Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Aku Mencintaimu


__ADS_3

"Kami sudah cukup bersabar dan membuang waktu dengan tingkahmu yak sok alim itu. Ayo buka, tunggu apa lagi. Bukankah kau sudah memilih mengumbar aurat sebagai profesimu?" Seorang pria itu kekeh menarik kain di tubuh Anastasya, sementara gadis itu menahan sekuat tenaga agar kain penutup itu tak bergeser dari tubuhnya.


Umpatan dari beberapa kru membuat Anastasya ketakutan dan mulai terisak. Ia berada pada titik terlemah, pasrah mungkin inilah jalan yang tersisa. Diliriknya dari ekor mata, Sarah justru terdiam di tempatnya. Tak berucap barang sepatah kata, terlebih membela.


Bahu Anastasya mulai berguncang. Sepasang netranya yang berembun ia tutup rapat, serentak dengan gerakan tangan yang coba menyibak kain penutup tubuhnya.


Aku pasrah.


"Stop!"


Suara bariton itu membuat ruangan yang semula riuh, senyap seketika.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Sosok pria berbadan tegap, berdiri dengan penuh wibawa sementara tatapan tajamnya diarahkan pada beberapa pasang mata yang mengisi ruangan.


Anastasya terkesiap, begitu pun dengan seluruh kru pemotretan.


Gadis itu terisak, merapatkan kembali kain pada tubuhnya kemudian berhambur memeluk seseorang yang baru saja datang.


Rangga. Pria itu datang disaat Anastasya tak mampu berbuat apa-apa.


Sarah menelan saliva berat. Sepasang netranya membulat sempurna. Apakah ini nyata? Benarkah sosok yang sedang didekap Anastasya adalah keturunan Wiratama? Apakah benar jika keduanya memiliki hubungan?


Sarah mengatur hembusan nafasnya yang mulai tak beraturan. Gosip tersebut memang santer terdengar, akan tetapi ia hanya menanggapinya sinis mengingat jika Anastasya hanya gadis kampung yang tak mungkin dilirik oleh pria mampan seperti Rangga. Tetapi hari ini, selentingan itu terjawab sudah, sepertinya memang mereka berhubungan dekat.


Seseorang pria bertubuh tambun dengan mendekat.


"Maaf tuan. Kami harus melalaku---"


"Aku bilang stop!"


Nyali pria paruh baya itu menciut.


"Saya akan ganti kerugian berapa pun jumlahnya asalkan Tasya tidak lagi melanjutkan pemotretan keparat ini." Rangga meluapkan seluruh emosi, sementara kedua tangannya mendekap tubuh Anastasya, begitu melindungi. Melihat sang kekasih yang ketakutan disertai deraian air mata membuat pria itu naik pitam, meski tak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Seluruh kru terdiam. Tak ada satu pun yang berani buka suara. Jika menyangkut keturunan Wiratama, apalah daya. Mereka akan mundur, dan mencari jalan aman. Mungkin, ganti rugilah menjadi solusi paling tepat.


💜💜💜💜💜


"Minumlah." Rangga memberikan sebotol air mineral pada Anastasya. Selepas menceritakan semua kronologi kejadian, gadis itu bisa bernafas lega dan menghentikan tangisnya.


"Terimakasih."


Rangga mengangguk samar. Ditatapnya sang kekasih yang kini tengah meneguk minuman dengan tangan gemetar. Beruntung ia memasang GPS pada mobil Anastasya hingga memudahkannya untuk melacak keberadaan sang kekasih dimana pun ia berada.


Pria itu menghela nafas dalam. Ia benar-benar datang diwaktu yang tepat. Andai terlambat lima menit saja, pose menggugah Anastasya pasti sudah tersebar diberbagai media.


"Apa wanita itu benar-benar mengalami kecelakaan?"


"Ya, bukan kau lihat jika tubuhnya dipenuhi luka?" Memang benar, banyak luka di tubuh Sarah. Jadi tidak mungkin jika wanita itu berbohong.


Rangga menghela nafas dalam dan membuangnya perlahan. Keduanya masih berada di dalam mobil untuk menenangkan fikiran Anastasya.


"Apa kau tak curiga padanya?"


"Lupakanlah." Rangga mulai menghidupkan mesin, membelah jalanan yang dipenuhi kendaraan bermesin dan penyebrang jalan yang berlalu lalang. "Kita akan melihat apartemenmu," sambung pria itu lagi.


💜💜💜💜💜


"Bagaimana, kau suka?"


Anastasya mengangguk, dengan sorot mata berbinar. Rupanya apartemen yang dipilih Rangga melebihi keinginannya. Tempatnya yang berada diketinggian, membuat gadis itu dengan jelas menikmati pemandangan yang ada disekitarnya.


Gadis dengan celana jins dan t-shirt berwarna putih itu mendekat kearah jendela kaca yang cukup lebar, membuka tirainya perlahan dan tersenyum lebar seketika.


"Sayang, kemarilah," panggil Anastasya pada sang kekasih.


Rangga pun mendekat. Coba mengikis jarak dengan memeluk tubuh sang kekasih dari belakang.

__ADS_1


"Lihat," tunjuk Anastasya pada satu objek.


"Apa kau suka?" Rangga menikmati Aroma tubuh Anastasya yang berada dalam dekapannya. Merasakan kedamaian juga kebajagiaan dari orang terkasih.


Rupannya Anastasya menunjuk pada kolam renang yang memang menjadi fasilitas pengguna apartemen. Gadis itu suka berenang, maka pada saat sepasang netra menangkap adanya penampakan kolam renang dari atas membuatnya begitu antusias dan tak tahan untuk lekas berendam.


"Memang kau sudah tau?"


Rangga mengangguk, sementara dagunya bertumpu pada bahu Anastasya.


"Bukankan kau sangat suka berenang, jadi aku fikir kau pasti akan suka jika tingga di tempat ini."


Anastasya terharu. Rangga sudah menyelamatkan reputasinya dan kini ia berusaha mewujudkan impian yang sudah sedari dulu diinginkan. Ya tuhan, apakah pria ini seorang malaikat.


Gadis itu berbalik badan, hingga kefuanya saling berhadapan. Sepasang netra Anastasya mulai berkaca-kaca, saat pandangan berpaut pada netra tajam milik Rangga.


"Apa kekasihku ini seorang malaikat?"


Rangga tergelak. Ia menggelengkan kepala dan menangkup wajah sang kekasih dengan sepasang tangan besarnya.


"Tentu bukan sayang. Aku hanyalah seorang Rangga, kekasihmu."


"Benarkah. Tetapi kau selalu datang untuk menguatkan dan menghapus deritaku."


Lagi, Rangga tergelak.


"Dengar, aku bukanlah malaikat namun aku berjanji untuk berada di sampingmu untuk membimbing dan membawamu pada kebahagiaan."


Anastasya tersenyum haru. Sepasang netra bening itu mulai berembun. Mungkin disetiap duka, pasti terselip kebahagiaan. Dan kebahagiaan yang saat ini ia dapat, tentunya dari serang pria yang kini ada di hadapannya.


"Sayang, aku mencintaimu." Kalimat itu terucap begitu saja dari bibir mungil Anastasya.


Rangga tersenyum tipis. Dadanya membuncah oleh rasa bahagia. Ia pun membawa tubuh hangat Anastasya dalam rengkuhan. Berusaha memberikan rasa nyaman pun melindunginya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2