Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Permintaan Maaf Sarah


__ADS_3

Ponsel di atas meja rias bergetar. Gadis yang tengah menyisir surai panjang indahnya itu melirik kearah layar benda pipih tersebut.


Kak Sarah.


Nama perempuan itu jelas tertera di layar ponsel. Anastasya mengernyit, untuk apalagi perempuan itu menghubunginya.


Satu panggilan pertama, gadis itu abaikan. Begitu pun dengan panggilan kedua dan ketiga. Hingga dipanggilan keempat, Anastasya menggeser ikon berwarna hijau meski sejujurnya enggan.


"hallo."


Terdengar suara Sarah mengiba di seberang. Anastasya menjawab sekenanya saja. Peristiwa tempo hari masih menyisakan trauma untuknya.


Begitu banyak kata yang terucap dari bibir Sarah, yang intinya penyesalan. Anastasya menghela nafas panjang. Sejujurnya ia pun tak tega. Lagi pula ia yakin jika semua itu bukanlah murni kesalahan sarah. Pasti ada pihak lain yang menjadi dalang namun melimpahkannya pada Sarah.


"Aku tidak janji, kak. Aku masih ada jadwal pemotretan malam ini."


Dari seberang terdengar Sarah meng_iba.


"Akan aku usahakan. Tetapi aku tidak bisa mengatakan Iya."


Lagi, Sarah begitu kekeh memintanya bertemu disebuah kafe. Ia berniat mentraktir Anastasya untuk menebus kesalahannya beberapa hari lalu.


"Maaf, kak. Aku tidak bisa janji."


Suara sarah dari seberang terdengar pasrah. Selepas mengucap salam, panggilan itu pun terputus.


Gadis yang sedang menatap pantulan wajahnya di cermin itu berfikir sejenak.


"Mungkin tidak ada salahnya aku datang. Aku hanya ingin tau apa yang akan kak Sarah lakukan padaku. Meminta maaf, atau justru sebaliknya.


Akan terapu, kali ini Anastasya tak akan bertindak bodoh. Ia lekas menghubungi kontak Rangga, kemudian meminta pada pria itu untuk menemaninya menemui Sarah.


💜💜💜💜


Anastasya tersenyum tipis selepas memeriksa pesan di ponselnya.


"Sayang, kau tau?"


"Hem, kenapa?" Rangga yang sibuk mengatur kemudi bertanya.


"Kini bukan lagi kafe sebagai tempat pertemuan, tetapi pindah di klub yang ada di jalan xx."


"Apa?"


"Ya, kak Sarah mengatakan jika klub itu lebih dekat dengan apartemennya dari pada kafe xx yang semalam direncanakan."


Rangga tak habis fikir. Apakah ancamannya gertakannya tempo hari tak membuat perempuan itu jera, hingga sepertinya menyusun rencana ulang untuk kembali menghancurkan Anastasya.

__ADS_1


"Sayang, apa kau percaya begitu saja kalau ini bukanlah suatu perangkap yang mungkin tengah dipersiapkan perempuan itu."


Anastasya mengendikkan bahu.


"Entahlah, aku tak ingin berprasangka buruk. Lagi pula, bukankah sudah ada dirimu yang akan melindungiku," goda Anastasya dengan menjawil dagu Rangga gemas.


Rangga pun tergelak. Ia menangkap tangan sang pujaan hati dengan satu tangannya, lantas menciuminya penuh kasih.


"Tentu, sayang. Kau tak perlu khawatir."


💜💜💜💜💜


Dentuman musik memekakan telinga, menyambut langkah keduanya saat memasuki pintu sebuah klub malam yang terletak di pusat kota. Tempat tersebut terbilang ramai. Dipenuhi pria dan wanita dewasa maupun muda mudi yang tengah menghabiskan malam dengan kesenangan.


Anastasya menelan saliva berat. cukup terkejut dengan pemandangan yang ia lihat disekitar. Ini untuk kali pertama gadis itu menginjakan kaki ketempat hiburan malam semacam ini. Rasa takut mulai merayap, kala beberapa pria menatapnya penuh damba dan seolah kelaparan.


Akan tetapi, perempuan itu bisa menghela nafas lega sebab Rangga senantiasa menggengam tangannya erat, seolah melindungi.


Keduanya menyisir pandang kesegala penjuru. Mencari keberadaan Sarah yang mengatakan jika sudah sampai di tempat lebih dulu.


"Nah, itu dia," tunjuk Anastaya pada sebuah meja yang berada di sudut ruangan. Cukup terselip, hingga keduanya cukup sulit menemukan.


Anastasya dan Rangga pun mendekat kemeja tersebut. Terlihat jika Sarah seorang diri, dengan beberapa perban yang masih membalut beberapa bagian tubuhnya.


"Em, An-ana, ayo duduk." Sarah tergagap. Tak mengira jika Rangga akan datang bersama gafis itu.


Sepasang kekasih itu tersenyum tipis, lantas mendaratkan tubuh di kursi. Sarah canggung. Ia terlihat tak fokus dan salah tingkah.


Sarah terlihat melambaikan tangan kearah pelayan. Anastasya dan Rangga pun memilih minuman non alkohol tanpa memesan makanan atau pun camilan. Rangga jengah. Ia engan untuk berlama-lama ada di tempat itu.


"Kalian hanya memesan ini saja?" Sarah kebingungan. Pasalnya, baik Rangga atau Anastasya hanya memesan dua gelas jus tanpa tambahan apa pun.


"Tidak, ini sudah cukup," jawab Rangga ketus.


Dalam diam, Sarah mengepalkan tangan. Tak terima akan perlakuan Rangga padanya.


Dengan menurunkan harga diri, Sarah mengucapkan permintaan maafnya pada Anastasya. Perempuan itu mengaku salah, tetapi kejadian tersebut pun bukan atas tindakan kesengajaan. Melainkan keterpaksaan yang membuat Sarah merasa terhimpit hingga meminta bantuan Anastasya untuk menggantikannya.


Anastasya terenyuh. Terlebih Sarah menjabarkan kronologi dengan deraian air mata.


Sementara itu, Rangga melengos. Sungguh, Sarah begitu pandai berekting. Sayang, kenapa perempuan itu lebih memilih menjadi seorang model dari pada aktris. Toh, ektingnya patut diacungi jempol ketimbang harus buka aurat untuk mendapatkan uang.


"Ana, Rangga, Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak mengira jika seperti ini jadinya." Sarah menggengam jemari Anastasya. Meminta pengampunan.


"Kak, aku sudah memaafkanmu. Bahkan sebelum aku memasuki tempat ini."


Sarah terlihat senang. Ia lekas mengusap air mata dikedua pipi, lantas tersenyum senang.

__ADS_1


"Sepertinya kita haris merayakan momen ini." Sigap, Sarah melambai kearah pelayan untuk membawa beberapa gelas kosong padanya.


Sarah tersenyum lebar. Ia membuka satu buah botol kemudian mengisi tiga buah gelas kristal tersebut dengan cairan berwarna kuning dari botol.


Sepasang kekasih itu saling tatap. Anastasya yang buta akan segala jenis minuman di tempat tersebut, hanya menatap sang kekasih penuh tanya. Sementara Rangga yang memang pernah beberapa kali memasuki tempat semacam ini, nyatanya tak tau pasti minuman seperti apa yang tengah dituang oleh Sarah.


"Untuk kalian," ucap Sarah seraya mengangsur dua gelas kristal berisi minuman itu kehadapan Rangga dan Anastasya.


"Maaf, kami tidak bisa," tolak Rangga cepat.


Sarah terdiam, namun ia tetap tak mau kalah.


"Ayolah, Ana. Kali ini saja. Aku benar-benar mentraktirmu, apa kau mau menolaknya." Sarah memasang wajah semenyedihkan mungkin.


Terlihat Anastasya mulai dilema. Ia ingin menolak, namun tak tega pada Sarah. Jika ia minum, apakah ia tetap akan baik-baik saja.


"Ayo, Ana."


Meski berat, Anastasya pun mulai mengangkat gelas hendak bersulang.


Tasya.


Anastasya mengedipkan satu mata kearah Rangga. Dengan berat hati, Rangga pun mengikutinya.


"Ting." Ketiga gelas kristal itu beradu.


Sarah menengak cairan berwarna kuning itu hingga tandas. Sementara Anastasya menunjukan ekspresi berbeda. Gafis itu mengernyit, merasakan sensasi asing diindra pengecapnya.


Sama halnya dengan Sarah. Rangga terlihat begitu menikmati minuman tersebut. Bedanya ia menyesapnya perlahan, menikmati aroma dan dari setiap teguknya. Bukan hanya satu gelas, tetapi pria itu menambahnya lagi.


Sial, apa ini.


Rangga mulai merasakan efek alkohol di tubuhnya. Ia lekas mengkode Anastasya untuk lekas berpamitan dan menghilang dari tempat laknat tersebut.


Keduanya sudah berada di area parkir. Anastasya yang mulai merasakan pusing, memeluk tubuh Rangga agar tak terjatuh.


"Kita harus cepat pulang."


Rangga bergegas memapah langkah Anastasya untuk memasuki mobil, begitu pun dengan dirinya.


"Sayang, tadi apa yang kita minum. Kenapa mendadak kepalaku pusing seperti ini."


"Entahlah." Rangga menjawab sekenanya.


Bukan hanya Anastasya, Rangga justru lebih tersiksa. Ia yakin jika minuman yang disuguhkan Sarah adalah jenis alkohol berkadar tinggi, sedangkan dirinya menenggak tiga gelas secara sadar.


Sial, aku sudah tidak tahan.

__ADS_1


Rangga tak ingin ambil resiko dengan mempertaruhkan nyawanya di jalanan. Pengaruh alkohol membuatnya tak fokus berkendara, hingga ia memilih memutar arah tujuan. Bukan kembali kerumah, atau pun rumah Anastasya. Melainkan keapartemen baru Anastasya yang menjadi tujuannya.


Bersambung...


__ADS_2