Asmara Anastasya

Asmara Anastasya
Penolakan


__ADS_3

Seolah langit ikut berduka, Rintik hujan rupanya mengiring jenazah putra Anastasya selama proses pemakaman. Beberapa orang yang menyaksikan larut dalam keharuaan. Mana kala jenazah bayi yang diberi nama Abigail Surya Atmadja memasuki liang lahat.


Abi, ayah ikhlas. Tuhan lebih menyayangimu, nak hingga memintamu pada kami secepat ini.


Arkana berusaha tegar, meski sudut matanya memanas, seakan tak mampu membendung bulir bening yang mendesak ingin keluar.


Di depan gundukan tanah merah kini, Arka berlutut. Menaburkan beberapa macam bunga dan tak henti mengucap doa.


Kondisi Anastasya yang masih begitu lemah, membuatnya harus tetap berbaring dan melewatkan proses pemakaman sang putra. Arka yakin jika kini kondisi Anastasya benar-benar dalam keadaan terpuruk. Setelah mampu melewati berbagai cobaan sebelum ini, apakah Anastasya masih bisa tegar jika menghadapi ujian hidupnya yang sebesar saat ini. Entahlah..


Beberapa hari kemudian Anastasya sudah kembali pulang ke kediaman Arka. Gurat wajah perempuan itu masih terlihat lelah, juga tampak murung dan terkesan irit bicara.


Arka dengan dibantu para pelayan begitu menjaga dan merawat Anastasya dengan baik. Berharap jika perempuan tersebut lekas pulih baik secara fisik dan mentalnya.


Serasa ada yang mengganjal pada perasaan Arka. Bukankah jika menijahi Anastaaya secara sah akan lebih baik. Lagi pula Anastasya juga sudah melahirkan. Meski tak pernah melakukan hubungan lebih dalam, namun terbesit kekhawatiran andaikata Anaatasya meminta haknya sebagai seorang istri, mengingat pria itu pun masih belum jujur mengenai alasan yang mendasarinya untuk menikahi Anastasya saat itu.


Ia menghargai Rangga, sebagai seorang sahabat, hingga rasanya tak sanggup untuk bisa menyentuh Anastasya dengan bebas. Akan tetapi Anastasya juga istrinya dan Arka pun adalah pria normal yang memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Terlebih dengan paras dan tubuh sempurna Anastasya. Bisa saja pria itu akan tergoda.


Brak.


Arka yang termenung di atas ranjang, terkesiap. Saat mendengar suara benda terjatuh dari kamar Anastasya. Tanpa ba bi bu, pria itu bergerak cepat menuju ke arah kamar yang terletak di samping kanan kamar pribadinya.


"Anaatasya, apa yang terjadi?" Arka setengah memekik, saat mendapati banyak darah di area telapak tangan Anastasya, sedangkan posisi perempuan itu tengah terduduk di lantai.


Anastasya terkesiap, tak menyangka jika Arka masuk ke kamarnya.


"A-aku, aku hanya.."


Arka mendekat. Menatap kesekeliling guna mencari kain apa saja yang mampu menutup luka dan menghentikan darah itu secepatnya.


"Aku hanya ingin minum, tetapi gelas yang kupegang terlepas, hingga.."


Berhasil. Arka melepas sarung bantal yang kemudian ia gunakan untuk membalut tangan Anastasya.

__ADS_1


"Pelayan," paling Arka dengan berteriak.


Beberapa pelayan tergopoh. Cukup terkejut begitu mendapati darah Anastasya yang tercecer di lantai.


"Hubungi dokter Bram dan katakan untuk cepat datang."


"Baik tuan."


Seorang pelayan sigap berlari keluar ruangan untyk lekas menghubungi Bram, sementara pelayan lain mengambil alih untuk memberi pertolongan pertama pada luka Anastasya.


💜💜💜💜💜


Arka tak habis fikir. Ia yakin jika gelas itu bukanlah tak segaja pecah, melainkan sengaja dipecah dan Anastasya gunakan untuk melukai diri.


Diam-Diam Arka memantau pergerakan Anastasya dari kamera pengintai yang terpasang di kamar gadis tersebut. Sehingga aktifitas apa pun yang Anastasya lakukan, Arka pasti melihatnya. Mulai dari menangis, tertawa, hingga berbagai upaya lain yang Anastasya lakukan, namun sayangnya untuk menghabisi nyawanya sendiri.


Arka tak tahan. Segera ia bertindak agar tak terlambat. Pria itu harus kembali menikahi Anastasya, namun secara sah.


💜💜💜💜💜


Suasana cukup khidmat. Anastasya mencium tangan Arka takzim, kemudian ia balas dengan satu kecupan lembut yang mendarat di kening.


Arka terlihat lega, begitu pun Anastasya yang terlihat lebih baik dari hari-hari sebelumnya.


Anastasya berharap, dengan pernikahan legalnya ini ia bisa membangun kehidupan berumah tangga yang lumrah bersama seirang Arka yang bertindak menjadi imamnya.


Semoga


Selepas kepergiaan Abigail, Anastasya coba menghapus segala bayang dan kenangan tentang Rangga dalam setiap memori yang tersimpan di benaknya. Ia ingin menatap masa depan di mana hanya ada ia dan Arka di dalamnya.


💜💜💜💜💜


Benarkah ini malam pertama?

__ADS_1


Detak jantung serasa berkejaran. Bahkan serasa sesak, padahal tak ada aktifitas berat yang ia lakukan selain duduk di bibir ranjang seraya mengusap rambut panjangnya yang masih setengah basah.


Anastasya terlihat cemas. Beberapa saat lalu ia baru saja selesai membersihkan diri. Memakai gaun malam berwarna hitam, kemudian duduk diam di bibir ranjang.


Lalu untuk apa gadis itu merasa cemas? Apakah ada seseorang yang ia tunggu? Tentu saja.


Pintu kamar terbuka perlahan. Anastasya sontak terperanjat. Merapikan rambut dan pakaiaan saat sadar jika Arka memasuki kamar.


"Kau belum tudur?" Ucap pria itu seraya berjalan mendekat.


Anastasya hanya menggelengkan kepala pelan. Entah kenapa malam ini terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya saat ia berada satu ruangan bersama Arka. Terlebih dengan pakaian yang pria itu gunakan kini. Kaos tipis yang membentuk otot tubuh dan celana santai semata kaki yang membuat pria itu terlihat lebih seksi.


Anaatasya menelan ludah. Ia terpesona, namun ia lekas membuang pandangan guna menetralisir debar di dada.


Pria itu berjalan kian dekat. Anastasya menjadi serba salah.


"Kenapa belum tidur? Kau pasti lelah." Lembut tutur kata. Anastasya seakan terhipnotis. Tatapan yang terkesan dingin, namun berbeda dengan tutur kata yang begitu lembut.


Arka kini ikut duduk di samping Anastasya.


"Iya, tapi aku sedang.." Suara Anastasya tercekat. Arka kini membimbing tubuhnya untuk merebahkan diri di atas ranjang.


"Sedang apa, hem?"


Lembut Arka mengusap puncak kepala Anastasya yang sudah berbaring terlentang.


"Menunggumu."


Pergerakan tangan Arka di puncak kepala Anastasya terhenti. Tubuh pria itu membeku. Arka pria dewasa yang pastinya faham akan Arti ucapan Anastasya. Hanya saja...


"Tidurlah, semoga mimpi indah."


Dalam beberapa detik Arka mengusap pipi sang istri kemudian beranjak pergi selepas mematikan lampu terang dengan lampu tidur.

__ADS_1


Dalam remang, hati Anastasya seakan tertampar. Tertampar oleh kenyataan yang lagi-lagi menghancurkan kepercayaan dirinya sebagai seorang perempuan sekaligus istri.


Arka kembali memasuki pintu rahasia. Kembali menghuni kamar pribadi, bahkan pada saat malam pertama mereka menyandang gelar suami istri dalam status pernikahan yang sah.


__ADS_2