
Pertemuan tak terduga dua insan yang sempat berteman dekat itu, membawa langkah keduanya kesebuah apartemen yang terletak di pinggir kota.
Sarah membawa Anastasya untuk berkunjung ke kediaman baru yang sudah ia tempati beberapa bulan ini.
"Masuklah," ucap Sarah begitu pintu apartemen terbuka.
Mengulas senyum tipis, Anastasya yang masih menggunakan masker itu mulai memasuki ruangan yang di dominasi warna putih tersebut.
"Aku tinggal di sini beberapa bulan lalu," terang Sarah seraya menutup kembali pintu selepas keduanya memasuki ruangan.
Anastasya masih memindai sekeliling. Sepertinya tempat tinggal Sarah kini tak terlalu luas juga tak mewah seperti apartemennya dulu.
"Kenapa pindah?"
Sarah tersenyum tipis. Bahkan penampilan perempuan itu kini tak se-wah saat keduanya bertemu terakhir kali.
"Aku tak memiliki cukup uang untuk tetap tinggal di sana." Sarah beranjak, menuju kearah lemari pendingin untuk mengambil beberapa botol air mineral yang tersimpan di dalamnya.
"Minumlah, maaf aku tidak punya sesuatu untuk dihidangkan."
Anastasya tersenyum tipis, mendaratkan bobot tubuh pada sofa single yang tak jau dari tempat duduk Sarah.
"Apa yang sudah terjadi sebenarnya, kak. Kenapa hidupmu seakan berubah, em maksudku.."
"Aku tau maksudmu." Sarah tergelak. Perempuan itu terlihat menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada kepala sofa.
"Sejak kau pergi, hidupku perlahan berubah. Kemewahan juga harta, perlahan sirna. Hingga seperti inilah kehidupanku sekarang." Sarah tentu tak akan bercerita jika hubungannya dengan Broto diketahui oleh istri sah pria tersebut. Kemewahan dan juga uang yang selama ini didapat nyatanya semua hilang saat istri Broto bergerak cepat untuk menyita apartemen juga fasilitas yang ia dapat dari pria paruh baya itu.
"Maaf. Bukan maksudku untuk menjauh dari kakak, hanya saja."
__ADS_1
"Apa kau hamil?" Pandangan Sarah tertuju pada perut Anastasya yang tertutup pakaian longgar.
Gadis itu hanya tertunduk. Masih ragu untuk menjawab.
"Sebagai publik figure, seharusnya kau lebih pintar. Kau sadar 'kan, sekejam apa hidup dilingkaran dunia hiburan?"
Anastasya masih tertunduk. Dalam hati ia pun merutuki diri atas kesalah yang ia perbuat. Hamil, bahkan sebelum menikah.
"Salah sedikit saja melangkah, maka keburukan kita tetap akan diingat sepanjang masa. Masyarat tentu akan memberi cap buruk padamu, tanpa perduli jika semua berita itu benar atau pun salah."
Benar, Anastasya mengakui ucapan Sarah mengandung kebenaran. Karir yang ia bangun dengan susah payah, nyatanya hancur hanya satu kabar tak sepenuhnya benar mulai beredar.
"Aku tak menyangka jika kejadiaanya akan seperti ini," sesal Anastasya.
Sarah terlihat menyunggingkan senyum miring. Satu tangannya bergerak merogoh kedalam tas jinjing dan meraih satu benda yang kini ada dalam gengaman tangan. Rokok.
Anastasya risih. Memang ini bukan pertama kali ia mendapati Sarah menghisap nikotin, namun kini kondisinya berbeda. Ia tengah mengandung, dan asap yang dihasilkan pun memiliki dampak berbahaya untuk janin juga dirinya.
"Ya tuhan, maaf." Sarah tersentak, ia tersadar jika Anastasya begitu tergangu dengan aktifitasnya. "Maaf, aku lupa jika kau sedang mengandung." Dimatikan begitu saja buntung rokok yang menyala.
"Aku tau jika kau tertekan sekarang, terlebih pria yang menghamilimu menghilang entah ke mana."
Anastasya menelan salivanya berat. Sarah pun pasti tau perihal hubungannya dengan Rangga, jadi ia pun pasti tau jika ayah dari janin yang dikandung Anastasya adalah benih Rangga. Dada Anastasya kian sesak, sekaligus malu taj terkira.
"Tidak perlu terpuruk, janin dalam perutmu pun tak menjadi penghalang kehidupanmu untuk terus melangkah." Ucapan Sarah begitu terdengar hangat kala menyapa indra pendengaran Anastasya.
"So, bangkitlah dari keterpurukan. Abaikan semua gunjingan. Kau berhak bagia, sesuai keinginanmu sendiri."
Anastasya masih tak mengerti akan kemana Arah pembicaraan Sarah, namun yang pasti perempuan itu kini bergerak menuju kedalam ruangan lain, kemudian datang dengan sebotol minuman di tangan.
__ADS_1
Anastasya mengernyit, lebel beserta merk botol minuman tersebut menggunakan bahasa Asing yang kurang ia fahami artinya. Akan tetapi gadis itu cukup tau jika botol yang dibawa Sarah itu berisikan minuman beralkohol.
Ting.
Dua gelas kristal dengan satu botol minuman sudah tersedia di atas meja. Sarah tersenyum tipis. Ia melirik sekilas ke arah Anastasya, kemudian menggerakan saru tangannya untuk membuka penutup botol dengan alat.
Tutup botol itu terbuka. Aroma minuman menguar, serasa asing menyapa indra penciuman Anastasya. Tanpa ragu, Sarah menuang botol tersebut, mengisi kedua gelas kristal dengan separuh isi.
"Ana, minumlah," tawar Sarah seraya menyodorkan segelas minuman beralkohol itu pada Anastasya. "Ingat, hidup hanya sekali. Nikmatilah apa yang semestinya kau nikmati. Sama seperti diriku, aku pun butuh pelarian untuk sekedar melepas jenuh."
Anastasya ragu, tangan yang memegang segelas minuman itu masih mengambang di udara.
"Ayolah, kita butuh hiburan. Butuh pelepas fikiran untuk menikmati sensasi melayang ke udara," bujuk Sarah lagi tanpa kenal lelah.
Berat hati Anastasya pun menerima gelas berisi cairan tersebut. Menatapnya dengan pandangan sulit diartikan, namun masih enggan untuk meminumnya.
Sarah mulai menyesap minuman tersebut, menikmati sensasinya dalam setiap tegukkan.
"Ayolah, Ana. Tunggu apa lagi. Dengan minuman ini kau bisa melepaskan sejenak beban fikiranmu."
Gamang. Anastasya berada pada titik yang membuat otaknya buntu seketika. Tak mampu berfikir jernih dan sulit menentukan yang benar dan salah. Satu sisi ia enggan menyentuh terlebih mengenal minuman laknat tersebut, namun di sisi lain hatinya berontak, begitu menginginkan sesuatu yang selama ini tak terpikirkan untuk dinikmati.
Hingga.
Gleek.
Gleek.
"Hah." Anastasya benar-benar menenggak minuman tersebut, yang membuat Sarah menyerigai puas.
__ADS_1