
Pagelaran acara yang ditunggu pun tiba. Gedung Wiratama Management terlihat cukup ramai dengan para pengunjung juga para reporter yang kebetulan bertugas meliput. Riuh ramai suara terdengar di seluruh penjuru gedung nan tinggi menjulang tersebut.
Beberapa penonton bahkan sengaja mengenakan atribut atau pun membawa poster bergambar finalis model yang menjadi dukungan.
Anastasya meremas ujung gaun yang dikenakan. Ini bahkan seperti mimpi saat dirinya bisa lulus seleksi hingga memasuki babak final. Sungguh mencengangkan bukan? Mengingat gadis itu sendiri bahkan nyaris tak punya pengalaman dalam bidang permodelan.
Apakah ada orang dalam yang ikut bermain dalam keberhasilannya? Tetapi siapa? Meski alam bawah sadar Anastasya terkadang memikirkan hal demikian, akan tetapi sepertinya tak mungkin. Mengingat siapa dirinya yang hanya seorang gadis miskin dan minim pendidikan pula.
Dari dalam ruang make up Anastasya mampu mendengar MC memulai acara. Dadanya kian berdebar kencang. Bukan hanya tegang, namun tingkat kecemasannya pun kian berlipat ganda.
Anastasya yakin jika kali ini, bukan hanya dari pihak juri dan penonton yang memenuhi gedung acara. Akan tetapi, banyak petinggi juga udangan tamu penting dari para dunia Fashion dan Entertaiment.
"Tarik nafas, kemudian buang perlahan." Inces kembali memberi instruksi pada Anastasya yang tak mampu menutupi rasa gugupnya.
Penampilan Anastasya terlihat wah juga berkelas, dengan gaun rancangan desainer ternama yang ia gunakan. Gaun panjang berwarna hitam dengan belahan dada rendah, terlihat menyatu dikulitnya yang seputih susu. Gaun panjang itu pun memiliki belahan tinggi hingga ketengah paha, yang kian mengekspos kaki jenjang miliknya.
"Ana, malam ini kau benar-benar cantik," puji Inces juga maya untuk kesekian kalinya.
Gadis itu hanya tersenyum malu. Sesekali Anastasya menangkupkan kedua telapak tangan, seperti tengah mengucap doa.
Kesibukan tergambar jelas pada beberapa pihak yang berpartisipasi. Para make up artist juga para desainer yang ditunjuk, seperti tengah memburu waktu. Memberikan hasil sebaik mungkin dengan waktu yang sudah disepakati.
Instruksi terdengar. Anastasya hanya bisa mengucap doa seraya menghela nafas dalam kala kelima finalis harus unjuk kebolehan.
"Doakan aku." Gadis itu menatap penuh harap pada kedua rekannya.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Kau hanya perlu berjuang semaksimal mungkin. Kami tau jika kau mampu. Jadi, jangan kecewakan kami." Meski kalimat tersebut sejatinya bertujuan untuk membangkitkan kepercayaan Anastasya, namun nyatanya nyali gadis itu cukup menciut selepas menatap keempat finalis lain yang menjadi saingannya.
"Ana, kau pasti bisa," gumam Anastasya menyemangati diri.
Kelima finalis dengan riasan memukau, berdiri angun di atas catwalk. Tepuk riuh penonton kian menambah gugup juga menjadi penyemangat tatkala nama finalis diteriakkan.
Anastasya menyisir pandang kearah meja juri juga kursi penonton. Dari kejauhan gadis itu mendapati wajah Bi Atun yang bertepuk tangan riang sembari meneriakkan namanya. Tampak juga Sarah yang berada di sisi kanannya. Anastasya tersenyum haru. Meski tak ada satu pun keluarga, akan tetapi dengan kehadiran orang-orang terdekat, rupannya mampu membangkitkan rasa percaya diri juga mentalnya yang sempat turun.
Saat pandangannya tertuju kearah lain, sepasang netra gadis itu membulat sepurna. Salivanya terasa susah payah ditelan, manakala sosok Rangga tampak duduk dijajaran kursi kehormatan.
Gadis itu spontan menundukan pandangan.
Aku malu.
******
Masuk tiga besar. Bukankah itu sudah termasuk keajaiban. Inces sendiri tak yakin jika anak asuhnya itu mampu melibas lawannya hingga mampu bertengger di kursi tiga besar.
Akan tetapi selepas ia melihat secara langsung bagaimana kerja keras Anastasya dari seorang gadis polos bisa berubah seratus delapan puluh derajat berbeda kala berada di atas panggung.
Ya, malam ini penampilan Anastasya cukup memukau. Ditambah gaun mahal juga wajah cantiknya yang kian menyempurnakan penampilan. Akan tetapi, ini adalah ajang kompetisi. Di mana beberapa lawan juga memiliki bakat yang lebih mempuni dari pada dirinya.
"Terimakasih untuk Kak Inces juga Kak Maya. Entah, aku akan membalas jasa kalian dengan apa." Anastasya nyaris menangis. Ditatapnya dua orang tersebut dengan mata berkaca-kaca.
"Traktir kami. Sepertinya, itu cukup untuk membayar kerja keras kami," jawab Maya yang juga di angguki oleh Inces.
__ADS_1
"Yang benar? Apa kalian tidak akan meminta lebih?"
"Sombong kamu ya." Inces berkacak pinggang, ia sedikit kesal.
Anastasya pun tergelak. Merasa puas saat berhasil menggoda rekannya.
Meski hanya mendapatkan posisi ketiga, nyanya hadiah yang ia terima pun tergolong cukup besar. Baik dari pihak produksi, dan sponsor.
Semua berupa uang tunai juga sebuah hunian minimalis di pusat kota. Tak lupa beberapa kontrak eksklusif yang mampu mendompleng karirnya kedepan.
"Bagaimana jika setelah ini kita singgah di tempat makan kemarin. Kakak setuju?"
"Ehem."
Kedua rekan belum sempat menjawab saat seorang pria menyapa ketiganya.
"Selamat ya." Bibir pria itu mengulas senyum simpul. Anastasya yang masih mengingat siapa pemilik suara itu, seketika menegang.
Pria itu mengulurkan tangan, berniat untuk memberikan ucapan selamat pada Anastasya.
Gadis itu tertegun. Terdiam tanpa ekspresi.
"Ana, apa yang kau lakukan." Inces menatap tajam dan mencubit gemas pipi Anastasya yang mana membuat gadis itu terperanjat dan lekas tersadar dari lamunan.
"Hah, I-iya tuan. Terimakasih," jawab Anastasya salah tingkah.
__ADS_1
"Bagaimana, jika aku saja yang akan mentraktir kalian?" Rangga menatap ketiganya dengan wajah sumringah. Terlebih kala pandangannya bertemu dengan sosok Anastasya.
Ketiganya terperanggah. Apakah pria ini sudah sedari tadi menyimak perbincangan mereka?