
Perasaan Cinta dan ingin memiliki seutuhnya, begitu memuncah melingkupi hati seorang Rangga kala menatap Anastasya yang terbaring lelap di atas ranjang. Kekasihnya itu dalam kondisi setengah mabuk, hingga akhirnya tertidur dalam perjalanan menuju apartemen.
Pria berbadan tegap itu menghela nafas dalam. Pengaruh alkohol perlahan meleburkan tingkat kewarasannya. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam diri yang pada detik ini sulit dikendalika.
Rangga menepis fikiran mesum yang mulai memenuhi otak. Ia membuka jendela lebar apartemen, untuk menghirup udara segar dari sana. Ya setidaknya untuk mengurangi desakan nafsu yang mulai memenuhi diri.
Pria itu membuka beberapa kancing pakaian, begitu hawa panas merambat di permukaan tubuh. Kepalanya terasa pening. Dalam keadaan seperti ini, tak mungkin ia mengemudikan kuda besinya melintasi jalan raya. Terlebih dengan keadaan Anastasya kini, ia pun tak mungkin untuk meninggalkan kekasihnya di apartemen ini seorang diri.
Terdengar leguhan lirih, Rangga spontan mengeser pamdang kearah ranjang. Rupanya Anastasya menggeliat. Bergerak memasang posisi nyaman, sebelum kembali terlelap di atas ranjang.
Rangga kembali menghela nafas panjang. Meski tubuh Anastasya terbungkus dres berwarna coklat sebawah lutut, akan tetapi tubuh indahnya masih tertanggap jelas oleh indra penglihatan Rangga.
Pria itu mengusap wajah kasar. Sebelum melangkahkan kaki menuju ranjang.
"Sayang, kau begitu tau jika diriku ini tergila-gila padamu. Dan pada hari ini, rasanya aku tak mampu lagi untuk membendung gejolak rasa yang selama ini tertahan. Sayang, izinkan aku menyentuhmu. Tolong, jangan hentikan aku malam ini."
Anastasya yang tidur begitu lelap, tak mampu mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Rangga. Hanya dengkuran halus yang terdengar, membuat jiwa kelelakian Rangga kian bergejolak.
Rangga mulai menanggalkan kemeja pada tubuhnya yang beberapa kancingnya bahkan sudah terlepas. Tubuh kekar itu mulai merangkak keatas sementara pandangannya terjuju lekat kearah wajah cantik sang kekasih.
Kini, dengan jarak begitu dekat Rangga memindah setiap inci wajah Anastasya yang pada malam terlihat begitu cantik seperti hari biasanya.
__ADS_1
"Tasya," lirih Rangga seraya meraup bibir mungil Anastasya yang sedari tadi menggodanya.
"Eemm." Anastasya meleguh, namun dengan sepasang mata yang masih tertutup.
Rangga yang semula begitu lembut mencium Anastasya, kini mulai sedikit kasar menyesap benda kenyal nan begitu manis tersebut.
"Eemm." Anastasya kembali meleguh. Tubuhnya bergerak gelisah sementara kedua matanya mulai mengerjap.
Rangga yang sudah kehilangan akal itu mulai melepas dres yang membungkus tubuh sang kekasih. Begitu pun dengan dirinya, beberapa lembar pakaian yang masih dikenakan, ia tanggalkan begitu saja kemudian mengukung tubuh ramping Anastasya hingga gadis itu tak mampu meronta.
"Sa--, sayang," ucap Anastasya tergagap. Gadis itu menangkap bayangan sang kekasih yang kini sedang berada di atas tubuhnya. "Aw..," pekik gadis itu lagi saat rasa sakit juga sesak mulai merayah di bagian bawah perutnya.
Ada sensasi rasa yang belum pernah dirasakan keduanya. Rangga memacu keseluruhan permainan. Membiarkan Anastasya menikmati gelayar nikamat di bawah kendalinya.
Hawa dingin mulai terasa dingin menyentuh kulit. Anastasya mengerjap, tubuhnya serasa sesak dan remuk seakan tertimpa benda berat.
"Hoam." Gadis itu menguap. Mengusir rasa kantuk yang masih mendera.
Hah, apa ini?
Tubuh Anastasya menegang, begitu pun sepasang mata indahnya yang membulat sempurna.
Tangan gadis itu menyentuh sebuah lengan kekar yang memeluk pinggangnya posesif dari belakang. Spontan Anastasya menoleh kearah belakang.
__ADS_1
"Tidak!!" Anastasya berteriak histeris, terlebih saat mendapati dirinya juga Rangga dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.
Rangga terlonjak seketika begitu jeritan Anastasya bergema memenuhi kamar.
"Sa-sayang, ada apa?" Rangga yang diliputi keterkejutan itu memandang sekeliling. Hatinya hancur seketika kala mendapati tubuh sang kekasih yamg meringkuk di bawah ranjang sembari terisak dengan selimut melilit bagian tubuhnya .
"Sa-sayang, maaf. Aku bisa jelaskan semua." Rangga lantas menubruk tubuh kekasihnya itu. Mendekapnya erat meski Anastasya tak merespon sedikit pun.
"Apa yang sudah kita lakukan semalam?" Tatapan gadis itu datar. Seolah begitu menyirat kesedihan.
"Maaf, semalam aku tidak bisa mencegahnya lagi. Tubuh kita menyatu, dan dan.."
Anastasya kian terisak. Wajahnya tertunduk dalam. Apa yang akan terjadi pada hidupnya setelah ini.
Kini wajah-wajah kedua orang tuanya yang sudah tiada juga paman dan bibinya memenuhi isi kepala.
Kini, kegadisannya terenggut bahkan sebelum ijab kabul terlafalkan. Rangga menyentuhnya meski belum menikahinya. Ya tuhan, bagaimana ini?
Rangga mengusap air mata sang kekasih dengan kedua tangannya. Ia begitu mencintai Anastasya. Akan tetapi langkah yang sudah ia pilih kali ini salah. Anastasya sudah tak suci lagi akibat ulahnya. Sesal, ia sungguh menyesal. Terlebih melihat wajah menyedihkan Anastasya kini.
Akan tetapi, sesal pun tiada guna sebab semua terjadi atas keinginannya. Dalam hati pria itu berjanji, jika tetap akan berada di samping Anastasya selamanya. Coba mendapatkan restu dari kedua orang tua, walau bagaimana pun caranya.
Bersambung..
__ADS_1