan hal semacam ini terjadi. Kecelakaan ini murni musibah. Sedangkan kontrak yang sudah kutanda tangani, tak mungkin terbengkalai begitu saja." Sarah meninggikan nada bicara. Di dalam mobil yang masih terhenti, ketegangan diantara dua wanita itu tercipta.


Anastasya kebingungan, sementara Sarah memasang wajah secemas mungkin.


"Rumah produksi sudah pasti akan meminta ganti rugi atau bahkan mengirimku ke dalam jaruji besi. Semua tidak bisa di lepas begitu saja Ana saat kontrak itu sudah kutanda tangani."


Anastasya masih bungkam. Terlihat jika gadis itu menghela nafas dalam beberapa kali, sementara kedua tangannya mencengkeram kemudi kuat.


"Aku mohon, Ana. Sekali ini saja," pinta Sarah Seraya menangkupkan kedua telapak tangan.


"Maaf kak, sepertinya a---"


"Kau menolak membantuku, Ana?" Sarah menyipitkan mata, menatap tak suka pada sosok Anastasya.


"Bu-bukan begitu maksudku kak, hanya saja."


"Aku fikir kau gadis yang berbeda, tapi nyatanya sama saja. Ketenaran menutup mata hatimu hingga melupakan begitu saja seseorang yang memiliki andil dalam menaikan status sosialmu." Sarah berang. Amarah itu tak lagi mampu dibendung. Sementara Anastasya dibuat gelagapan. Ia sadar diri, jika selama ini sosok Sarahlah yang berperan besar merubah hidupnya menjadi sosok perempuan terkenal saat ini. Akan tetapi, apakah ia harus menerima begitu saja permintaan Sarah yang terasa begitu memberatkannya.


💜💜💜💜💜


Anastasya menatap nanar pantulan tubuhnya di depan cermin. Lingerie transparan berwarna maron kini melekat pas di tubuh moleknya. Pakaian dalam berlabel victoria sicret itu begitu menonjolkan beberapa titik terpenting dari tubuhnya dan mampu membuat kaum adam tersihir bahkan enggan berkedip barang sedetik pun.

__ADS_1


Anastasya luar biasa cantik pun dengan tubuh molek yang dimiliki, membuat gadis berusia sembilan belas tahun itu kerap menjadi incaran beberapa rumah produksi, untuk bisa menjalin kerja sama.


Anastasya tak ingin ditemani oleh siapa pun. Di ruang ganti, ia bersiap seorang diri.


Beberapa saat berdebat, Anastasya menyerah dan bersedia untuk mengantikan posisi Sarah. Meski sudut hatinya menolak, akan tetapi ia pun tak mampu berbuat banyak. Hingga pada detik inilah, reputasi baik yang selama ini sekuat tenaga dijaga, akan hancur dalam sekejap.


Model majalah dewasa. Memang karir tersebutlah yang digeluti Sarah beberapa tahun belakangan. Anastasya mengusap wajah kasar, ia menunduk sementara sepasang netranya berkaca-kaca. Ia sempat mendengar kebenaran itu lewat bibir Bi Atun, ART di apartemen Sarah. Akan tetapi ia masih tak percaya, jika ia pun akan mengikuti jejak yang sama.


Berat. Anastasya sendiri menyimpat rapat keberadaannya kini dari Rangga. Gadis itu sadar, jika pastinya sang kekasih akan teramat kecewa, atau yang lebih parah akan mengakhiri hubungan jika gambar seksinya sudah tersebar luas dimajalah.


Ketukan di puntu terdengar.


Anastasya lekas mengangkat wajah yang semula tertunduk dan menyeka lelehan bulir bening yang membasahi pipi.


"Sebentar lagi, kak," jawab Anastasya cepat.


"Baiklah. Kami tunggu lima menit lagi." Langkah Sarah terdengar menjauh.


Lagi, Anastasya mengusap wajah kasar. Ponsel yang tersimpan di dalam tas kembali bergetar. Anastasya terisak. Ia yakin jika Ranggalah yang terus berusaha menghubunginya. Akan tetapi gadis itu membiarkan benda pipih itu terus bergetar tanpa ingin memeriksanya.


Hatinya terasa sakit. Ia belum siap andaikata Rangga akan mengetahui sebenarnya. Hingga diam, menjadi solusinya.


Anastasya bangkit, memoles riasan yang sempat luntur oleh tangisnya beberapa saat sebelum keluar dari ruang ganti dan bergabung bersama tim.


💜💜💜💜💜

__ADS_1


Sarah tampak bercengrama dengan beberapa rekannya. Ia tampak tersenyum senang meski dalam posisi duduk dan tak banyak bergerak.


Jika ditatap sekilas, keadaan tak sedikit pun berubah walau terjadi pergantian model namun nyatanya tak berimbas pada sesi pemotretan yang akan berlangsung.


Dari pintu ruang ganti yang terbuka, sosok Anastasya keluar. Untuk beberapa saat semua pasang mata terperangah, namun di detik berikutnya gelak tawalah yang keluar dari bibir mereka.


"Ya tuhan, apa yang ingin kau tutupi." Salah seorang fotografer dengan kamera di tangan, melontarkan ucapan.


Sarah menghela nafas dalam. Rupanya Anastasya sangat susah untuk dikendalikan. Gadis itu memang sudah menganti pakaian, hanya saja ia menutupinya dengan selimut.


Dari mana dia mendapatkan selimut itu untuk menutupi tubuhnya.


"Hei, Ana. Ayolah. Bukankah kau model profesional, cepat tunjukan kinerjamu dan tak harus membuat kami menunggu lama," seloroh rekan lainnya.


Tubuh Anastasya gemetar. Kedua tangannya mencengkeram selimut yang menutupi tubuhnya dengan kuat.


Kalimat-kalimat lain mulai terucap dari satu persatu kru yang terlibat. Waktu terus berjalan sementara Anastasya mulai ragu untuk bisa mengikuti permintaan Sarah begitu saja.


"Ana, ayo, bukalah. Aku mohon. Untuk kali ini saja," pinta Sarah berulang dengan mimik wajah memelas.


Sebagian kru mulai geram dan nampak seseorang mulai mendekat dan berusaha membuang kain yang menutupi tubuh Anastasya secara paksa.


"Kami sudah cukup bersabar dan membuang waktu dengan tingkahmu yak sok alim itu. Ayo buka, tunggu apa lagi. Bukankah kau sudah memilih mengumbar aurat sebagai profesimu?" Seorang pria itu kekeh menarik kain di tubuh Anastasya, sementara gadis itu menahan sekuat tenaga agar kain penutup itu tak bergeser dari tubuhnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2