
Sepasang mata sembab itu menatap nanar tubuh seseorang yang terbaring di atas brankar dengan kain putih yang menutupi sekujur tubuh. Pemilik mata sembab itu menundukan kepala, tangisnya kembali pecah begitu pun seorang gadis yang sedang memeluknya.
Anastasya bersama Natasya berpelukan di hadapan tubuh Kenan yang tak lagi bernyawa. Kedua perempuan itu tak mampu berkata-kata, hanya air matalah yang mampu menggambarkan rasa kehilangan mereka. Kenan pergi dengan meninggalkan sejuta kenangan manis untuk Istri dan putrinya.
Penyakit yang semakin hari semakin menjalar keseluruh tubuh membuat Kenan tak mampu lagi untuk bertahan hidup. Satu tahun lebih ia mencoba berbagai macam pengobatan mulai dari medis bahkan herbal, namun sayang semua tak menunjukan hasil. Kenan berpasrah diri, ia tak kuat lagi menahan rasa sakit yang teramat menyiksa sekujur tubuhnya.
Anastasya tak kurang-kurang dalam memberinya semangat. Begitupun dengan Natasya yang rela tinggal berbulan lamanya di rumah sakit untuk bisa merawat sang ayah setiap harinya. Bagi kedua perempuan itu sosok Kenan ada hero. Pelindung sekaligus penjaga bagi mereka.
Anastasya dan Natasya melepas kepergian Kenan dengan linangan airmata. Pemakaman Elit di pusat kota Washington DC menjadi tempat peristirahatan terakhir Kenan. Kenan yang sudah tak lagi memiliki keluarga di Indonesia membuat sang Istri Akhirnya memilih jalan demikian agar jasad sang suami lekas dikebumikan. Lagi pula mengingat berapa lama waktu yang akan ditempuh hingga sampai ke tanah air membuat Anastasya tak bisa berbuat banyak. Ia berpasrah, mungkin Washington DC memang ditakdirkan untuk menjadi saksi perjuangan hidup mereka setelah dipersatukan menjadi sepasang suami istri. Bahagia, kesedihan bahkan momen kelahiran Natasya akan selalu Anastasya ingat. Kenan memang sudah tiada tetapi segala kenangannya akan tetap terpatri di sanubari sepanjang masa.
💜💜💜💜💜
Satu hari berlalu. Anastasya duduk terpekur sementara Natasya berbaring, berbantalkan kedua paha ibunya. Kedua perempuan itu saling merenung, sibuk dengan fikiran masing-masing.
"Bu, apa kita harus menuruti ucapan ayah sebelum meninggal?" Tanya Natasya seraya mendongak, menatap wajah sang ibu yang juga sedang menatapnya.
Anastasya diam sejenak. Menelaah ucapan sang putri.
"Maksudmu ucapan Ayah yang meminta kita untuk kembali ke Indonesia?"
Natasya sontak menganggukan kepala, membenarkan ucapan sang Ibunda.
Anastasya menghela nafas dalam. Kenan memang sempat berucap, meminta dirinya beserta sang putri untuk kembali ke tanah air andaikata dirinya tak berumur panjang.
"Pulanglah ke Indonesia. Di sana kau masih punya keluarga. Paman dan Bibi pasti akan menjagamu untuk menggantikanku andai aku tiada."
Anastasya sontak mengarahkan telunjuknya di bibir Kenan. Meminta pria tersebut untuk diam. Sedang air mata Anastasya sudah menganak sungai mengingat Kenan berbicara saat dokter memfonis jika usianya tak akan lama.
Seperti mendapat firasat sebelumnya. Kenan sama sekali tak menjual asetnya di ibukota saat dirinya hijrah ke negera nun jauh di sana. Seakan pria itu sudah mempersiapkan jauh-jauh hari andai istri atau pun anaknya berniat untuk melanjutkab hidup kembali di Indonesia.
__ADS_1
Dada Anastasya terasa sesak. Kembali ke Indonesia sama dengan membuka luka lama dalam dirinya. Akan tetapi ia bisa apa. Tanpa Kenan, hidup di negara orang seperti momok menakutkan. Selama ini Anastasya hanya mengenal beberapa rekan kerja Kenan saja. Perempuan itu terbilang membatasi diri dalam bergaul. Keluar seperlunya dan lebih suka berada di rumah guna mengurus suami dan putrinya.
Lain Anastasya lain juga putrinya, Natasya. Gadis yang tengah mengenyam pendidikan di sebuah universitas bergengsi di Washington DC, cukup mudah bergaul dengan siapa saja dan mempunyai banyak teman. Terlahir di negara orang membuat gadis itu fasih berbahasa asing sejak usia dini. Natasya cukup berprestasi. Kenan dan Anastasya bahkan dibuat bangga dengan kemampuan yang sang pencipta anugerahi untuk putrinya. Jika mereka pindah, Anaatasya mungkin akan menerimanya tetapi bagaimana dengan Natasya?
Anastasya menatap sang putri. Lahir dan dibesarkan di negara asing membuat gadis itu sudah terbiasa, lalu bagaimana kehidupan putrinya setelah tiba di Indonesia?
Natasya memang tak pernah menyambangi negara asal kedua orang tuanya, tetapi gadis itu kerap mencari-cari informasi tentang kebudayaan serta kehidupan bermasyarakat para pribumi melalu dunia maya.
"Jangan tanyakan pada ibu, tanyakanlah pada dirimu sendiri, nak. Apakah kau mau untuk hidup di Indonesia?"
Natasya bangkit dari posisinya. Mata bening itu balas menatap sepasang mata sang ibu begitu lekat.
"Ibu, dengarkan aku. Aku yakin apa yang menjadi keinginan ayah, itulah yang terbaik. Aku pasti tak bisa menolak. Lagi pula, bukankah keluarga ibu juga tinggal di sana?"
Anastasya menundukan kepala, berusaha menghindar dari tatapan putrinya dan di beberapa detik kemudian perempuan itu menganggukan kepala.
"Nah, tidak ada ada alasan bagi kita untuk menentang keinginan ayah, ibu."
"Ok, ibu. Kita tidak harus pindah sekarang. Aku pun sudah semester akhir dan hamir skripsi. Setelah wisuda kita akan pulang ke Indonesia. Bertemu keluarga ibu dan membangun kehidupan baru di sana." Natasya menepuk bahu ibunya. Gadis itu sadar, jika tak akan mudah melewati semua di saat mereka baru saja kehilangan seseorang yang nyatanya seperti tiang penyangga kehidupan bagi keduanya.
Anastasya menangkup kedua telapak tangan di wajah. Perempuan itu mulai terisak, berusaha menyembunyikan wajah agar air matanya tak terlihat.
Natasya menghela nafas dan ia hembuskan perlahan. Tak jauh berbeda dengan sang ibu, dirinya pun rapuh saat ini, tetapi apa jadinya jika dirinya pun ikut hanyut dalam kesedihan terus menerus. Dirinya harus kuat. Harus bangkit. Untuk bisa bertahan dan menjadi pegangan untuk ibunya.
"Ibu, aku tidak melarangmu untuk menangis. Menangis itu wajar. Sebagai bentuk pelampiasan, tetapi berjanjilah untuk tetap kuat, karna bukan hanya aku, ayah pun pasti akan sedih jika melihat ibu dalam keadaan seperti ini."
Kedua tangan Natasya menyibak tangan sang ibu yang menutupi wajah. Anastasya tak melawan. Ia justru membiarkan sang putri melihat deraian air matanya, lantas menyekanya dengan kedua tangan.
"Terus berjuang ibu. Hidup kita tetap terus berjalan walau ayah sudah lebih dulu meninggalkan. Aku akan selalu menjaga ibu, begitu pun sebaliknya." Natasya lekas memeluk tubuh sang ibu, menenggelamkan wajahnya di dada sang ibu yang terasa hangat.
__ADS_1
Anastasya mengangguk. Meski pun tak menjawab ucapan sang putri, tetapi perempuan itu berucap dalam hati jika akan terus berada di samping sang putri. Mendidiknya dan bahkan sampai mengantarnya ke altar pernikahan. Semoga.
💜💜💜💜💜
Di Negara berbeda.
Beberapa anak kecil tampak berlarian, berkejaran kesana kemari. Beberapa di antaranya pun terlihat asik bermain, bahkan ada pula anak-anak yang berusia lebih tua ikut membantu beberapa pekerja untuk menyapu halaman. Bangunan dua lantai dengan halaman luas yang para anak-anak tempati adalah panti asuhan yang selama ini menjadi rumah bagi mereka.
Tawa riang khas anak-anak, membuat seseorang yang baru saja turun dari kendaraan mewah miliknya, ikut tersenyum bahagia. Pria matang berbadan tegap itu mengayunkan langkah. Mendekati halaman luas panti asuhan untuk menyapa beberapa bocah yang sudah lebih dulu berlarian menghampirinya.
"Paman datang," seru beberapa anak yang spontan berlari untuk menyambut seseorang yang disebut 'Paman' tersebut.
"Apa kabar anak-anak?" Sang paman, bertanya. Seorang pria yang tak lain seorang supir itu membuka bagasi mobil dan menurunkan beberapa kotak hadiah untuk diberikan pada anak-anak.
"Baik, paman," jawab bocah itu serempak.
Paman tersebut lantas tersenyum lebar. Menyalami bocah itu satu persatu juga mengusap puncak kepalanya dengan lembut.
"Ambil dan bagi hadiahnya secara rata. Jangan ada yang tertinggal."
"Terimakasih paman." Lagi, para bocah yang begitu antusias mengantre hadiah itu menjawabnya serempak.
"Sama-sama."
Selepas mendapatkan hadiah, mereka berlarian masuk ke dalam rumah. Senyum terulas dari bibir sang paman saat melihat seberapa bahagiannya anak-anak panti saat mendapat hadiah kecil darinya. Tanpa terasa, setitik bulir bening mengalir di sudut mata. Rangga, pria yang disebut paman oleh para bocah tersebut merasakan keharuan yang tak terkira.
Panti asuhan tempatnya berdiri saat ini bukanlah panti asuhan pertama yang ia dirikan. Melainkan masih ada beberapa panti lain yang tersebar di beberapa wilayah. Kehilangan Abigail, putranya bersama Anastasya membuatnya dikurung rasa bersalah yang tak berkesudahan.
"Mungkin dengan ayah membangun beberapa panti ini, bisa sedikit mengurangi rasa bersalah Ayah padamu, nak," gumam Rangga dengan masih menatap para bocah yang hampir menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Rangga masih tetap melajang. Tak berniat membangun biduk rumah tangga dengan gadis mana pun. Rangga lebih merasa hidupnya berguna saat bisa berkumpul dan memberi makan anak-anak asuhnya. Mungkin ia ingin mendedikasikan seluruh hidupnya untuk membantu sesama. Hari ini dan bahkan untuk selamanya.
Asmara Anastasya " TAMAT"