
"Kau sudah siap?" Rangga mengamati penampilan Anastasya dari puncak kepala hingga kaki. Gadis itu terlihat menawan meski tubuhnya hanya berbalutkan gaun sederhana yang pria itu taksir memiliki harga yang cukup murah.
Akan tetapi, ditunjang bentuk tubuh juga pembawaan yang kalem, membuat Anastasya terlihat anggun bak kaum sosialita. Rupanya, profesi model yang mulai ia geluti, memiliki peran penting pada gaya berpenampilannya kini. Berubah modis, jauh dibandingkan beberapa saat lalu kala keduanya pertama bertemu.
"Sudah," jawab Anastasya lembut seraya mengulas senyum di bibir mungilnya yang terpoles lipstik berwarna nude.
"Ayo jalan." Keduanya menyusuri lorong apartemen dengan beriringan. Cukup lama mereka terdiam akibat rasa canggung.
Begitu sampai area parkir, Anastasya menatap kearah sekeliling.
"Tuan, apa kita hanya akan pergi berdua saja?" Sepertinya memang tak ada orang lain selain mereka berdua.
"Ya, kita memang hanya berdua." Rangga membuka pintu mobil untuk sang gadis. "Masuklah, kita harus lebih dulu sampai sebelum acara dimulai," sambung Rangga dengan posisi tangan masih menggengam pintu mobil.
Gadis itu pun mengangguk lantas memasuki mobil sesuai dengan keinginan Rangga.
Tak banyak pembicaraan yang terucap dari keduanya saat mobil yang dikemudikan Rangga mulai memecah kepadatan malam ibu kota. Jika Rangga bersikap biasa saja, namun lain halnya dengan Anastasya, gadis itu terlihat kurang nyaman. Terlebih saat mereka hanya berdua di dalam mobil yang sama.
Canggung juga takut. Begitu kiranya perasaan yang mewakili Anastasya kini.
Selang tiga puluh menempuh perjalanan, mobil yang dikemudikan Rangga memasuki area parkir sebuah gedung.
Gafis itu menautkan alis, sepertinya tengah berfikir.
"Tuan, bukankah kita hanya akan makan malam?"
Seketika pria di sampingnya mengulas senyum simpul.
"Kita turun saja. Maka kau akan tau jawaban dari pertanyaanmu itu." Tanpa sungkan Rangga membantu melepas sabuk pengaman yang melilit di pinggang Anastasya.
"Terimakasih, tuan," ucap Anastasya dengan wajah merona menahan malu.
"Ayo turun." Gadis itu mengangguk.
Rangga berjalan lebih dulu sementara Anastasya mengokor di belakang langkah pria bertubuh tegap itu kala menyusuri lobi gedung.
Saat mencapai lift raut wajah tegang Anastasya kian ketara. Sesekali ia memainkan kuku panjangnya, berusaha mengusir kegugupan dan itu semua tak luput dari pandangan Rangga.
"Kenapa? Santai saja. Kita hanya akan makan malam, bukan berperang. Kenapa wajahmu sudah terlihat sepucat itu?" Sudut bibir Rangga terangkat. Ia akui jika Anastasya cantik meski dalam mode apa pun.
******
Anastasya tertegun. Memandang kedepan juga kearah Rangga bergantian.
__ADS_1
Apa kita tidak salah tempat?
"Tuan, apa di tempat ini kita akan makan malam?" tanya Anastasya polos meski ia sendiri tak yakin dengan pertanyaan yang dilempar.
"Ya, di sinilah kita akan makan malam," jawab pria berjas navy itu dengan tenang. "Ayo, aku perkenalkan kau pada ibuku." Kini tangan Rangga mulai menyentuh tangan mungil Anastasya, bahkan menautkan jari jemarinya.
Gadis itu terkesiap. Akan tetapi tak berdaya menolak.
Entah mengapa ia terlihat begitu kerdil tatkala padangannya menyapu seluruh ruangan. Ini bahkan bukan makan malam biasa seperti yang sudah ia perkirakan sebelumnya.
Bukan sesuatu yang sederhana melainkan sebuah pesta dengan tamu dari golongan atas dengan penampilan memukan. Sementara dirinya?
Rangga membawa Anastasya kehadapan pasangan paruh baya yang berpenampilan menawan diusia mereka yang tak lagi muda.
"Ayah, ibu," sapa Rangga. "Perkenalkan, Anastasya. Dia salah satu pemenang agensi model kita." Pria itu kini menatap kearah gadis di sampingnya. "Tasya, perkenalkan, mereka kedua orang tuaku."
Cukup sungkan, Anastasya mengulurkan tangan dan bersalaman dengan pasangan terhormat itu.
Meski sedikit terkejut, namun kedua orang tua Rangga menyambut uluran tanggan Anastasya tanpa ragu.
"Saya Siska. Panggil saja tante Siska dan ini Om Sofyan. Kami orang tua Rangga. Senang bisa bertemu denganmu."
Anasyasya tersenyum ramah. Rangga memang benar-benar pria dari kalangan berada. Sementara dirinya?
"Tasya, apa kau lapar? Bagaimana jika kita makan lebih dulu?" tawar Rangga saat tau jika Anastasya kini lebih banyak dan dan terkesan kurang nyaman.
Gadis itu hanya mengangguk meng_iyakan. Saat keduanya hendak melangkah menuju meja prasmanan, seseorang mencegahnya.
"Rangga, sebentar. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu?" Sofyan berucap, yang mana membuat Rangga yang mulai menjauh, menghentikan langkah.
"Siapa?" tanya Rangga seraya berbalik badan.
"Ikuti ayah," pinta paruh baya dengan stelan jas berwarna gelap yang membungkus tubuh tegapnya.
"Tapi," jawab Rangga mengambang sementara tatapannya tertuju kearah Anastasya.
"Anastasya akan aman bersama ibu," sela Siska cepat.
"Baiklah." Pria tampan itu tersenyum kearah gadis yang ia bawa, dan melangkah kearah sang Ayah. Anastasya hanya mampu menatap nanar punggung lebar itu, saat mulai menjauhinya.
"Anastasya, ayo ikut tante." Dengan pembawaan tenang, Siska mulai membimbing langkah Anastasya. Entah kemana perempuan itu akan membawanya, gadis itu hanya bisa pasrah.
Siska menyapa satu persatu undangan. Anastasya sendiri tak tau pasti acara apa sebenarnya ini. Bukankah Rangga bilang jika hanya makan malam biasa. Tetapi nyatanya justru sebuah pesta yang diadakan di sebuah gedung dengan tamu-tamu terhormat.
__ADS_1
Anastasya mulai tak nyaman. Ia hanya mengikuti langkah Siska yang tanpa tujuan. Sampai pada sekelompok tamu yang tengah menikmati hidangan. Perempuan paruh baya uang masih terlihat cantik itu menghentikan langkah.
"Apa kabar jeng." Siska menjabat tangan juga mencium kedua pipi perempuan yang sepertinya seusia dengan dirinya.
"Baik jeng. Lama tak bertemu." tamu itu menyambut ramah ucapan jiga perlakuan Siska.
"Wah, ini Arka kan jeng? Semakin tampan Saya seperti Almarhum Mas Surya," puji Siska pada pria muda tampan yang sepertinya putra dari rekannya.
"Terimakasih tante." Pria dengan stelan jas abu-abu itu berucap sopan. Meski terkesan dingin, nyatanya pria muda itu sangat sopan saat bersikap.
"Jeng, siapa gadis ini?" Rekan Siska kini menujuk Anastasya yang terdiam di belakang punggung ibunda rangga tersebut.
"Dia Anastasya," jawabnya singkat tanpa embel-embel.
"Oo.."
"Ya sudah jeng, saya ingin menemui tamu yang lain. Permisi."
Lagi, Anastasya hanya mengekori langkah Siska meski tanpa diminta. Hingga tiba di sudut ruangan yang cukup sunyi, perempuan paruh baya itu menghentikan langkah.
"Apa hubunganmu sebenarnya dengan Rangga, putraku?" Kini, tanpa basa basi Siska melempar tanya.
Gadis polos yang sedari tadi hanya diam itu kini berfikir sejenak.
"Kami hanya teman Tante."
"Benarkah? Hanya itu?" Tersirat keragaun dari sorot mata Sikska.
"Benar, tidak lebih."
Seulas senyum tersunging di bibir Siska yang beberapa menit lalu sempat tak terlihat kala mengintrogasi gadis yang sedang bersamanya.
"Baguslah. Aku harap kau sadar diri, untuk tak berani menaruh hati sedikit pun pada putraku."
Deg
Anastasya terdiam. Dadanya seperti tengah dihunjam sesuatu yang tak kasat mata.
"Kau lihat itu?" Siska mengarahkan jari telunjuknya yang kini tertuju pada Rangga yang tengah berbicara pada beberapa gadis cantik ditemani sang Ayah.
"Mereka gadis cantik dan berkelas yang kelak lebih pantas bersanding dengan putra semata wayangku. Sedangkan dirimu?" Siska menatap sinis, memindai penampilan Anastasya dari ujung kepala hingga kaki. "Penampilanmu menunjukan siapa dirimu. Kau memang cantik, namun tetap kampungan," sambung Siska ketus.
Wajah gadis itu tertunduk dalam. Netranya merah seakan menahan tangis. Sementara Siska, selepas berucap, perempuan paruh baya itu berlalu saja meninggalkannya. Tak ada rasa iba, apalagi mengucap maaf. Anastasya faham, jika sang ibu dari Rangga memang tak menyukainya.
__ADS_1
Bersambung..