
Senyum masih terus terukir di bibir pasangan suami istri yang baru saja menjejakkan kaki di bandara Internasional Washington DC selepas menempuh perjalanan selama kurang lebih 22 jam 30 menit lamanya. Lelah, tentu saja. Tetapi sepasang pengantin baru itu seakan begitu menikmati perjalanan dan momen yang ada. Saling berpegangan tangan dan menunjukan kemesraan. Begitu kirannya yang terjadi di antara keduannya sebagai bentuk luapan kebahagiaan.
Kenan sudah mempersiapkan hunian yang akan di tempati selama tinggal di negara berjulukan paman sam saat ini. Sebuah unit apartemen yang disewa beberapa bulan ke depan sampai proyek pembangunan infrastrkur dalam pimpinannya terselesaikan. Tapi bohong, sebab Kenan sendiri akan melakukan segala cara agar sang istri nyaman dan betah tinggal di negaranya saat ini hingga tak berfikir untuk kembali lagi ke indonesia sampai beberapa tahun ke depan.
"Sampai," ucap Kenan saat taksi yang mereka tunggangi berhenti di depan bangunan tinggi menjulang yang akan menjafi tempat tinggal mereka.
Senyum terulas dari bibir Anastasya saat Kenan mengulurkan tangan, membantu sang istri untuk turun dari kuda besi berwarna silver tersebut.
"Terimaksih," ucap Anastasya pada sang suami yang kini sudah memeluk pingangnya posesif.
"Semua barang milik kita sudah berada di dalam, termasuk mobil yang juga sudah terparkir rapi di basment apartemen." Kenan menunjuk bangunan bercat putih gading yang bersih juga nyaman dari luar.
Perempuan itu mengangguk penuh antusias. Rasanya tak sabar untuk berlari dan masuk ke apartemen guna memeriksa seluruh ruangan yang ada.
Dapur, dapur. Aku rindu memasak.
Kenan lekas menarik lembut tangan sang istri, membawanya untuk memasuki ruangan yang akan menjadi istana mereka.
💜💜💜💜💜
Anastasya dibuat takjub. Meski tempat tersebut tak seluas rumah kenan, namun setiap ruang terasa begitu dingin dan nyaman sesuai dengan keinginannya. Terlebih dinding yang sengaja dipoles dengan cat berwarna merah muda, kian menghipnotis pandangan Anastasya.
"Bagaimana, kau suka?" Tanya Kenan seraya memeluk pinggang ramping Anastasya dari belakang.
Anastasya yang terkesiap itu sontak mengganguk kemudian menjawab, "Sangat, aku sangat menyukainya. Terimakasih suamiku sayang." Tak ragu Anastasya membalas pelukan sang suami dengan mendaratkan kecupan di pipi pria tampan tersebut. Kenan tersenyum senang sementara matanya mengedip, genit.
"Mau langsung istirahat?" Bisik Kenan di telingga Anastasya yang mana membuat perempuan itu bergidik kegelian.
"Heem, tubuhku lelah sekali," jawab Anastasya. Tubuhnya benar-benar lelah.
"Aww," pekik Anastasya saat tubuhnya terayun dan terangkat ke udara. Rupanya Kenan sedang menggendongnya menuju kamar mereka.
__ADS_1
"Ayo tidur, tapi sebelum itu kita mandi lebih dulu." Anastasya tak mampu menolak. Kefuanya sudah berada di kamar mandi. Membersihkan diri dari kotoran dan keringat yang menempel di tubuh saat melakukan perjalanan tubuh.
Kenan begitu baik memperlakukan Anastasya hingga perempuan itu merasakan kebahagiaan hidup berumah tangga yang sebenarnya. Anastasya seakan menjadi wanita paling bahagia dimuka bumi ini. Kemewahan dan seluruh keinginan sang istri selalu bisa Kenan penuhi. Bersyukur rezeki pria berkulit putih itu mengalir deras, hingga tak keberatan andaikata Anastasya meminta segunung berlian sekalipun.
💜💜💜💜💜
Tahun demi tahun berlalu. Tak ada yang berubah dengan kehidupan rumah tangga Kenan dan Anastasya. Sepasang suami istri itu memilih untuk menetap di Amerika, sesuai dengan rencana tersembunyi Kenan diawal kepindahan.
Sedangkan Anastasya sendiri sama sekali tak protes dan justru terlihat menikmati hidupnya beberapa tahun belakangan ini. Akan tetapi dari semua kebahagiaan yang ada terselip satu kesedihan yang membuat sepasang suami istri itu untuk tetap kuat.
Beberapa bulan lalu Anastasya sempat mengalami keguguran. Janin yang masih berusia 8 minggu dalam kandungan harus rela mereka lepaskan. Anastasya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan, hanya saja kondisi kandungan yang lemah membuatnya harus menyerah.
Bukan hanya Anastasya, Kenan pun begitu terpukul mendapati kenyataan jika janin yang masih sebesar kacang merah itu harus pergi bahkan sebelum terlahir kedunia.
Mereka berusaha Ikhlas. Selalu berfikir positif jika tuhan memiliki rencana indah di balik musibah yang menimpa. Setiap bulannya Anastasya dan Kenan rutin mengunjungi dokter spesialis kandungan untuk mengetahui perkembangan dari rahim Anastasya pasca abortus. Tak ada yang mengkhawatirkan, dokter tersebut memastikan jika kondisi rahim Anastasya bisa dikatakan lebih dari pada siap untuk kemungkinan memiliki janin kembali.
Hal positif tersebutlah yang memantik kobaran semangat dalam diri Kenan. Pria tampan itu selalu berdoa juga ikhtiar untuk terus gencar mencetak Kenan atau pun Anastasya junior setiap malamnya.
"Sayang, aku lelah," rengek Anastasya yang masih saja dibuai oleh kehangatan Kenan saat keduanya melakukan penyatuan.
Dibawah kukungan Anastasya meleguh dengan mata terpejam. Menikmati gelayar nikmat meski tubuhnya luar biasa lelah. Kenan memang pria perkasa, Anastasya pun mengakuinya. Dibandingkan dirinya yang minim pengetahuan tentang urusan ranjang, Kenan dengan sabar membimbingnya menuju nirwana saat awal-awal keduanya membangun biduk rumah tangga. Seiring berjalannya waktu Anastasya mampu mengimbangi keperkasaan Kenan di ranjang. Selalu bersedia walau di mana pun sang suami menginginkan. Namun, malam ini nampak ada yang berbeda. Anastasya nampak kelelahan melayani birahi sang suami bahkan saat pria tersebut belum mendapatkan pelepasan.
"Beristirahatlah." Kenan menyerah. Dia menyudahi permainan setelah mendapati sang istri kelelahan. Dirinya bahkan belum keluar, namun apa daya, kesehatan Anastasya jauh lebih berharga dari pada nafsunya.
Tak menjawab, Anastasya sudah memejamkan mata kemudian terlelap dalam. Kenan mencium kening sang istri, lantas menyelimuti tubuh polos itu hingga sebatas leher.
"Tidurlah, aku akan memelukmu sampai pagi." Tak berselang lama Kenan pun ikut terlelap seraya memeluk tubuh Anastasya erat.
💜💜💜💜💜
"Sayang!"
__ADS_1
Teriakan dari dalam kamar mandi membuat Kenan yang masih menyelam ke alam mimpi, sontak terperanjat.
"Anastasya?" Kenan familir dengan jeritan wanita dari dalam kamar mandi pribadinya tersebut. Ia menggeser pandang pada ruang kosong di sampingnya. Sang istri sudah tidak ada.
"Jadi itu suara Anastasya? Ada yang terjadi dengannya sampai berteriak?" Kenan spontan meloncat dari ranjang. Berlari kearah kamar mandi yang pintunya madih terkunci rapat.
"Sayang. Buka pintunya." Kenan mengedor pintu. Bayangan buruk tentang Anastasya yang terkunci di dalam, berseliweran.
"Sayang, buka atau aku dobrak." Tak ada jawaban membuat Kenan nekat mendobrak pintu kamar mandi. Setelah pintu tersebut berhasil terbuka, pria itu dibuat terkejut ketika mendapati tubuh sang istri terduduk di sudut ruangan dengan linangan air mata.
"Sayang, kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Kenan begitu keduanya berhadapan. Direngkuhnya tubuh Anastasya yang lemah dan membawanya keluar ruangan.
"Sayang, katakan. Apa yang terjadi?" Demi apa pun Kenan membeci situasi seperti ini. Saat Anastasya hanya diam namun sepasang matanya menyiratkan kesedihan.
Wajah pucat Anastasya mendongak, pandangan sepasang insan itu saling bertautan. Bibir pucat itu kini mulai mengulas senyum tipis yang membuat Kenan dibuat bertanya-tanya.
"Ada apa?" Tanya Kenan sekali lagi begitu lirih.
Tangan Anastasya bergerak, merogoh sesuatu benda yang tersimpan di dalam saku kimononya kemudian menyerahkannya kepada Kenan.
"Lihatlah," titah Anastasya menyerahkan benda pipih panjang kehadapan Kenan.
Pria itu terkesiap, menerima benda pemberian Anastasya yang juga pernah ia lihat sebelumnya.
"Sa-sayang, kau?" Kenan tak mampu merampungkan kalimatnya. Tubuh pria itu menegang dengan bibir terbuka saat Anastasya menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan.
"Ya, sayang. Aku hamil, dan kita dipercaya untuk memiliki buah hati kembali."
Kenan menangis. Membungkam bibirnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Ia rengkuh tubuh Anastasya dalam dekapan. Menciumi seluruh wajah sang istri juga puncak kepalanya bertubi-tubi.
"Terimakasih tuhan. Terimakasih. Kau selalu mendengar doa-doa kami. Kami selalu percaya, jika engkau selalu menyimpan rahasia besar di balik semua kejadian."
__ADS_1
Keduanya bersujud syukur, berterimakasih pada sang pencipta atas segala anugerah yang diberikan.
Tbc. .